9/10/2018

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)


BY SITI MUTIAH CC: FOR CREDIT
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola eliminasi manusia, diantaranya adalah infeksi saluran kemih.Infeksi saluran kemih terjadi karena  adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Untuk menegakkan diagnosis ISK harus ditemukan bakteri dalam urin melalui biakan atau kultur (Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001) dengan jumlah signifikan (Prodjosudjadi, 2003). Tingkat signifikansi jumlah bakteri dalam urin lebih besar dari 100/ml urin. Agen infeksi yang paling sering adalah Eschericia coli, Proteus sp, Klebsiella sp, Serratia, Pseudomonas sp. Penyebab utama ISK (sekitar 85%) adalah Eschericia coli (Coyle & Prince, 2005).
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 40 – 60 tahun mempunyai angka prevalensi 3,2 %. Sedangkan pada usia sama atau diatas 65 tahun kira-kira mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20%. Infeksi saluran kemih dapat mengenai laki-laki maupun wanita dari semua umur baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia.
Akan tetapi dari kedua jenis kelamin, ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum kurang  lebih 5-15%. Hal ini disebabkan karena saluran kemih wanita lebih pendek, sehingga bakteri lebih mudah mencapai kandung kemih. Uretra atau saluran kemih pada wanita yang meneruskan urine dari kandung kemih ke bagian luar tubuh terletak dekat dengan anus. Membilas dengan cara yang salah dari belakang ke depan mengakibatkan bakteri dari usus besar, seperti E.coli, dapat keluar dari anus dan masuk ke saluran kencing. Bakteri ini kemudian menginfeksi kandung kemih yang jika tidak segera diobati juga dapat menginfeksi ginjal.
Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri dalam urin. Bakteriuria yang disertai dengan gejala saluran kemih disebut bakteriuria simptomatis. Sedangkan yang tanpa gejala disebut bakteriuria asimptomatis. Dikatakan bakteriuria positif pada pasien asimptomatis bila terdapat lebih dari 105 koloni bakteri dalam sampel urin midstream, sedangkan pada pasien simptomatis bisa terdapat jumlah koloni lebih rendah.
Prevalensi ISK yang tinggi pada usia lanjut antara lain disebabkan karena sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosongan kandung kemih kurang efektif, mobilitis menurun, pada usia lanjut nutrisi sering kurang baik, sistem imunitas menurun. Baik seluler maupun hormonal, adanya hambatan pada aliran urin, hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dapt ditarik adalah ‘Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Ny.R Dengan ISK di Ruang Interna Wanita RSUD

C.   Tujuan Penulisan
  1. Tujuan Umum
Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada Ny.R dengan ISK di ruang interna wanita RSUD
  1. Tujuan Khusus
a.    Mahasiswa dapat melakukan pengkajian pada Ny.R  dengan infeksi saluran kemih.
b.    Mahasiswa dapat merumuskan diagnosa pada Ny.R dengan infeksi saluran kemih.
c.    Mahasiswa dapat menetukan intervensi keparawatan pada Ny.R dengan infeksi saluran kemih.
d.    Mahasiswa dapat melakukan tindakan keperawatan pada Ny.R dengan infeksi saluran kemih.
e.    Mahasiswa dapat melakukn evaluasi keperawatan pada Ny.R dengan infeksi saluran kemih.
f.     Mahasiswa dapat melakukan dokumentasi pada “Ny.R” dengan infeksi saluran kemih.

D.   Manfaat Penulisan
  1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis diharapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi pembaca khususnya mahasiswa jurusan keperawatan.
  1. Manfaat Praktis
Hasil makalah ini dapat memberikan sumbangan dan masukan mengenai Asuhan Keperawatan Perkemihan Infeksi Saluran Kemih.
















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.   Konsep Dasar Infeksi Saluran Kemih (ISK)
1.    Pengertian
Infeksi saluran kemih sama dengan sistitis adalah inflamasi akut pada mukosa kandung kemih akibat infeksi oleh bakteri yang disebabkan oleh penyebaran infeksi dari bakteri (M. Clevo Rendy, Margareth TH, 2012 hal. 217).
Infeksi saluran kemih merupakan reaksi inflamasi sel–sel urotelium melapisi saluran kemih (Sibuea, W. Heidin, 2005 hal. 16).
Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001 hal. 112).

2.    Klasifikasi
Menurut M. Clevo Rendy dan Margareth TH ( 2012, hal 220), jenis infeksi kandung kemih dapat diklasifikasikan berdasarkan letak peradangan yaitu:
a.    Kandung kemih (sistitis)
b.    Uretra (uretritis)
c.    Prostat (prostatitis)
d.    Ginjal (pielonefritis)
Infeksi saluran kemih  pada usia lanjut dibedakan menjadi (Engram, Barbara 1998) :
a.    Infeksi saluran kemih Uncomplicated ( simple )
Infeksi saluran kemih sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing baik, anatomik maupun fungsional normal. Infeksi saluran kemih  ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.

b.    Infeksi saluran kemih Complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika , sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. Infeksi saluran kemih ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan  sebagai berikut :
1)    Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kemih menetap dan prostatitis.
2)    Kelainan faal ginjal : gagal ginjal akut maupun gagal ginjal kronik.
3)    Gangguan daya tahan tubuh.
4)    Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen seperti prosteus yang memproduksi urease.

3.    Anatomi dan Fisiologi


Gambar 1.1 : Anaotomi Sistem Perkemihan
Saluran perkemihan terdiri dari ginjal, ureter, vesika urinaria dan urethra. Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang dan terletak di kedua sisi kolumna vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibanding ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hati katup terletak di kosta ke-12, sedangkan ginjal kiri terletak setinggi kosta ke-11. Berat Ginjal + 125 gram.
Ureter merupakan saluran yang menghubungkan ginjal dengan vesika urinaria, panjang ureter 10 – 12 inci, berfungsi sebagai penyalur urine ke vesika urinaria. Kandung kemih adalah suatu organ yang berongga yang terletak di sebelah anterior tepat di belakang os pubis, yang tersusun dari otot polos, yang berkontraksi dan berfungsi sebagai tempat penampungan urine sementara dan menyalurkan urine ke uretra. Uretra merupakan saluran kecil yang dapat mengembang dan berjalan dari kandung kemih keluar tubuh. Panjang uretra pada wanita 1,5 inci dan pada pria 8 inci.
Fungsi- fungsi utama dari ginjal adalah :
a.    Ultra filtrasi : Menyaring darah dan bahan-bahan yang terlarut serta membuang cairan yang sudah tidak dibutuhkan oleh tubuh.
b.    Pengendalian cairan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
c.    Keseimbangan asam basa : Mempertahankan derajat asam dan basa dengan mensekresi ion H dan pembentukan Bicarbonat sebagai Buffer.
d.    Mengatur tekanan darah dengan mengendalikan volume sirkulasi dan sekresi urine.
e.    Mengatur metabolisme dengan mengaktifkan vitamin D yang diatur oleh kalsium fosfat ginjal.
f.     Memproduksi eritrosit : eritropoetin yang disekresikan oleh ginjal dan merangsang sumsum tulang agar membuat sel-sel eritrosit.
g.    Ekskresi produk sisa : Membuang langsung produk metabolisme yang terdapat pada filtrasi glomerulus.

Pembentukan Urine
Nefron merupakan unit fungsional dari ginjal, yang merupakan awal  pembentuk urine. Ginjal ini tersusun + 1 juta nefron yang terdiri dari sebuah glomerulus dan sebuah tubulus. Dinding kapiler glomerulus tersusun oleh sel-sel endotel dan membran basalis, Glomerulus membentang dan membentuk tubulus yang terdiri atas 3 bagian yaitu:
a)    Tubulus proximal
Dalam keadaan normal, + 20 % dari plasma melewati glomerulus akan disaring ke dalam nefron dengan jumlah 80 liter per hari yang terdiri dari filtrat yaitu : air, elektrolit dan molekul kecil lainnya masuk  ke dalam tubulus proximal di proses hingga 60 % dan filtrat tersebut di serap kembali ke dalam darah, kecuali glukosa 100 % di serap yang disebut dengan  “Reabsorbsi Obligat” (mutlak).
b)    Ansa henle
Cairan dari tubulus proximal masuk ke Ansa henle. Ketika cairan turun ke ansa henle desenden, ada transportasi aktif ureum yang menyebabkan kepekatan meningkat, ketika naik lewat ansa henle asenden ada transportasi aktif H2O (dikeluarkan)
c)    Tubulus Distal
Di dalam tubulus ini terjadi 3 proses yaitu :
·         Reabsorbsi air oleh anti diuretik hormone
Bila tubuh kekurangan air maka otak akan membuat banyak anti diuretic hormon sehingga penyerapan di distal banyak juga dan urine menjadi sedikit. Begitu sebaliknya bila air berlebih jumlah anti diuretik hormon sedikit dan filtrat dapat lolos yang akhirnya jadi urine banyak.
·         Bekerjanya anti diuretik hormone
Anti diuretik hormon dapat juga dikeluarkan oleh korteks anak ginjal untuk melakukan transportasi aktif yaitu mengeluarkan kalsium dan menarik natrium.
·         Sekresi zat-zat sisa metabolime dan zat racun tubuh.
d)    Ductus Kolligentes
Merupakan tubulus penampung setelah tubulus distal. Di sini masih terjadi proses reabsorbsi air oleh anti diuretik hormon. Bila cairan sudah melewati ductus kolligentes  maka disebut dengan “urine” yang dilanjutkan ke kalix minor menuju kalix mayor dan melewati pelvis ginjal mengalirkan urine ke ureter menuju ke vesika urinaria dengan gerakan peristaltik yang membuka sfingter ureter, kemudian urine masuk ke dalam vesika urinaria, sebagai tempat penampungan sementara.

e)    Vesika Urinaria
Suatu kantong berotot yang disebut musculus Detrusor, yang terisi sedikit demi sedikit urine, mulai dari volume 0 – 100 cc, tekanan kandung kemih sedikit bertambah. Dari volume 100 – 400 cc tekanan kandung kemih tidak berubah, karena Musculus Detrusor  mengembang mengikuti jumlah air kemih lewat 400 cc ke atas tekanan meningkat dan meregangkan Musculus Detrusor.
Regangan ini mengirim impuls afferent ke medula spinalis lumbal dan sacral dengan susunan saraf pusat. Dari lumbal sacral keluar impuls efferent ke Musculus Detrusor (mengerut). Merangsang pembukaan sfingter urethra internal untuk membuka sehingga timbul keinginan untuk BAK, dengan mengalirkan urine keluar tubuh melalui sfingter urethra eksterna.
Komposisi urine
Urine yang normal biasanya berwarna jernih sampai dengan kuning muda, tidak terdapat glukosa, eritrosit, leukosit dan trombosit serta protein. Bau sedikit pesing, berat jenis 1010 – 1030. Urine terdiri dari : Air, elektrolit, zat asam sisa metabolisme.

4.    Etiologi
a.    Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:
1)    Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
2)    Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
3)    Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.
b.    Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:
1)    Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif
2)    Mobilitas menurun
3)    Nutrisi yang sering kurang baik
4)    Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
5)    Adanya hambatan pada aliran urin
6)    Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat













5.    Patofisiologi


 
·         Akumulasi etiologi dan faktor
resiko (infeksi mikroorganisme,              Makanan terkontaminasi            Jaringan parut Štotal
penggunaan steroid dalam jangka,         mikroorganisme masuk              tersumbat
panjang, usia lanjut, anomaly                 lewat mulut
saluran kemih, cidera uretra,                                                                  Obstruksi saluran kemih
riwayat ISK).                                         HCL (lambung)                          yang bermuara ke
                                                                                                            vesika urinarius


 
Hidup                                                   Tidak hidup


 
Usus terutama pleg player                     Resiko Infeksi                          Peningkatan tekanan VU








 
Kuman mengeluarkan
Endotoksin                                                 Mati                                    Penebalan dinding VU


 
Bakteremia primer                                    Difagosit                                $ kontraksi otot VU

Tidak difagosit                                      Procesia pada kulit dan              Kesulitan berkemih
                                                                 tidak hipertermi

Bakteremia sekunder                             Pembuluh darah kapiler             Retensi urine
 



Hipotalamus                                                       Ureter                          Reinteraksi abdominal










 
Menekan termoreguler                                  Iritasi ureteral                             Obstruksi













 
Hipertermi                                                         Oliguria                              Mual, muntah








 
Peradangan                                          Gangguan eliminasi                Kekurangan volume
                                                                          Urine                                      cairan

Peningkatan                                             Depresi saraf perifer
frekuensi / dorongan
kontraksi uretral                                    
              Nyeri


Gambar 1.2 : Penyimpangan KDM Infeksi Saluran Kemih
                   Sumber : Nurarif, A. Huda.2015. Aplikasi Keperawatan Berdasarkan                                
                                    Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC




Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara asending yaitu:
-        Masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.
-        Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal
Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada  pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain.
Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya:
-        Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif.
-        Mobilitas menurun
-        Nutrisi yang sering kurang baik
-        System imunnitas yng menurun
-        Adanya hambatan pada saluran urin
-        Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.
Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius.
Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.

6.    Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis):
-        Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
-        Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis
-        Hematuria
-        Nyeri punggung dapat terjadi
Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis)
-        Demam
-        Menggigil
-        Nyeri panggul dan pinggang
-        Nyeri ketika berkemih
-        Malaise
-        Pusing
-        Mual dan muntah


7.    Pemeriksaan Penunjang
a.    Urinalisis
·         Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih.
·         Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
b.    Bakteriologis
·         Mikroskopis : Pada pemeriksaan mikroskopik dapat digunakan urin segar tanpa diputar pewarnaan gram. Bakteri poitif bila dijumpai satu bakteri lapang pandang minyak emersi.
·         Biakan bakteri : Pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu bila ditemukan dalam jumlah bermakna.
c.    Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
d.    Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
e.    Metode tes
·         Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif  jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.



·         Tes Penyakit Menular Seksual (PMS):
Uretritis akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).
·         Tes- tes tambahan:
Intravenous pyelogram (IVP) adalah suatu metode pemeriksaan yang dilakukan untuk bisa mengetahui adanya suatu gangguan di sistem saluran kemih dengan menggunakan X-ray.
Pemeriksaan USG : Pemeriksaan ini dilakukan untuk bisa mengetahui adanya suatu gangguan di kandung kemih serta ginjal dengan cara menggunakan gelombang ultrasound.
Sitoskopi : Metode pemeriksaan yang dilakukan untuk bisa mengetahui adanya suatu masalah yang terjadi di kandung kemih dan mungkin menjadi penyebab infeksi saluran kemih atas dengan cara memasukkan selang kecil yang sudah dilengkapi dengan kamera.

8.    Penatalaksanaan
Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina.
Terapi  Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas:
·         Terapi antibiotika dosis tunggal
·         Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari
·         Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu
·         Terapi dosis  rendah untuk supresi
Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, factor kausatif (mis: batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah.
Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.
Pemakaian  obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkinan adanya:
·         Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan
·         Interansi obat
·         Efek samping obat
·         Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal
Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal:
    • Efek nefrotosik obat
    • Efek toksisitas obat











B.   Konsep Dasar Keperawatan
1.    Pengkajian
a.    Identitas Pasien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, bangsa, pekerjaan, pendidikan, status perkawinan, alamat, tanggal masuk rumah sakit.
b.    Riwayat Kesehatan
1)       Keluhan Utama
Merupakan riwayat kesehatan klien saat ini yang meliputi keluhan pasien, biasanya jika klien mengalami ISK bagian bawah keluhan klien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit- sedikit serta rasa sakit tidak enak di suprapubik. Dan biasanya jika klien mengalami ISK bagian atas keluhan klien biasanya sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak atau nyeri pinggang.

2)      Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan riwayat kesehatan klien saat ini yang meliputi keluhan pasien, biasanya jika klien mengalami ISK bagian bawah keluhan klien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra sewaktu kencing dengan air kemih sedikit- sedikit serta rasa sakit tidak enak di suprapubik. Dan biasanya jika klien mengalami ISK bagian atas keluhan klien biasanya sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam, menggigil, rasa tidak enak atau nyeri pinggang.

3)      Riwayat Kesehatan Dahulu
Pada pengkajian biasanya ditemukan kemungkinan penyebab infeksi salurankemih dan memberi petunjuk berapa lama infeksi sudah di alami klien. Biasanya klien dengan ISKpada waktu dulu pernah mengalami penyankit infeksi saluran kemih sebelumnya atau penyakitginjal polikistik atau batu saluran kemih, atau memiliki riwayatpenyakit DM dan pemakaian obat analgetik atau estrogen, atau pernah di rawat di rumah sakit dengan dipasangkan kateter.

4)      Riwayat Kesehatan Keluarga
Merupakan riwayat kesehatan keluarga yangbiasanya dapat meperburuk keadaan klien akibat adanya gen yang membawa penyakit turunan seperti DM,hipertensi dll. ISK bukanlah penyakit turunan karena penyakit ini lebih disebabkan dari anatomi reproduksi, higiene seseorang dan gaya hidup seseorang, namun jika ada penyakit turunan di curigai dapat memperburuk atau memperparah keadan klien.
c.    Pemeriksaan Fisik (ROS)
1)       B1 (Breathing)
Bila tidak melibatkan infeksi sistemik, pola napas dan jalan napas dalam kondisi efektif walau secara frekuensi mengalami peningkatan.
2)       B2 (Blood)
Bila tidakmelibatkan respon sistemik, status kardiovaskuler tidak mengalamiperubahan walau secara frekuensi denyut jantung mengalami peningkatan. Perfusi perifer dalam batas normal, akral hangat, akral hangat.
3)       B3 (Brain)
Pada wajah biasanya tidak didapatkan adanya perubahan konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, mukosa mulut tidak mengalami peradangan. Status neurologis tidak mengalami perubahan, tingkat kesadaran dalam batas normal dimana orientasi (tempat, waktu, orang) baik.
4)       B4 (Bladder)
a)      Inspeksi : tidak ada pembesaran pada suprapubis, tidak ada kelaianan pada genitalia eksterna. Didapatkan disuria, pada pielonefritis yang mengenai kedua ginjal sering didapatkan penurunan urine output karena terjadi penurunan dari fungsi ginjal.
b)      Palpasi : sering didapatkan nyeri tekan suprapubis (+). Pada palpasi area kostovertebra sering didapatkan adanya perasaan tidak nyaman dan mungkin didapatkan adanya massa dari pembesaran ginjal akibat infiltrasi interstisial sel-sel inflamasi pada palpasi ginjal.
c)      Perkusi : perkusi pada sudut kostovertebra memberikan stimulus nyeri lokal disertai suatu penjalaran ke nyeri ke pinggang dan perut.
d)      Auskultasi : tidak didapatkan adanya bruit ginjal.
5)      B5 (Bowel)
Didapatkan adanya mual, muntah, serta anoreksia sehingga sering didapatkan penurunan berat badan terutama pada pielonefritis kronik. Penurunan peristaltik usus sering didapatkan.
6)      B6 (Bone)
Didapatkan malaise dan adanya kelemahan fisisk secara umum.

2.    Diagnosa Keperawatan
a.    Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif ditandai dengan mual, muntah.
b.    Hipertermia b.d peningkatan laju metabolisme dan proses penyakit.
c.    Nyeri akut b.d inflamasi dan infeksi uretra, kadung kemih dan struktur traktus urinarius lain.
d.    Retensi urine b.d peningkatan tekanan ureter, sumbatan pada kandung kemih.
e.    Gangguan eliminasi urine b.d obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
f.     Resiko infeksi b.d port de entry kuman.

3.    Rencana Keperawatan
No. Diagnosa
Diagnosa Keperawatan
Rencana Asuhan Keperawatan
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
I
Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif ditandai dengan mual, muntah.

NOC :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ........x24 jam diharapkan defisit volume cairan teratasi dengan kriteria hasil:

·         Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal.
·         Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.
·         Tidak ada tanda tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
·         Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas normal.
·         pH urin dalam batas normal.
·         Intake oral dan intravena adekuat.
NIC :

1.    Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
2.    Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
3.    Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin, albumin, total protein )
4.    Monitor vital sign
5.    Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori/harian
6.    Monitor intake dan urin output setiap 8 jam
7.    Berikan cairan oral
8.    Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 – 100cc/jam)
9.    Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
10.  Kolaborasi pemberian cairan IV
11.  Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
12.  Kolaborasi dalam pemasangan kateter jika perlu

II
Hipertermia b.d peningkatan laju metabolisme dan proses penyakit.

NOC:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .......x24 jam pasien menunjukkan suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil:

·         Suhu  36,5– 37,5ºC
·         Nadi dan RR dalam rentang normal
·         Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
·         Merasa nyaman
NIC :

1.    Monitor suhu sesering mungkin
2.    Monitor warna dan suhu kulit
3.    Monitor tekanan darah, nadi dan RR
4.    Monitor penurunan tingkat kesadaran
5.    Monitor WBC, Hb, dan Hct
6.    Monitor intake dan output
7.    Selimuti pasien
8.    Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
9.    Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena
10. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik

III
Nyeri akut b.d inflamasi dan infeksi uretra, kadung kemih dan struktur traktus urinarius lain.

NOC :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …..x24 jam diaharapkan pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:
·         Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
·         Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
·         Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
·         Skala nyeri 1-3 (nyeri ringan)
·         Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
·         Ekspresi wajah tenang
·         Tanda vital dalam rentang normal
·         Tidak mengalami gangguan tidur

NIC :

1.    Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2.    Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
3.    Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
4.    Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
5.    Tingkatkan istirahat
6.    Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dalam, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin
7.    Kolaboorasi dalam pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri

IV
Gangguan eliminasi urine b.d obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.

NOC :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ......x24 jam diharapkan klien menunjukkan perubahan pola eliminasi urine dengan kriteria hasil :
·         Kandung kemih kosong secarapenuh
·         Tidak ada residu urine >100-200 cc
·         Intake cairan dalam rentang normal
·         Bebas dari ISK
·         Tidak ada spasme bladder
·         Balance cairan seimbang

NIC :

1.    Lakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia (misalnya, output urin, pola berkemih, fungsi kognitif, dan masalah kencing praeksisten)
2.    Monitro asupan dan pengeluaran
3.    Pantau penggunaan obat dengan sifat antikolinegrik atau properti alpha agonis
4.    Monitor efek dari obat-obatan yang diresepkan, seperti calcium channe blockers dan antikolinergik
5.    Merangsang refleks kandung kemih dengan menerapkan dingin untuk perut
6.    Sediakan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih (10 menit)
7.    Bantu dengan toilet secara berkala
8.    Pantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi

V
Retensi urine b.d peningkatan tekanan ureter, sumbatan pada kandung kemih.

NOC:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….x24 jam diharapkan retensi urin pasien teratasi dengan kriteria hasil:

·         Kandung kemih kosong secara penuh
·         Tidak ada residu urine >100-200 cc
·         Intake cairan dalam rentang normal
·         Bebas dari ISK
·         Tidak ada spasme bladder
·         Balance cairan seimbang

NIC :

1.    Monitor intake dan output
2.    Monitor penggunaan obat antikolinergik
3.    Monitor tanda dan gejala ISK (panas, hematuria, perubahan bau dan konsistensi urine)

4.    Monitor derajat distensi bladder
5.    Instruksikan pada pasien dan keluarga untuk mencatat output urine
6.    Stimulasi reflek bladder dengan kompres dingin pada abdomen.
7.    Kolaborasi dalam pemasangan kateteri jika perlu
VI
Resiko infeksi b.d port de entry kuman.

NOC :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ……x24 jam diharapkan pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:
·         Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
·         Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
·         Jumlah leukosit dalam batas normal
·         Menunjukkan perilaku hidup sehat
·         Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal

NIC :

1.    Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam
2.    Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
3.    Monitor hitung granulosit, WBC
4.    Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
5.    Monitor adanya luka
6.    Pertahankan teknik aseptif
7.    Batasi pengunjung bila perlu
8.    Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
9.    Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
10. Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
11. Tingkatkan intake nutrisi
12. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
13. Kolaborasi dalam pemberian terapi antibiotik


4.    Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan adalah asuhan keperawatan secara nyata berupa serangkaian kegiatan yang sistematis berdasarkan perencanaan untuk mencapai hasil yang optimal. Sebelum melakukan rencana tindakan keperawatan, perawat hendaklah menjelaskan tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap pasien.
Dalam pelaksanaan, perawat melakukan fungsinya sebagai independent, interdependent dan dependent. Pada fungsi independent perawat melakukan tindakan atas dasar inisiatif sendiri. Contohnya memberikan latihan pernapasan perut dalam posisi duduk dan berbaring. Pada fungsi interdependent, perawat melakukan fungsi kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya. Dan fungsi independent perawat melakukan fungsi tambahan untuk menjalankan program dari tim kesehatan lain seperti pengobatan.
Di samping itu perawat harus memperhatikan keadaan umum dan respon pasien selama pelaksanaan. Dan untuk melatih pasien agar mandiri, sebaiknya dalam tahap pelaksanaan ini adalah sebagai berikut : persiapan, pelaksanaan dan dokumentasi. Pada fase persiapan, perawat dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan. Selain itu perawat juga harus mampu menganalisa situasi dan kondiri pasien baik fisik maupun mentalnya sehingga dalam merencanakan, memvalidasi rencana serta dalam pelaksanaannya perawat akan terhindar dari kesalahan.

5.    Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang dapat digunakan sebagai alat pengukur keberhasilan suatu rencana keperawatan yamg telah dibuat. Meskipun evaluasi dianggap sebagai tahap akhir dari proses keperawatan proses ini tidak berhenti, yang telah terpecahkan dan masalah yang perlu dikaji ulang, direncanakan kembali, dilaksanakan dan dievaluasikan kembali.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ISK

A.   Pengkajian
1.    Data Demografi
a.    Biodata
1)    Nama                                     : “ Ny. R.T”
2)    Usia/tanggal lahir                 : 68 Tahun
3)    Jenis kelamin                       : Perempuan
4)    Alamat                                    : OSM
5)    Suku/bangsa                        : Maluku / Indonesia
6)    Status pernikahan               : Kawin
7)    Agama/keyakinan                : Kristen protestan
8)    Pekerjaan                              : IRT
9)    Diagnosa medic                   : ISK
10) No. medical record               : 09-55-07
11) Tanggal masuk                     : 03-10-2016
12) Tanggal pengkajian             : 10-10-2016
b.    Penanggung Jawab
1)    Nama                                     : Nn. D.T
2)    Usia                                        : 19 Tahun
3)    Jenis kelamin                       : Perempuan
4)    Pekerjaan                              : -
5)    Hubungan dengan klien     : Cucu klien

2.    Keluhan Utama
Nyeri pada daerah perut bagian atas (daerah hipogastrik)
3.    Riwayat Kesehatan
a.    Riwayat kesehatan sekarang
Klien masuk RS tanggal 03 oktober 2016 dan oleh dokter di diagnose mengalami ISK. Saat dilakukan pengkajian tanggal 10 oktober 2016 klien mengatakan nyeri pada daerah perut daerah hipogastrik), nyeri terasa dari pinggang dan menjalar ke perut atas, neyeri seperti tertekan, nyeri berlangsung hilang timbul, skala nyeri 5 (sedang), nyeri disebabkan karena infeksi, ada nyeri tekan abdomen daerah hipogastrik, expresi wajah tampak meringis saat nyeri, klien tampak gelisah dan nyeri saat berkemih.
b.    Riwayat kesehatan lalu
Klien tidak pernah masuk rumahsakit sebelumnya, dan tidak pernah menderita penyakit infeksi atau penyakit berat lainnya. Klien hanya mederita penyakit ringan seperti flu. Klien tidak penah mengalami kecelakaan dan tidak ada riwayat alergi terhadap makanan dan obat-obatan.
c.    Riwayat kesehatan keluarga
Genogram





















 





                  




























Oval: 40 thn































 



Keterangan :
                  :    Laki-laki


 
                  :    Perempuan
: Meninggal (Tidak diketahui penyebab dari meninggalnya suami klien)
:    Klien
                  : Tinggal serumah


Klien mengatakan dalam keluarga tidak ada penyakit turunan seperti diabetes melitus, hipertensi maupun penyakit menular seperti TBC. Anggota keluarga yang masih hidup dalam keadaan sehat dan tidak ada anggota keluarga yang mederita penyakit yang sama dengan klien ataupun penyakit seperti asma, penyakit jantung, stroke, kanker, dan gangguan emosional. Klien juga tidak mengetahui penyebab meninggalnya suami klien, klien mengatakan mungkin karena faktor usia.

4.    Riwayat Psikososial
Klien dapat menerima penyakit yang diderita sekarang, hubungan klien dengan keluarga, pasien yang lain dan perawat cukup baik, klien juga tidak terlalu memikirkan tentang beban biaya RS karena ditanggung oleh keluarga.
5.    Riwayat Spiritual
Klien beragama kristen protestan, klien selalu berdoa kepada tuhan unutk kesembuhannya dan selalu taat beribadah kepada tuhan.
6.    Pemeriksaan Fisik
a.    Keadaan umum klien
Tidak ada tanda-tanda distress (tidak ada kecemasan), klien berpenampilan sesuai dengan usia klien, ekspresi wajah tampak meringis saat nyeri, saat diajak berbicara klien dapat merespon dengan baik, klien tampak pucat, tinggi badan : 148 cm, dan berta badan : 36 kg, IMT : 16
b.    Tanda-tanda vital
Tekanan darah: 140/80 mmHg, suhu : 36,7°C, nadi : 82 x/menit, pernapasan : 20 x/menit.
c.    Sistem pernafasan
Gerakan dada simetris kiri-kanan, tidak ada retraksi dada, tidak ada sekret/polip pda hidung, bentuk dada normal, suara nafas normal (bronchovesikular), tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada clubbing finger. Frekuensi nafas 20 x/menit
d.    Sistem kardiovaskular
Conjungtiva anemis, bibir lembab, tidak ada sianosis, arteri carotis teraba kuat, tidak ada distensi vena jugularis, suara jantung normal (lup,dup), dan tidak ada bunyi tambahan. Tekanan darah 140/80 mmHg dan Nadi 82 x/menit.
e.    Sistem pencernaan
Sklera tidak ikterik, bibir lembab, tidak pecah-pecah, tidak ada stomatitis, tidak ada karies gigi, tidak ad perdarah pada gusi, lidah bersih, tidak ada gangguan saat menelan, tidak ada nafsu makan, nyeri tekan abdomen daerah hiposgastrik.
f.     Sistem indra
·         Mata : Fungsi penglihatan baik, konjungtiva anemis, skelra tidak ikterik, pupil isokor.
·         Hidung : Fungsi penciuman baik, tidak ada perih dihidung, tidak ada mimisan ataupun sekret.
·         Telinga : Fungsi pendengaran baik, telinga simetris kiri-kanan, tidak ada sekret di telinga, klien tidak pernah melakukan opera telinga.
g.    Sistem saraf
1)    Fungsi cerebral
·         Status mental : daya ingat klien cukup baik, saat berkomunikasi bahasa yang digunakan dapat dimengerti.
·         Kesadaran : Composmentis, GCS 15
·         Bicara : Saat diajak berbicara klien dapat merespon dengan baik.
2)    Fungsi kranial
·         N I (Olfaktorius) : Tidak ada gangguan pada fungsi penciuman, klien dapat membedakan bau teh dan kopi.
·         N II (Optikus) : Tidak ada gangguan penglihatan.
·         N III (Okulomotorius) : Klien dapat mengangkat kelopak mata ke atas, pupil isokor (kontriksi saat ada rangsangan cahaya).
·         N IV (Troklearis) : Klien dapat menggerakan bola mata kebawah dan kedalam.
·         N V (Trigeminus) : Klien dapat mngunyah makanan dengan baik, dapat menutup rahang dan menggerakan rahang ke lateral.
·         N VI (Abdusen) : Klien dapat menggerakan mata ke samping.
·         N VII (Fasialis) : Klien menunjukkan expresi wajah meringis saat nyeri.
·         N VIII (Vestibulokoklearis) : Tidak ada gangguan pendengaran.
·         N IX (Glosofaringeus) : Klien dapat menelan makanan
·         N X (Vagus) : Klien dapat menelan makanan, tidak ada rasa mual atau muntah.
·         N XI (Asesorius) : Klien dapat menggerakan kepala dan bahu.
·         N XII (Hipoglosus) : Klien dapat menggerakan lidah
h.    Sistem musculoskeletal
Bentuk kepala bulat, tidak ada kelainan tulang belakang (lordosis, kifosis, skoliosis), ekstremitas atas dan bawah dapat digerakan, kekuatan otot 5     5
i.      Sistem integument            5   5
Distribusi rambut dikepala banyak, rambut sudah beruban, kulit berwana kecoklatan, kulit teraba hangat, turgor kulit baik, kulit tampak kering, tidak ada ruam pada kulit, kuku bersih.
j.      Sistem endokrin
Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, tidak ada gejala kreatinisme atau gigantisme, tidak ada gejala poliuria, polydpsia, poliphagia, tidak ada riwayat bekas air seni dikelilingi semut.
k.    Sistem perkemihan
Tidak ada edema palpebra dan ansarka, keadaan kandung kemih : teraba vesika urinaria, nyeri saat berkemih (disuria), ada nyeri tekan abdomen daerah hipogastrik.
l.      Sistem immune
Tidak ada riwayat alergi pada cuaca, debu, bulu binatang, ataupun obat-obatan.

7.    Aktivitas Sehari-hari

Jenis aktivitas
Sebelum sakit
Saat sakit
Nutrisi
Nafsu makan baik, frekuensi makan 3x sehari, dengan menu makan nasi, ika, sayur, kadang daging. Pembatasan makanan: makanan berlemak, cara makan bersama keluarga, ritual sebelum makan: berdoa.
Tidak ada nafsu makan, makan 2x sehari, dengan menu makan bubur kasar, ayam rebus, sayur, makan hanya 5 sendok tiap kali makan, porsi makan tidak dihabiskan, klien merasa lemas. Pembatasan makanan berlemak, berdoa sebelum makan.
Cairan
Minuman yang dikonsumsi air putih, frekuensi minum ±3-5 gelas tiap hari.
Minuman yang dikonsumsi air putih, frekuensi minum 6 gelas (1800 cc)
Eliminasi
BAB 2x sehari, tempat pembuangan kloset.
BAK 6-7x sehari, tempat pembuangan kloset.
BAB 2x sehari dengan konsistensi padat, tempat pembuangan kloset.
BAK : frekuensi sering tapi sedikit-sedikit, nyeri saat berkemih, perasaan tidak puas setelah berkemih, volume urine ± 300 cc/24 Jam
Istirahat
Jam tidur malam : 21.00-05.00 WIT, jam tidur siang 14.00-15.00 WIT, tidak ada kesulitan saat tidur.
Jam tidur malam : 22.00-03.00 WIT, jam tidur siang 13.00-14.30 WIT, kesulitan saat tidur dikarenakan klien sering terbangun pada malam hari, dan sulit tidur kembali jika sudah bangun.
Personal hygiene
Mandi 2x dalam sehari (tidak kesulitan saat mandi), cuci rambut 3x dalam seminggu, gosok gigi 1-2x dalam sehari.

Mandi frekuensi 1x dalam sehari dengan cara di lap badannya, saat mandi klien di bantu keluarga, cuci rambut tidak, gosok gigi 1x dalam sehari.
Aktivitas
Tidak ada kesulitan saat beraktivitas.
Aktivitas sehari-sehari dibantu oleh keluarga dan perawat.

8.    Test Diagnostik
Laboratoium :
Parameter
Hasil
Nilai Normal
Tanggal 05 – 10 – 2016
Hemoglobin
9.6!l gr/ dL
11.5 – 17.0 gr/ dL
WBC
10.1 !h 10³/mm³
4.0-10.0  10³/mm³
Tanggal 06 – 10 - 2016
Uric acid
7.1 mg/dL
< 7.0 mg/dL
Kolesterol total
157 mg/dL
< 200 mg/ dL
SGOT
18 / L
< 33 / L
SGPT
11 / L
< 50 / L
Tanggal 07 – 10 – 2016
Ginjal : Ureum
101,9 m/dL

Kreatinin
2.3 mg/dL


            Urin Rutin
Tanggal 06 – 10 – 2016
Warna
Kuning muda
Nilai Normal
Sedimen

Nilai normal
Kejernihan
Keruh

Eritrosit
Banyak
0-2/LPB
Leukosit
Positif (+++)
Negatif (-)
Leukosit
Banyak
0-5/LPB
pH
5.0
4,5-8,0
Epitel
Positif (++)

Nitrit
Positif (+)
Negatif (-)



Berat jenis
1.010
1.003-1.035




USG :
Kesan: ekogenesitas korteks kedua ginjal meningkat (sesuai brandbidgel) " curiga proses miko hidronefrosis kanan dan multipel nefrolithiasis kiri gambaran: sistitis

9.    Terapi Saat Ini
1.    IVFD RL 20 tpm/menit
2.    Cipofrolaksin 200 mg IV/ 12 jam/drips
3.    Paracetamol 50 mg tab (k/p) /oral
4.    Ketorolac 1 ampul (k/p) /IV
5.    Buscopan 1 ampul/IV / 12 jam/IV
6.    Ondancentron 1 ampul (k/p) /IV
7.    Ketocid 3x1 tab/oral





Klasifikasi Data
Data subjektif
Data objektif
·         Klien mengatakan merasa  nyeri di perut (daerah hipogastrik)
·         P : Nyeri akibat infeksi pada kandung kemih
·         Q : Nyeri seperti tertekan
·         R : Nyeri terasa dari pinggang dan menjalar ke perut (daerah hipogastrik).
·         S : Skala nyeri 5
·         T : Nyeri berlangsung hilang timbul
·      Expresi wajah tampak merigis
·      Nyeri sedang
·      Nyeri tekan abdomen (daerah hipogastrik)
·      TD : 140/80 mmHg

·         Klien mengatakan tidak ada nafsu makan.
·         Makan hanya 5 sendok tiap kali makan.
·         Klien merasa lemas.
·      Porsi makan tidak dihabiskan
·      Klien tampak lemas
·      Klien tampak pucat
·      Konjungtiva anemis
·         BB : 36 Kg
·         IMT: 16
·         Klien mengatakan nyeri saat berkemih
·         Perasaan tidak puas setelah berkemih.
·         Sering berkemih tapi sedikit-sedikit.

·      Disuria
·      Teraba vesika urinaria
·      Nyeri tekan abdomen (daerah hipogastrik)
·      Urine ±300 cc/24 jam
·      Leukosit (Positif +++) normalnya negatif (-)
·      Eritrosit : banyak (nilai normal 0-2/LPB
·      Nitrit (Positif +), normalnya negatif (-)

ANALISA DATA

NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH
1
DS:
·         Klien mengatakan merasa  nyeri di perut (daerah hipogastrik)
·         P : Nyeri akibat infeksi pada kandung kemih
·         Q : Nyeri seperti tertekan
·         R : Nyeri terasa dari pinggang dan menjalar ke perut (daerah hipogastrik).
·         S : Skala nyeri 5
·         T : Nyeri berlangsung hilang timbul
DO :
·         Expresi wajah tampak merigis
·         Nyeri sedang
·         Nyeri tekan abdomen (daerah hipogastrik)
·         TD : 140/80 mmHg
·      Leukosit (Positif +++) normalnya negatif (-)

Peradangan pada vesika urinaria

Nyeri akut
2
DS :
·         Klien mengatakan nyeri saat berkemih
·         Perasaan tidak puas setelah berkemih.
·         Sering berkemih tapi sedikit-sedikit.
DO :
·      Disuria
·      Teraba vesika urinaria
·      Nyeri tekan abdomen (daerah hipogastrik)
·      Urine ±300 cc/24 jam
·      Leukosit (Positif +++) normalnya negatif (-)
·      Eritrosit : banyak (nilai normal 0-2/LPB
·      Nitrit (Positif +), normalnya negatif (-)

peradangan pada vesika urinaria

Gangguan eliminasi urine
3
DS:
·         Klien mengatakan tidak ada nafsu makan.
·         Makan hanya 5 sendok tiap kali makan.
·         Klien merasa lemas.
DO:
·      Porsi makan tidak dihabiskan
·      Klien tampak lemas
·      Konjungtiva anemis
·         BB : 36 Kg
·         IMT: 16

Anoreksia

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuahn tubuh





B.   Diagnosa Keperawatan
1.    Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada vesika urinaria
2.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
3.    Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan peradangan pada vesika urinaria




























C.   Rencana Keperawatan
No. Diagnosa
Diagnosa Keperawatan
Rencana Asuhan Keperawatan
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
I
Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada vesika urinaria
yang ditandai dengan :
DS:
·         Klien mengatakan merasa  nyeri di perut (daerah hipogastrik)
·         P : Nyeri akibat infeksi pada kandung kemih
·         Q : Nyeri seperti tertekan
·         R : Nyeri terasa dari pinggang dan menjalar ke perut (daerah hipogastrik).
·         S : Skala nyeri 5
·         T : Nyeri berlangsung hilang timbul
DO :
·         Expresi wajah tampak merigis
·         Nyeri sedang
·         Nyeri tekan abdomen (daerah hipogastrik)
·         TD : 140/80 mmHg

NOC :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam diaharapkan pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:
·         Mampu mengontrol nyeri
·         Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
·         Skala nyeri 1-3 (nyeri ringan)
·         Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
·         Ekspresi wajah tenang
·         Tanda vital dalam rentang normal
·         Tidak mengalami gangguan tidur

NIC :

1.    Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2.    Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
3.    Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
4.    Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
5.    Tingkatkan istirahat
6.    Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dalam, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin
7.    Kolaboorasi dalam pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri

II
Gangguan eliminasi urine b.d peradangan pada vesika urinaria yang ditandai dengan :
DS :
·         Klien mengatakan nyeri saat berkemih
·         Perasaan tidak puas setelah berkemih.
·         Sering berkemih tapi sedikit-sedikit.
DO :
·      Disuria
·      Teraba vesika urinaria
·      Nyeri tekan abdomen (daerah hipogastrik)
·      Urine ±300 cc/24 jam
·      Leukosit (Positif +++) normalnya negatif (-)
·      Eritrosit : banyak (nilai normal 0-2/LPB
·      Nitrit (Positif +), normalnya negatif (-)
NOC :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ......x24 jam diharapkan klien menunjukkan perubahan pola eliminasi urine dengan kriteria hasil :
·         Kandung kemih kosong secara penuh
·         Tidak ada residu urine >100-200 cc
·         Disuria (-)
·         Hemature (-)
·         Palpasi pada daerah abdomen : tidak ada nyeri tekan daerah hipogastrik
NIC :

1.    Kaji keluhan buang air kecil, frekuensi, konsistensi dan warna
2.    Lakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia (misalnya, output urin, pola berkemih, fungsi kognitif, dan masalah kencing praeksisten)
3.    Kaji urine tampung selama 12 jam
4.    Monitor asupan dan pengeluaran
5.    Pertahankan asupan cairan 2000 ml/hari
6.    Merangsang refleks kandung kemih dengan menerapkan dingin untuk perut
7.    Pantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi.
8.    Kolaborasi pemberian antibiotik

III
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksi yang ditandai dengan:
DS:
·         Klien mengatakan tidak ada nafsu makan.
·         Makan hanya 5 sendok tiap kali makan.
·         Klien merasa lemas.
DO:
·      Porsi makan tidak dihabiskan
·      Klien tampak lemas
·      Konjungtiva anemis
·         BB : 36 Kg
·         IMT: 16
NOC :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam diharapkan nutiri klien dapat terpenuhi dengan kriteria hasil :
·         Nafsu makan meningkatan
·         Adanya peningkatan berat badan (5-10%)
·         Porsi makan dihabiskan


NIC :

1.    Kaji adanya alergi makanan
2.    Monitor mual muntah
3.    Monitor kalori dan intake nutirisi
4.    Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht.
5.    Berikan makan sedikit demi sedikit tapi sering
6.    Timbang berat badan setiap hari
7.    Berikan informasi tentang kebutuhan nutirisi
8.    Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
9.    Ajarkan klien bagaiman membuat catatan makan harian.
10. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan klien.









D.   Implementasi dan Evaluasi

Tanggal
Dx. Keperawatan
Jam
Tindakan keperawatan
Evaluasi

10-oktober-2016
(DX I)

11.00





11.20







11.25




11.26





11.30

1.    Memonitor  tanda-tanda vital
Hasil :
  • TD : 110/80 Mmhg
  • Nadi : 80x/m
  • Pernapasan : 20x/m
  • Suhu : 36,8ºC
2.    Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (frekuensi, kualitas, skala)
Hasil :
  • Nyeri pada perut  (daerah hipogastrik)
  • Ekspresi wajah tampak meringis
  • Nyeri terasa hilang timbul
  • Skala nyeri 4 ( nyeri sedang )
3.    Mengatur posisi semifowler
Hasil :
  • Kien merasa nyaman dengan posisi semifowler
4.    Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam
Hasil :
  • Klien memahami dan melakukannya sendiri
  • Klien mengatakan nyeri terasa berkurang
5.    Menganjurkan klien menggunakan teknik distraksi
Hasil:
  • Klien tampak mempraktekannya dengan membaca al-kitab dan bercakap-cakap dengan keluarga


Jam 14.00 WIT

S : Klien mengatakan masih merasa
      nyeri pada perut (daerah hipogastrik),
      skala nyeri 4
O : Expresi wajah meringis
      Nyeri sedang
      Nyeri tekan pada daerah hipogastrik
A :  Masalah nyeri akut belum teratasi
P :  Intervensi dilanjutkan
1.    Kaji nyeri secara komprehensif
2.    Monitor tanda-tanda vital
3.    Kolaborasi dalam pemberian analgetik
     

10-oktober-2016
(DX II)

11.35





12.00



12.30





1.    Mengkaji keluhan buang air kecil, frekuensi, konsistensi, dan warna.
Hasil:
  • Disuria (+)
  • Frekuensi : sering namun sedikit-sedikit
  • Warna urine : kuning kecoklatan
2.    Mempertahankan asupan cairan 2000 cc/h
Hasil :
  • Klien minum sediki-sedikit  namun sering (1000 cc)
3.    Melakukan pemasangan kateter sesuai hasil kolaborasi.
Hasil :
  • Terapasang kateter dan urine sudah tertampung pada urine bag.
    Jam : 14.00 WIT

S : Klien mengatakan masih merasa
      nyeri saat berkemih dan merasa
      tidak puas saat berkemih
O : Disuria (+)
      Teraba vesika urinaria
      Nyeri tekan abdomen (daerah        
      hipogastrik)
A : Masalah gangguan eliminasi urine
      belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
1.    Kaji keluhan buang air kecil, frekuensi, konsistensi, dan warna
2.    Kaji urine tampung setiap 12 jam sekali
3.    Monitor asupan dan pengeluaran
4.    Kolaborasi dalam pemberian antibiotik

10-Oktober-2016
(DX III)

12.10



12.20




12.22



12.25

1.    Mengkaji adanya alergi makanan dan mual muntah.
Hasil :
  • Klien mengatakan tidak ada alergi terhadap makan dan mual muntah.
2.    Mengajurkan klien untuk makan sedikit demi sedikit tapi sering.
Hasil :
  • Jam 12.00 WIT Klien makan 4 sendok
  • Jam 12.20 WIT klien  makan 3 sendok
3.    Memberikan informasi tentang kebutuhan nutirisi.
Hasil :
·         Klien memahami dan mengikuti apa yang disampaikan.
4.    Menganjurkan klien menjaga kebersihan mulut.
Hasil:
  • Pasien menyikat gigi 1xsehari.


Jam : 14.00 WIT

S : Klien mengatakan nafsu makan kurang,  
      makan hanya 7 sendok
O : Porsi makan tidak dihabiskan
      Klien tampak lemas
A : Masalah ketidakseimbangan nutirisis
      kurang dari kebutuhan belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
  1. Monitor kalori dan intake nutrisi
  2. Berikan sedikit demi sedikit namun sering
  3. Timbang BB setiap hari








Tanggal
Dx. Keperawatan
Jam
Tindakan keperawatan
Evaluasi

11-oktober-2016
(Dx.I)

14.00





14.15





17.50

1.    Memonitor tanda-tanda vital
Hasil :
  • Td: 110/80 mmHg
  • Nadi: 80x/m
  • Pernapasan: 18x/m
  • Suhu: 37ºC
2.    Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
Hasil :
  • Pasien tampak tenang
  • Nyeri terasa hilang timbul
  • Skala nyeri 3 ( nyeri ringan )
3.    Memberikan analgetik sesuai hasil kolaborasi.
Hasil :
  • Klien diberikan obat ketorolac


Jam : 19.00 WIT
S : Klien mengatakan nyeri berkurang, 
      skala nyeri 3 , nyeri dirasakan hilang
      timbul
O : Nyeri ringan
      Nyeri tekan abdomen (daerah         
      hipogastrik)
      Expresi wajah tampak sedikit meringis
      TD : 110/80 mmHg
A : Masalah nyeri akut belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
  1. Kaji nyeri secara komprehensif
2.    Monitor tanda-tanda vital
3.    Kolaborasi dalam pemberian analgetik


11-oktober-2016
(Dx. II)

14.40




14.50


15.00


16.00

1.    Mengkaji keluhan buang air kecil, frekuensi, konsistensi, dan warna.
Hasil:
  • Dysuria berkurang
  • warna kuning kecoklatan
2.    Menghitung urinetampung selama 12 jam Hasil :
·         Urine tampung : 650 cc/12 jam
3.    Mempertahankan asupan cairan 2000 cc/h
Hasil :
  • Klien minum 4 gelas (namun sedikit demi sedikit) 1000 cc
4.    Memberikan antibiotik sesuai hasil kolaborasi.
  • Klien diberikan ciprofolaksin 200 mg/drips
Jam : 19.00
S : Klien mengatakan saat BAK nyeri
      masih terasa nyeri.
O : Disuria berkurang
      Nyeri tekan abdomen (daerah        
      hipogastrik)
      Warna urin kuning kecoklatan
      Urine tampung 600 cc/12 jam
A : Masalah gangguan eliminasi urin   
     belum teratasi.
P : Intervensi dilanjutkan
1.    Kaji keluhan buang air kecil, frekuensi, konsistensi, dan warna
2.    Kaji urine tampung setiap 12 jam sekali
3.    Monitor asupan dan pengeluaran
4.    Kolaborasi dalam pemberian antibiotik
11 Oktober 2016
(Dx. III)

1.    Memonitor kalori dan intake nutrisi
Hasil :
  • Klien mengkonsumsi makanan dari RS dengan menu makan bubur kasar, ayam rebus,sayur, buah, dan roti.
2.    Menganjurkan  klien untuk makan sedikit demi sedikit namun sering.
Hasil:
·         Klien makan sedikit demi sedikit tapi sering (± 1 jam) porsi makan dihabiskan

3.    Menimbang berat badan klien
Hasil :
·         BB : 36 Kg

Jam : 19.00 WIT

S : Klien mengatakan nafsu makan makan
      meningkat.
O : Porsi makan dihabiskan
      BB 36 Kg (ada peningkatan berat
      badan)
A : Masalah ketidakseimbangan nutrisi
     teratasi
P : Intervensi dihentikan



                          
Tanggal
Dx. Keperawatan
Jam
tindakan
Evaluasi

12-10-2016
(Dx I )

08.30







09.00







1.    Memonitor tanda-tanda vital
Hasil :
  • TD : 120/80 mmHg
  • Nadi : 87x/m
  • Pernapasan : 20x/m
  • Suhu : 36,8ºC
2.    Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
Hasil :
  • Nyeri sudah berkurang
  • Nyeri terasa hilang timbul
  • Skala nyeri 2 ( nyeri ringan )

Jam : 14.00 WIT
S : Klien mengatakan nyeri sudah  
      berkurang,  skala nyeri 1
O : Nyeri ringan
      Tidak ada nyeri tekan pada abdomen  
      (daerah  hipogastrik)
      Expresi wajah tenang
      TD : 120/80 mmHg
A : Masalah nyeri akut teratasi
P : Intervensi dihentikan


12-10-2016
(Dx II )

10.00





10.40


11.00




1.    Mengkaji keluhan buang air kecil, frekuensi, konsistensi, dan warna.
Hasil:
  • Klien mengatakan saat BAK sudah tidak terasa nyeri.
  • warna kuning kecoklatan
2.    Menghitung urinetampung selama 12 jam Hasil :
·         Urine tampung : 800 cc/12 jam
3.    Mempertahankan asupan cairan 2000 cc/h
Hasil :
  • Klien minum 8 gelas (namun sedikit demi sedikit) 2000 cc

Jam : 14.10
S : Klien mengatakan saat BAK sudah
      tidak merasa nyeri.
O : Disuria (-)
      Tidak ada nyeri tekan pada
      abdomen (daerah  hipogastrik)
      Warna urin kuning kecoklatan
      Urine tampung 800 cc/12 jam
A : Masalah gangguan eliminasi urin    
     teratasi.
P : Intervensi dihentikan






CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal
Dx. Keperawatan
Jam
Evaluasi

12-10-2016
(Dx I )

13.30









Jam : 14.00 WIT
S : Klien mengatakan nyeri sudah  
      berkurang,  skala nyeri 1
O : Nyeri ringan
      Tidak ada nyeri tekan pada abdomen 
      (daerah  hipogastrik)
      Expresi wajah tenang
      TD : 120/80 mmHg
A : Masalah nyeri akut teratasi
P : Intervensi dihentikan


12-10-2016
(Dx II )

15.00








Jam : 14.10
S : Klien mengatakan saat BAK sudah
      tidak merasa nyeri.
O : Disuria (-)
      Tidak ada nyeri tekan pada
      abdomen (daerah  hipogastrik)
      Warna urin kuning kecoklatan
      Urine tampung 800 cc/12 jam
A : Masalah gangguan eliminasi urin   
     teratasi.
P : Intervensi dihentikan


BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Setelah membahas secara menyeluruh mengenai asuhan keperawatan pada “Ny.R” dengan dengan diagnosa infeksi saluran kemih di ruang interna wanita RSUD, maka pada bab ini kami dapat menguraikan :
  1. Telah dilakukan pengkajian pada “Ny.R” dengan dengan diagnosa infeksi saluran kemih di ruang interna wanita RSUD ..
  2. Telah ditentukan diagnosa keperawatan pada klien “Ny.R” dengan dengan diagnosa infeksi saluran kemih di ruang interna wanita RSUD. Diagnosa yang ditemukan adalah Nyeri akut b.d peradangan pada vesika urinaria, gangguan eliminasi urin b.d peradangan pada vesika urinaria, dan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia.
  3. Telah dibuat rencana tindakan keperawatan pada klien “Ny.R” dengan dengan diagnosa infeksi saluran kemih di ruang interna wanita RSUD, sesuai dengan diagnosa keperawatan yang ditentukan.
  4. Telah dilakukan tindakan dan evaluasi keperawatan pada klien“Ny.R” dengan dengan diagnosa infeksi saluran kemih di ruang interna wanita RSUD
B.   Saran
1.    Bagi Rumah Sakit
Untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama dalam menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan infeksi saluran kemih.
2.    Bagi Institusi  Pendidikan
Kiranya lebih meningkatkan mutu pendidikan guna menambah literatur / referensi untuk kelengkapan perkuliahan sehingga dapat membantu mahasiswa dalam proses belajar mengajar.
3.    Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa poltekes maluku khususnya jurusan keperawatan,  kiranya lebih meningkatkan kompetensi dan wawasan tentang perkembangan teori-teori terbaru dalam dunia kesehatan terutama dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan infeksi saluran kemih.
4.    Bagi Klien
Untuk lebih meningkatkan status kesehatan dengan cara memeriksakan diri ditempat-tempat pelayanan kesehatan dan menggunakan tempat pelayanan kesehatan terdekat.





























No comments:

Post a Comment

jangan komen yang aneh-aneh