9/10/2018

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN MASTITIS


 BY SITI MUTIAH CC: FOR CREDIT
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
       Mastitis adalah infeksi peradangan pada mamma, terutama pada primipara yang biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus, infeksi terjadi melalui luka pada putting susu, tetapi mungkin juga mungkin juga melalui peredaran darah (Prawirohadjo, 2005)
Mastitis adalah infeksi payudara. Meskipun dapat terjadi pada setiap wanita, mastitis semata-mata merupakan komplikasi pada wanita menyusui. Mastitis harus dibedakan dari peningkatan suhu transien dan nyeri payudara akibat pembesaran awal karena air susu masuk kedalam payudara. Mastitis terjadi akibat invasi jaringan payudara (glandular, jaringan ikat, aerolar, lemak) oleh organism infeksius atau adanya cedera payudara. Organisme yang umum termasuk S. Aureus, Strepcococus dan H. Influenzae. Cedera payudara mungkin disebabkan memar karena manipulasi yang kasar, pembesaran payudara, stasis air susu ibu dalam duktus, atau pecahnya atau fisura putting susu. Bakteri dapat berasal dari beberapa sumber yaitu tangan ibu, tangan orang yang merawat ibu atau bayi, bayi, duktus lactiferous, darah sirkulasi.
B.   RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari Mastitis?
2.      Apa etiologi dari Mastitis?
3.      Apa Manifestasi klinis dari Mastitis?
4.      Bagaimana Patifisiologi dari Mastitis?
5.      Apa Penatalaksanaan medis dari Mastitis?
6.      Bagaimana Konsep keperawatan pada Mastitis?
C.  TUJUAN PENULISAN
1.    Untuk mengetahui pengertian dari Mastitis.
2.    Untuk mengetahui etiologi dari Mastitis.
3.    Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Mastitis.
4.    Untuk mengetahui bagaimana patifisiologi dari Mastitis.
5.    Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari Mastitis.
6.    Untuk mengetahui penatalaksanaan medis dari Mastitis.
7.    Untuk mengetahui bagaimana Konsep keperawatan pada Mastitis.



















bab ii
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP  DASAR MASTITIS

a. Pengertian 
        Mastitis adalah infeksi peradangan pada mammae, terutama pada primipara yang biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus, infeksi terjadi melalui luka pada putting susu, tetapi mungkin juga mungkin juga melalui peredaran darah (Prawirohadjo, 2005 : 701).

                    Mastitis adalah reaksi sistematik seperti demam, terjadi 1-3 minggu setelah melahirkan sebagai komplikasi sumbatan saluran air susu (Masjoer, 2001 : 324). Pada kasus mastitis ini biasanya tidak segera ditangani, jika mastitis tidak segera ditangani menyebabkan abses payudara yang biasa pecah kepermukaan kulit dan akan menimbulkan borok yang besar.

                    Pada mastitis biasanya yang selalu dikeluhkan adalah payudara membesar, keras, nyeri, kulit murah dan membisul (abses) dan yang pada akhirnya pecah menjadi borok disertai dengan keluarnya nanah bercampur air susu, dapat disertai dengan suhu badan naik, menggigil. Jika sudah ditemukan tanda-tanda seperti ini maka pemberian ASI pada bayi jangan dihentikan, tetapi sesering mungkin diberikan.
Stress dan keletihan telah dikaitkan dengan mastitis. Hal ini masuk akal karena stress dan keletihan dapat menyeabkan kecerobohan dalm teknik penanganan, terutama saat mencuci tangan, atau melewatkan waktu menyusui, atau merubah frekuensi menyusui, yang dapat menyebabkan pembesaran dan stasis (Varney, 2008)

b.  Etiologi

Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau menyebabkan infeksi.

1. Statis ASI
     Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak mengisap ASI, kenyutan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif, pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih.

2. Infeksi
Organismen yang paling sering ditemukan pada mastitis dan abses payudara adalah organisme koagulase-positif Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus. Escherichia coli dan Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid.





            c. Patofisiologi
        Pada awalnya bermula dari kuman penyebab mastitis yaitu puting susu yang luka atau lecet dan kuman tersebut berkelanjutan menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus sehingga mengakibatkan radang pada mamae. Radang duktulus-duktulus menjadi edematus dan akibatnya air susu tersebut terbendung.
Mastitis adalah suatu inflamasi atau infeksi jaringan payudara dan terjadi paling umum. Pada payudara wanita yang menyusui, meskipun hal ini dapat terjadi pada wanita yang tidak menyusui. lnfeksi dapat terjadi akibat perpindahan mikroorganisme ke payudara oleh tangan pasien atau tangan pemberi perawatan atau dan bayi menyusui yang mengalarni infeksi oral, mata atau kulit. Mastitis dapat juga disebabkan oleh organisme yang ditularkan melalui darah. Sejalan berkembangnya inflamasi, terjadi infeksi pada duktus, sehingga menyebabkan stagnasi ASI pada satu lobus atau lebih. Tekstur payudara menjadi keras atau memadat, dan pasien mengeluarkan nyeri pekak pada reglo yang terkena. Puting susu yang mengeluarkan rabas material purulen, serum atau darah harus diperiksakan.

d.   Manifestasi klinik Hepatitis
1.    Payudara yang terbendung membesar, membengkak, keras dan dangat nyeri.
2.    Payudara dapat terlihat merah, mengkilat dan puting teregang menjadi rata.
3.    ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI sampai pembengkakan berkurang.
4.    Ibu akan tampak seperti sedang mengalami flu, dengan gejala demam, rasa dingin dan tubuh terasa pegal dan sakit.

e. Penatalaksanaan

1.    Payudara dikompres dengan air hangat
2.    Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan pengobatan analgetika
3.    Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika
4.    Bayi mulai menyusu dari payudara yang mengalami peradangan
5.    Anjurkan ibu selalu menyusui bayinya
6.    Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan istirahat cukup
7.    Berikan paracetamol 500 mg dengan dosis 3x sehari
8.    Evaluasi setelah 3 hari.
Untuk menangani mastitis diantaranya dilakukan dengan cara:
  1. Melanjutkan menyusui.
  2. Berikan kompres hangat pada area yang sakit.
  3. Tirah Baring bersama bayi sebanyak mungkin.
  4. Jika bersifat infeksius, barikan analgesik non narkotik, antipretik (ibu profen, setaminofen) untuk mengurangi demam dan nyeri.
  5. Pantau suhu tubuh akan adanya demam.
Cara mengurangi efek mastitis untuk memperpendek durasi mastitis, diantaranya adalah:
  1. Segeralah tidur bila menduga adanya mastitis dan istirahatlah dengan benar.
  2. Konsumsi echinacea dan vitamin C untuk meningkatkan sistem imun dan membantu melawan infeksi.
  3. Kompres daerah yang mengalami sembatan duktus dengan air hangat.
  4. Bantuan pancuran air hangat (shower hangat) untuk mandi, akan sangat membantu mempercepat menghilangkan sumbatan.
  5. Tetap berikan ASI kepada bayi, terutama gunakan payudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama kelamaan menghilang.
  6. Lakukan pemijatan ringan saat menyusui juga sangat membantu.
Jika disebabkan o!eh bakteri, maka pengobatan yang tepat dengan pemberian antibotika. Mintalah pada dokter antibiotika yang baik dan aman untuk ibu yang sedang menyusui. Selain itu, bila badan terasa panas, ibu dapat meminum obat penurun panas. Kemudian untuk bagian payudara yang terasa keras dan nyeri, dapat dikompres dengan menggunakan air dingin untuk mengurangi rasa nyeri.
Bila tidak tahan nyeri, dapat meminum obat penghilang rasa sakit. Istirahat yang cukup amat diper!ukan agar kondisi tubuh ibu kemba!i sehat dan segar. Makan-makanan yang bergizi tinggi sangatlah dianjurkan. Minum banyak air putih juga akan membantu menurunkan demam. Biasanya rasa demam dan nyeri itu akan hilang dalam 2 atau 3 han dan anda akan mampu beraktifitas seperti semula.

 






                                                DAFTAR  PUSTAKA


Doenges, M.E., Marry, F..M  and  Alice, C.G., 2000. Rencana  Asuhan  Keperawatan :  Pedoman  Untuk  Perencanaan  Dan  Pendokumentasian  Perawatan  Pasien. Jakarta, Penerbit  Buku  Kedokteran  EGC.





No comments:

Post a Comment

jangan komen yang aneh-aneh