9/10/2018

MAKALAH Emfisema Mediastinum


BY SITI MUTIAH CC: FOR CREDIT
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada Survei Kesehatan Rumat Tangga (SKRT) 1986 emfisema menduduki peringkat ke-5 sebagai penyebab kesakitan terbanyak dari 10 penyebab kesakitan utama. SKRT DepKes RI menunjukkan angka kematian karena emfisema menduduki peringkat ke-6 dari 10 penyebab tersering kematian di Indonesia. Penyakit emfisema di Indonesia meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang menghisap rokok, dan pesatnya kemajuan industri.
Di negara-negara barat, ilmu pengetahuan dan industri telah maju dengan mencolok tetapi menimbulkan pula pencemaraan lingkungan dan polusi. Ditambah lagi dengan masalah merokok yang dapat menyebabklan penyakit bronkitis kronik dan emfisema.Di Amerika Serikat kurang lebih 2 juta orang menderita .Emfisema menduduki peringkat ke-9 diantara penyakit kronis yang dapat menimbulkan gangguan aktifitas. Emfisema terdapat pada 65% laki-laki dan 15% wanita.
Emfisema merupakan suatu perubahan anatomis paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronkus terminal, yang disertai kerusakan dinding alveolus. Rokok adalah penyebab utama timbulnya emfisema paru. Biasanya pada pasien perokok berumur 15-25 tahun. Pada umur 25-35 tahun mulai timbul perubahan pada saluran napas kecil dan fungsi paru. Umur 35-45 tahun timbul batuk yang produktif. Pada umur 45-55 tahun terjadi sesak napas, hipoksemia, dan perubahan spirometri.
Pada umur 55-60 tahun sudah ada kor-pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan napas dan meninggal dunia. Menurut dr. Pradjna Paramita, Sp. P dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara ini, “Emfisema adalah kelainan paru yang terletak di kantong udara. Jadi, udara di dalam paru-paru tidak bisa keluar dan masuk dengan semestinya,” katanya. Akibat udara dari dalam paru-paru tidak bisa keluar dan masuk maka kantong udara akan membesar akibat dari penumpukan udara di dalamnya.
B.   RUMUSAN MASALAH
1.      Apa Pengertian Dari Emfisema Mediastinum?
2.      Apa Etiologi Dari Emfisema Mediastinum?
3.      Apa Manifestasi Klinis Dari Emfisema Mediastinum?
4.      Bagaimana Patifisiologi Dari Emfisema Mediastinum?
5.      Apa Pemeriksaan Penunjang Dari Emfisema Mediastinum?
6.      Apa Penatalaksanaan Medis Dari Emfisema Mediastinum?
7.      Bagaimana Konsep Keperawatan Pada Emfisema Mediastinum?




C.  TUJUAN PENULISAN
1.    Untuk Mengetahui Pengertian Dari Emfisema Mediastinum
2.    Untuk Mengetahui Etiologi Dari Emfisema Mediastinum
3.    Untuk Mengetahui Manifestasi Klinis Dari Emfisema Mediastinum
4.    Untuk Mengetahui Bagaimana Patifisiologi Dari Emfisema Mediastinum
5.    Untuk Mengetahui Pemeriksaan Penunjang Dari Emfisema Mediastinum
6.    Untuk Mengetahui Penatalaksanaan Medis Dari Emfisema Mediastinum
7.    Untuk Mengetahui Bagaimana Konsep Keperawatan Pada F Emfisema Mediastinum











bab ii
tINJAUAN pUSTAKA

A. KONSEP  DASAR Emfisema Mediastinum

a. Pengertian 
 Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku, mengembang, dan terus- menerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi. Sering alveoli-alveoli ini bersatu menjadi satu alveoli yang lebih besar. Dengan demikian rongga dada tetap banyak berisi udara walaupun telah terjadi ekspirasi dan pertukaran udara akan terganggu. (Irianto, Koes: 2013)
Mediastinum merupakan rongga yang terletak diantara kedua paru. Mediastinum menghubungkan ruang submandibular, ruang retropharingeal dan berbagai pembuluh darah.
Sedangkan Emfisema mediastinum atau mediastinal emfisema  atau Pneumo Mediastinum merupakan suatu kondisi terdapatnya udara di dalam mediastinum.






b.  Etiologi

1.    Ruptur alveolus dengan diseksi udara ke dalam mediastinum akibat terlalu lama menahan nafas ( terjadi pada para penyelam, dan atlet angkat berat)
2.    Perforasi atau ruptur esophagus, trakea atau bronkus utama
3.    Diseksi udara dari leher atau abdomen ke dalam mediastinum


c. Patofisiologi
Penyebab terjadinya Emfisema mediastinum berasal dari intratoraks maupun ekstratoraks. Penyebab yang berasal dari intratoraks antara lain ruptur alveolar, laserasi cabang trakeobronkial, ruptur bleb, keadaan yang menyebabkan peningkatan tekanan intrapulmoner dan penyakit paru konstruktif, seperti asma, batuk yang keras, muntah-muntah. Penyebab pneumomediastinum yang berasal dari ekstratoraks antara lain berasal dari trauma wajah, cedera laring, tindakan trakeostomi, dari retroperitoneum (misalnya dari lubang divertikulum atau  ulkus duodenum), atau dari dinding dada (emfisema subkutis disekitar drain trakeostomi). Selain itu, pneumomediastinum juga dapat terjadi pada kasus trauma tusuk dan trauma tumpul yang menyebabkan sindrom kebocoran udara .
Emfisema mediastinum  oleh sebab traumatik akibat kaktivitas yang berlebih, hal ini mencerminkan kecenderungan aktivitas lebih  akan meningkatkan resiko terjadinya barotrauma, seperti menyelam atau sering melakukan pekerjaan yang menahan nafas Keadaan tersebut dapat menyebabkan Emfisema mediastinum Resiko bagi para penyelam akibat perubahan tekanan, yang terjadi Emfisema mediastinum spontan sebagai akibat dari baro-trauma. Dimana ruptur parsial jaringan alveolar menyebabkan udara keluar melaui perselubungan bronkovaskular menuju ke mediastinum (efek Macklin), leher maupun retroperitoneum
          Jalur udara ini tak hanya terjadi pada mediastinum, udara tersebut juga dapat menyebar ke jaringan lain dan menyebabkan pneumoperitoneum dan pneumoretroperitoneum jika berlanjut ke peritoneum, pneumoperikardium jika berlanjut ke perikardium, pneumotoraks jika udara tersebut ke kavum pleura dan emphysema subkutan, jika udara tersebut masuk kedalam subkutis.
. Disini dokter dan pelatih harus bekerja sama untuk memberikan petunjuk pada atletnya mengenai teknik pernapasan yang tepat selama melakukan olahraga seperti menyelam.


d.   Manifestasi klinik Fraktur
Gejala klinis yang biasanya menyertai pada pasien dengan Emfisema Mediastinum adalah nyeri dada akut (50-90%), dengan ciri khas nyeri retrosternal ringan-berat pada saat inspirasi dengan atau tanpa penjalaran ke leher dan lengan. Gejala lainnya adalah sesak nafas, demam (pada kasus infeksi), nyeri tenggorokan, batuk, disfagia, nyeri abdomen bagian atas dan muntah-muntah.
Gejala demam dan leukositosis tanpa adanya penyakit infeksi kadangkala ditemukan pada pasien Emfisema mediastinum, sehingga klinisi akan sulit membedakannya dari mediastinitis.
Pemeriksaan fisik pasien ditemui emfisema subkutis, yaitu adanya udara pada subkutis. Hamman sign merupakan tanda patognomik pneumomediastinum, berupa krepitasi pada prekardial fase sistol (cruching sound). Tanda ini terdengar jelas pada posisi dekubitus lateral kiri yang disertai melemahnya bunyi jantung.





      e.  Pemeriksaan Penunjang
1.    Radiologi :
Pemeriksaan foto toraks konvensional menjadi modalitas pencitraan utama untuk penegakan pneumomediastinum. Gambaran pneumomediastinum dengan pemeriksaan foto toraks meliputi spinnaker sail sign, pneumoprekardium, ring around the artery sign, continuous diaphragma sign, tubular artery sign, double bronchial wall sign, extrapleural sign, dan Naclerio’s V sign.
LAMPIRAN GAMBAR

GAMBAR 1
Anatomi toraks. a. Dinding toraks dibentuk oleh tulang kosta, sternum, clavikula, scapula dan columna vertebralis. Gambar b. Tampak mediastinum merupakan ruang yang berada di antara kedua paru-paru.







Gambar 2
Pembagian anatomis rongga mediastinum. Terbagi atas 4 ruang, Mediastinum Superior, Inferior (Anterior, Medius, dan Posterior)
Gambar 3
mekanisme.png
Mekanisme Emfisema mediastinum, tampak udara yang mengisi mediastinum berasal dari suatu proses ruptur alveolus. Mechanical Ventilation and Pulmonary Barotrauma in Thoracic Imaging Pulmonary and Cardiovascular Radiology. San Fransisco, California. 2003


Gambar 4
a. CXR neonatus menunjukkan  Spinnaker sign, tampak thymus dibatasi oleh udara pada mediastinum, lobus thymus bergeser ke arah lateral. Gambar b. Gambaran thymus neonatus normal.
Gambar 5
Radiografi toraks lateral menunjukkan udara yang mengelilingi pembuluh darah brachiosepalica (kepala panah hitam). Garis lusen terlihat juga di jaringan lunak prespinal (panah putih). Tampak juga gambaran ring around the artery sign (kepala panah putih).
Gambar 6
Gambar CXR menunjukkan pneumomediastinum membentuk gambaran Naclerio’s V sign (panah). Menggunakan bahan kontras Iopamidol tampak jelas extra pasase kontras.

f. Penatalaksanaan

Perawatan Medis.
Ventilasi mekanik
High- frequency oscillatory ventilation
Asynchronous independent lung ventilation
Nitrogen washout dengan inhalasi oksigen 100%.
Rujukan
Penanganan Intensif. Pasien- pasien dengan distress respirasi akut, peningkatan kebutuhan oksigen, sindrom kebocoran udara lain atau tanda- tanda kompensasi kardiovaskular perlu dirujuk ke unit penanganan intensif untuk penanganan dan monitoring lebih lanjut.
Penanganan Pediatri Superintensif. Apabila pasien mempunyai kompensasi atau kondisi serius yang berhubungan dengan pneumomediastinum ( contoh perforasi esofageal) dapat dirujuk ke unit penanganan superintensif.

B.   Konsep Dasar Keperawatan

1.    Pengkajian

                Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
               a.       Pengumpulan Data
1)       Anamnesa
                 a)      Identitas Klien
         Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b)      Keluhan Utama
         Pada umumnya keluhan utama pada kasus Emfisema adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
(1)      Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
(2)      Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
(3)      Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
(4)      Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan  skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
(5)      Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. (Ignatavicius, Donna D, 1995)
c)      Riwayat Penyakit Sekarang
                  Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari Penyakit yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien.

d)     Riwayat Penyakit Dahulu
                  Klien biasanya mempunayai riwayat merokok dan riwayat batuk kronis, Aktivitas berenang bertempat tinggal atau bekerja di area dengan polusi udara berat, adanya riwayat alergi pada keluarga adanya riwayat asma pada saat anak-anak.Perawat perlu mengkaji riwayat atau adanya faktor pencetus eksaserbasi yang meliputi alergen, stres emosional, peningkatan aktivitas fisik yang berlebihan , terpapar dengan polusi udara, serta infeksi saluran napas . perawat juga perlu mengkaji obat-obatan yang biasa diminum klien, memeriksa kembali setiap jenis obat apakah masih relevan untuk digunakan kembali.
e)      Riwayat Penyakit Keluarga
      Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit Paru merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya Emfisema Mediastinum
1.   Aktivitas/ Istirahat
Gejala :
1)   Keletihan, kelelahan, malaise.
2)   Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari- hari karena sulit bernapas.
3)   Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi.   Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan.
Tanda :         
1)     Keletihan.
2)     Gelisah, insomnia.
3)      Kelemahan umum/ kehilangan masa otot.
2.   Sirkulasi
Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda :   
1)     Peningkatan TD.
2)     Peningkatan frekuensi jantung/ takikkardia berat, disritmia.
3)     Distensi vena leher ( penyakit berat ).
4)     Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung.
5)     Bunyi jantung redup ( yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada ).
6)     Warna kulit/ mebran mukosa : normal atau abu- abu/ sianosis ; kuku tabuh dan sianosis perifer.
7)     Pucat dapat menunjukkan anemia.
3.   Integritas Ego
Gejala :  
1)   Peningkatan faktor resiko.
2)   Perubahan pola hidup.
Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang.
4.   Makanan / Cairan
Gejala :
1)   Mual/ muntah.
2)   Nafsu makan buruk/ anoreksia.
3)   Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan.
4)   Penurunan berat badan menetap.
Tanda :
1)   Turgor kulit buruk.
2)   Edema dependen.
3)   Berkeringat.
4)   Penurunan berat badan, penurunan massa otot/ lemak subkutan.
5.   Higiene
Gejala :  
1)   Penurunan kemampuan/ peningkatan kebutuhan
2)   Bantuan melakukan aktivitas sehari- hari.
Tanda : Kebersihan buruk, bau badan.
6.   Pernapasan
Gejala :
1)   Napas pendek
2)   Episode batuk hilang – timbul, biasanya tidak produktif  pada tahap dini meskipun dapat menjadi produktif.
3)   Riwayat pneumonia berulang, terpajan polusi kimia/ iritan pernapasan dalam jangka panjang (misal rokok sigaret) atau debu / asap (misal Asbes, debu batubara, rami katun, serbuk gergaji).
4)   Factor keluarga dan keturunan, mis., defisiensi alfa –antitripsin.
5)   Penggunaan oksigen pada malam hari.
Tanda :  
1)   Pernapasan : biasanya cepat, dapat lambat.
2)   Fase ekspirasi memanjang dengan mendengkur, napas bibir.
3)   Penggunaan otot bantu pernapasan misal, meninggikan bahu, retraksi fosa supraklafikula, melebarkan hidung.
4)   Dada : dapat terlihat hiperinflasi dengan peninggian diameter AP ( bentuk – barrel); gerakan diafragma minimal.
5)   Bunyi napas : mungkin redup dengan ekspirasi mengi.
6)   Perkusi : hiperesonan pada area paru ( misal jebakan udara dengan emfisema ); bunyi pekak pada area paru ( misal konsolidasi, cairan, mukosa ).
7)   Kesulitan bicara kalimat atau lebih dari 4 atau 5 kata sekaligus.
8)   Warna :  “pink puffer” karena warna kulit normal meskipun pertukaran gas tak normal dan frekuensi pernapasan cepat.
9)   Tabuh pada jari- jari.


7.   Keamanan
Gejala :
1)     Riwayat reaksi alerhi atau sensitive terhadap zat/ faktor lingkungan.
2)     Ada / berulangnya infeksi.
8.   Seksualitas
Gejala : Penurunan libido.
9.   Interaksi Sosial
Gejala :
1)     Hubungan ketergantungan.
2)     Kurang sistem pendukung.
3)     Kegagalan dukungan dari/ terhadap pasangan/ orang terdekat.
4)     Penyakit lama atau ketidakmampuan membaik.
Tanda :
1)     Ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara ketika distress pernapasan.
2)     Keterbatasan mobilitas fisik.
3)     Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.
10.     Penyuluhan/ Pembelajaran
Gejala :
1)     Penggunaan/ penyalahgunaan obat pernapasan.
2)     Kesulitan menghentikan merokok.
3)     Penggunaan alcohol secara teratur.
4)     Kegagalan untuk membaik.

b. Diagnosa keperawatan.

1.   Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan tertahannya sekret.
2.   Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen.
3.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual / muntah.
                                                                                                  













                                                            DAFTAR  PUSTAKA


Doenges, M.E., Marry, F..M  and  Alice, C.G., 2000. Rencana  Asuhan  Keperawatan :  Pedoman  Untuk  Perencanaan  Dan  Pendokumentasian  Perawatan  Pasien. Jakarta, Penerbit  Buku  Kedokteran  EGC.




No comments:

Post a Comment

jangan komen yang aneh-aneh