9/10/2018

ASUHAN KEPERAWATAN BBLR ATAU LAPORAN PENDAHULUAN BBLR


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam beberapa tahun ini perhatian terhadap janin yang mengalami pertumbuhan dalaam kandungan sangat meningkat. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kematian perinatal neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir rendah (Mochtar, 1998).
Melihat dari kejadian terdahulu BBLR sudah seharusnya menjadi perhatian yang mutlak terhadap para ibu yang mengalami kehamilan yang beresioka karena dilihat dari frekuensi BBLR di negara maju berkisar antara 3,6-10,8% sedangkan di negara berkembang berkisar antara 10-34%. Dapat dibandingkan dengan rasio antara negara maju dan berkembang adalah 1:4 (Mochtar, 1998).
Kematian perinatal ppada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan, baik fisik maupun mental. Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah.
Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intracranial, dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan saraf dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah, dan gangguan lainnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa defenisis BBLR ?
2.      Apa saja klasifikasi dari BBLR ?
3.      Apa saja etiologi dari BBLR ?
4.      Bagaimana manifestasi klinis dari BBLR ?
5.      Bagaimana patofisiologi terjadinya BBLR ?
6.      Apa saja pemeriksaan penunjang untuk BBLR ?
7.      Bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan BBLR ?
8.      Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan BBLR ?


C.    Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang BBLR (Berat Badan  Lahir Rendah) dan asuhan keperawatan pada klien dengan BBLR.
2.      Tujuan Khusus
a.       Menjelaskan tentang defenisis BBLR
b.      Menjelaskan tentang klasifikasi BBLR
c.       Menjelaskan tentang etiologi BBLR
d.      Menjelaskan tentang manifestasi klinis dari BBLR
e.       Menjelaskan tentang patofisiologi BBLR
f.        Menjelaskan tentang pemeriksaan penunjang untuk BBLR
g.      Menjelaskan tentang penatalaksanaan pada klien dengan BBLR
h.      Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan BBLR















BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    Konsep Dasar Berat Badan Lahir Rendah
1.      Definisi
Bayi BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan (Proverawati, 2010).
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr atau lebih rendah (WHO, 1961).

2.      Klasifikasi 
Menurut Maryanti (2011: 167 - 168) klasifikasi bayi dengan BBLR sebagai berikut:
a.       Prematuritas murni/prematur adalah bayi dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan - Sesuai Masa Kehamilan (NKB- SMK).
b.      Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan posterm. Dismatur ini dapat juga disebut dengan:
1)      Neonatus Kurang Bulan - Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK).
2)      Neonatus Cukup Bulan- Kecil Masa Kehamilan (NCB- KMK).
3)      Neonatus Lebih Bulan- Kecil Masa Kehamilan (NLB- KMK).
Sedangkan menurut Sukarni (2014: 111) klasifikasi BBLR berdasarkan penanganan dan harapan hidup sebagai berikut:
a.       Berat Badan Lahir Rendah (BBLR): berat lahir 1500- 2499 gram.
b.      Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR): berat lahir 1000- 1500 gram.
c.       Berat Badan Lahir Ekstrim Rendah (BBLER): berat lahir kurang dari 1000 gram.

3.      Etiologi 
Faktor yang mempengaruhi terjadinya BBLR menurut Proverawati (2010: 5 - 6) yaitu:
a.       Faktor ibu
1)      Penyakit, Ibu mengalami komplikasi kehamilan seperti anemia sel berat, perdarahan antepartum, hipertensi, preeklamsi berat, eklamsia, infeksi selama kehamilan (IMS, TORCH, Infeksi Kandung Kemih dan ginjal).
2)      Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
3)      Kehamilan ganda (multi gravida).
4)      Jarak kehamilan yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari 1 tahun).
5)      Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya.
6)      Ibu perokok, peminum alkohol, pecandu obat- obatan, dan penggunaan obat antimetabolik.
7)      Keadaan sosial ibu yang rendah.
8)      Keadaan gizi ibu yang kurang baik.
9)      Ibu mengerjakan aktifitas beberapa jam tanpa istirahat.
10)  Pengawasan antenatal yang kurang.
b.      Faktor janin
1)      Kelainan kromosom (trysomi autosomal).
2)      Infeksi janin kronik (inklusi sitomegali, rubella bawaan).
3)      Disautonomia familial.
4)      Kehamilan ganda (gemelli).
5)      Aplasia pancreas.
c.       Faktor Plasenta
1)      Berat plasenta berkurang atau berongga atau keduanya (hidramnion).
2)      Luas permukaan berkurang.
3)      Plasentitis vilus (bakteri, virus dan parasit).
4)      Infark.
5)      Tumor (kuriongioma, mola hidatidosa).
6)      Plasenta yang lepas.
7)      Sindrom plasenta yang lepas.
8)      Sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik).
d.      Faktor lingkungan
1)      Bertempat tinggal didataran tinggi.
2)      Terkena radiasi.
3)      Terpapar zat beracun.

4.      Pathofisiologi 
Berat badan lahir rendah dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, faktor ibu, faktor janin dan faktor lingkungan. Faktor ibu meliputi penyakit yang diderita ibu, usia ibu saat hamil kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun, keadaan sosial ekonomi rendah. Faktor janin meliputi hidramnion, kehamilan ganda, kelainan kromosom. Faktor lingkungan meliputi tempat tinggal, radiasi, dan zat- zat beracun, dimana faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim sehingga mengalami gangguan dan suplai makanan ke bayi jadi berkurang. Hal tersebut dapat mengakibatkan bayi lahir prematur atau dismatur dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram (Proverawati, 2010: 5 - 6).  Pada  bayi  baru  lahir  pusat pengatur  suhu  tubuhnya  belum  berfungsi dengan sempurna, sehingga mudah terjadi penurunan  suhu  tubuh,  terutama  karena lingkungan  yang  dingin. Dengan  prinsip adanya keseimbangan panas tersebut bayi baru lahir akan berusaha menstabilkan suhu tubuhnya  terhadap  faktor-faktor  penyebab hilangnya  panas  karena  lingkungan (Anggraini. 2014: 691).

5.      Manifestasi klinis 
Menurut Maryanti (2011: 167- 168) ciri- ciri bayi prematur dan dismatur sebagai berikut:
a.       Ciri- Ciri prematuritas murni:
1)      Berat badan kurang dari 2500 gram.
2)      Panjang badan kurang dari 45 cm.
3)      Lingkar kepala kurang dari 33 cm.
4)      Lingkar dada kurang dari 33 cm.
5)      Masa gestasi kurang dari 37 minggu.
6)      Kulit transparan.
7)      Kepala lebih besar dari badan.
8)      Lanugo banyak terutama pada dahi, pelipis, telinga dan lengan.
9)      Lemak subkutan kurang.
10)  Ubun- ubun dan sutura lebar.
11)  Labia minor belum tertutup oleh labia mayor pada bayi perempuan, pada bayi laki- laki tertis belum turun.
12)  Tulang rawan dan daun telinga imatur.
13)  Bayi kecil, posisi masih fetal.
14)  Pergerakan kurang dan lemah.
15)  Tangisan lemah.
16)  Pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea.
17)  Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap dan menelan belum sempurna.
b.      Ciri- ciri dismaturitas:
1)      Kulit terselubung verniks kaseosa tipis atau tidak ada.
2)      Kulit pucat atau bernoda mekonium.
3)      Kering keriput tipis.
4)      Bayi tampak gesit, aktif dan kuat.
5)      Tali pusat berwarna kuning kehijauan.  

6.      Komplikasi  
Menurut Maryanti (2011: 174), komplikasi pada bayi dengan BBLR sebagai berikut:
a.       Kerusakan bernafas yang diakibatkan oleh organ pernafasan imatur.
b.      Pneumoni, aspirasi karena reflek hisap dan batuk belum sempurna.
c.       Perdarahan intraventikuler yaitu suatu perdarahan yang terjadi spontan di ventrikel otak lateral yang disebabkan karena anoksia dan akan menyebabkan hipoksia otak yang dapat mengakibatkan kegagalan peredaran darah sistemik.

7.      Pemeriksaan Penunjang 
Pemeriksaan diagnostik pada BBLR menurut Maryanti (2011: 172) yaitu:
a.       Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000-24.000/mm3,  hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis).
b.      Hematokrit (Ht): 43%- 61% (peningkatan sampai 65% atau lebih menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic prenatal/ perinatal).
c.       Hemoglobin (Hb): 15- 20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis berlebihan).
d.      Bilirubin total: 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1- 2 hari, dan 12 mg/dl pada 3- 5 hari.
e.       Destrosix: tetes glukosa pertama  selama 4- 6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50 mg/dl meningkat 60- 70 mg/dl pada hari ketiga dan Pemeriksaan glukosa darah terhadap hipoglikemia.
f.        Pemantauan elektrolit (Na, K, Cl): biasanya dalam batas normal pada awalnya.
g.      Pemeriksaan Analisa gas darah.

8.      Penatalaksanaan 
Penatalaksan pada bayi BBLR adalah sebagai berikut:
a.       Pengaturan suhu tubuh bayi premature (BBLR)
Bayi dengan BBLR yang paling tepat dilakukan perawatan dalam inkubator. Inkubator yang modern dilengkapi dengan alat pengatur suhu dan kelembaban agar bayi dapat mempertahankan suhu tubuhnya yang normal. Harapan hidup bayi BBLR akan semakin besar apabila dirawat dalam suhu lingkungan yang netral seperti halnya dalam inkubator. Suhu inkubator yang optimum diperlukan agar panas yang hilang dan konsumsi oksigen terjadi minimal sehingga bayi dapat mempertahankan suhu tubuhnya (Proverawati, 2010: 31- 32).
Pengaturan suhu inkubator sesuai dengan berat badan dan usia bayi adalah sebagai berikut:
Table 1.1 Petunjuk pengaturan suhu inkubator.
BB Bayi
Suhu Inkubator (°C) Menurut Umur
35°C
34°C
33°C
32°C
<1,5 kg
1-10 hari
11 hari – 3 minggu
3-5 minggu
>5 minggu





1,5-2 kg

1-10 hari
11 hari – 4 minggu
>4 minggu





2,1-2,5 kg

1-2 hari
3 hari – 3 minggu
>3 minggu





>2,5 kg


1 – 2 hari
>3 minggu






  (Sumber: Sukarni, 2014: 118).

b.      Makanan bayi prematur
Pengaturan dan pengawasan makanan bayi adalah menentukan pilihan susu, cara pemberian dan jadwal pemberian yang sesuai dengan kebutuhan. ASI merupakan makanan yang paling utama, dan menjadi pilihan utama untuk makanan bayi. Bila faktor menghisap yang kurang maka ASI dapat di peras dan di minumkan dengan sendok perlahan atau melalui sonde ke lambung (Proverawati, 2010: 33).
c.       Menghindari infeksi
Bayi BBLR yang rentang terhadap terjadinya infeksi, terutama infeksi nosokomial. Hal ini terjadi akibat dari kadar imunoglobulin pada bayi BBLR sangat rendah, sehingga  tidak adanya barier pada tubuh bayi. Kerentanan terhadap infeksi ini juga disebabkan aktifitas bakterisidal neotrofil dan efek sitotoksik limfosit yang masih rendah. Jadi fungsi perawatan bayi disini adalah memberikan perlindungan terhadap bayi BBLR dari bahaya infeksi.
Berikut cara pencegahan terjadinya infeksi pada bayi BBLR menurut Proverawati (2010: 34) :
a)      Menggunakan masker dan baju khusus dalam penanganan bayi.
b)      Lakukan perawatan tali pusat.
c)      Mengatur kunjungan.
d)      Tindakan aseptic dan antiseptic alat- alat.

B.     Konsep Asuhan Keperawatan BBLR
1.      Pengkajian
Data Subjektif
a.       Identitas
Bayi dengan berat badan lahir rendah sering terjadi pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan <37 minggu dan pada bayi dismaturitas, biasanya dilahirkan dari ibu yang hamil pada usia <20 tahun dan >35 tahun, ibu dengan sosial ekonomi rendah dan pekerja keras, kehamilan dengan komplikasi, ataupun terjadi infeksi pada janin atau plasenta (Proverawati, 2010: 5).


b.      Keluhan utama:
Biasanya bayi dengan BBLR mengalami ketidak efektifan termoregulasi: hipotermi (suhu axilla <36,5ºC) (Sukarni, 2014: 112).
1)      Keluhan saat MRS
Biasanya bayi lahir dengan berat badan < 2500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang dari 33 cm, dengan masa gestasi cukup bulan ataupun kurang bulan, lemak subkutan sedikit, kulit tipis, tangisan lemah, pernafasan belum teratur, reflek premitif belum sempurna, pergerakan kurang dan lemah, lanugo banyak (Maryanti, 2011: 167- 168).
Dalam pemeriksaan fisik bayi dilakukan menggunakan balard score sebagai berikut:  






















2)      Keluhan Saat Pengkajian:
Biasanya bayi BBLR mengalami hipotermi dengan suhu axilla <36.5ºC akibat dari pusat pengaturan suhu yang masih dalam perkembangan, jaringan lemak subkutan tipis, kulit tipis, dan luas permukaan tubuh relatif luas sehingga kehilangan panas lebih besar (Sukarni, 2014: 112).
c.       Anamnese ibu
1)      Riwayat Kehamilan Sekarang
Biasanya riwayat prenatal pada bayi BBLR ibu tidak rutin memeriksakan kehamilan, ibu mengalami komplikasi kehamilan seperti penyakit anemia, perdarahan antepartum, hipertensi, preeklamsi berat, eklamsi, penyakit infeksi, gizi ibu saat kehamilan kurang baik, riwayat terkena radiasi, ibu memiliki kebiasaan merokok, minum alkohol, pecandu obat narkotik dan riwayat penggunaan obat antimetabolisme (Proverawati, 2010: 5- 6).
2)      Riwayat Persalinan Sekarang
Bayi BBLR dapat dilahirkan dengan persalinan normal ataupun caesarea, bayi BBLR bisa lahir dengan usia gestasi cukup bulan ataupun kurang bulan, namun lebih sering BBLR lahir dengan usia gestasi kurang dari 37 minggu/ kelahiran prematur (Proverawati, 2010: 5).
3)      Post natal (neonatus) saat pengkajian
Bayi BBLR lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang dari 33 cm, dengan masa gestasi cukup bulan ataupun kurang bulan, lemak subkutan sedikit, kulit tipis, tangisan lemah, pernafasan belum teratur, reflek premitif belum sempurna, pergerakan kurang dan lemah, lanugo banyak (Maryanti, 2011: 167- 168).   

Data Obyektif
a.       Pemeriksaan Umum Bayi
1)      Pemeriksaan APGAR SCORE
Biasanya bayi dengan BBLR berpotensi mengalami asfiksia akibat dari pernafasan yang belum teratur (Maryunani, 2013: 317).


Tabel 1.2 Penilaian Apgare Score
Tanda
Nilai 0
Nilai 1
Nilai 2
Appearence (warna kulit)
Seluruh tubuh biru
Tubuh merah, tangan kaki biru
Seluruh tubuh kemerahan




Puls (frekuensi jantung) 
Tidak ada
< 100
>100




Grimace (reflek)
Tidak ada
Perubahan mimik
Bersin/ batuk, menangis kuat 




Activity (tonus otot)
Lumpuh
Ekstremitas sedikit fleksi
Gerakan aktif, ekstremitas fleksi




Respiratory (pernafasan)
Tidak ada
Lambat, tidak teratur
Menangis kuat/ keras




(Sumber: hidayat, 2009: 18)
Interpretasi:
Adaptasi baik                    : skor 7 – 10
Asfiksia ringan – sedang : skor 4 – 6
Asfiksia berat                    : skor 0 – 3

2)      Vital Sign
a)      Suhu Tubuh: Biasanya bayi BBLR mengalami hipotermi dengan suhu axilla <36.5ºC akibat dari pusat pengaturan suhu yang masih dalam perkembangan, jaringan lemak subkutan tipis, kulit tipis, dan luas permukaan tubuh relatif luas (Sukarni, 2014: 112).
b)      Pernafasan: Pernafasan pada bayi dengan BBLR belum teratur dan biasanya sering terjadi serangan apnea (Maryunani, 2013: 317).
c)      Nadi: Pada bayi dengan BBLR biasanya heat rate dapat normal (120- 160 kali/ menit) (Proverawati, 2010: 2).
d)      Keaktifan: Biasanya bayi dengan BBLR pergerakan kurang dan lemah hal ini diakibatkan otot masih hipotonis (Maryunani, 2013: 317).



b.      Pemeriksaan Fisik bayi (Head To Toe)
1)      Kepala
Inspeksi : biasanya pada bayi BBLR kepala lebih besar dari pada badan. Palpasi :  biasanya bayi BBLR rambut tipis dan halus, lingkar kepala <33 cm (Sukarni, 2014: 112)
2)      Mata
Inspeksi : biasanya bayi BBLR didaerah mata pada pelipis terdapat banyak lanugo.
Palpasi : biasanya tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan palpasi mata(Hidayat, 2009: 190).
3)      Hidung
Inspeksi : biasanya terdapat pernafasan cuping hidung akibat dari gangguan pola nafas.
Palpasi : biasanya pada bayi BBLR tulang hidung masih lunak, dikarenakan tulang rawan belum terbentuk sempurna (Hidayat, 2009: 190).
4)      Mulut
Inspeksi : biasanya pada bayi BBLR reflek hisap, menelan dan batuk belum sempurna (Hidayat, 2009: 190). 
Palpasi  : bayi BBLR motilitas usus yang kurang mnyebabkan waktu pengosongan lambung  lama sehingga bayi mudah terjadi regurgitasi isi lambung dan muntah (Proverawati, 2010: 19).
5)      Muka
Inspeksi : biasanya pada bayi BBLR muka kemerahan akibat dari hipotermi (Proverawati, 2010: 10).
6)      Telinga
Inspeksi : biasanya bayi BBLR daun telinga imatur, terdapat banyak lanugo pada telinga.
Palpasi : biasanya bayi BBLR daun telinga imatur dan masih elastic (Maryanti, 2011: 168).
7)      Leher
Inspeksi : bayi BBLR mudah terjadi gangguan pernafasan akibat dari inadekuat jumlah surfactan, jika hal itu terjadi maka biasanya didapatkan retraksi suprasternal (Proverawati, 2010: 13).

8)      Dada
a)      Area Paru:
Inspeksi : biasanya bayi BBLR pernafasan tidak teratur, frekuensi nafas 40 – 50 kali/ menit, terdapat penggunaan otot bantu pernafasan (Proverawati, 2010: 2).
Palpasi : pada bayi BBLR biasanya dinding dada teraba elastis karena imatur pada tulang rawan, puting susu belum terbentuk (Sukarni, 2014: 112).
Perkusi : Perkusi biasanya area paru sonor.
Auskultasi : jika bayi megalami gangguan pernafasan biasanya bayi mendengkur, jika terjadi aspirasi mekonium maka terdapat suara nafas tambahan ronchi (Proverawati, 2010: 13). 
b)      Area Jantung:
Inspeksi : biasnaya ictus cordis nampak di ICS 4 mid klavikula sinistra. Palpasi : biasanya ictus cordis teraba di ICS 4 mid klavikula sinistra. Perkusi : area jantung redub.
Auskultasi : S1 S2 tunggal, normalnya heat rate 120– 160 kali/ menit (Proverawati, 2010: 2).
9)      Abdomen
Inspeksi : bayi BBLR biasanya abdomen terlihat distensi akibat perpanjangan waktu pengosongan lambung, kulit abdomen tipis, dan pembuluh darah nampak, bayi BBLR juga memilki pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan yang sinkron dari dada dan abdomen
Auskultasi : pada bayi BBLR akibat dari imatur fungsi pencernaan maka motilitas usus berkurang/ menurun.
Palpasi : Palpasi biasanya abdomen teraba keras karena distensi akibat dari pengosongan lambung yang lama dan daya unuk mencerna makanan lemah.
Perkusi : bayi BBLR mudah terjadi kembung sehingga pemeriksaan perkusi abdomen hipertimpani, jika hal ini terjadi dapat dicurigai kelainan bedah pada bayi (Sukarni, 2011: 112) (Proverawati, 2010: 19) (Maryanti, 2011: 174).

10)  Punggung
Inspeksi : Pada bayi baru lahir perlu pemeriksaan punggung melihat adanya kelainan seperti spina bifida.
11)  Ekstremitas
Inspeksi : biasanya pada bayi BBLR garis plantar sedikit, kadang terjadi oedem, pergerakan terlihat lemah, terdapat lanugo pada lengan, terjadi kekakuan/ sklerema pada kaki dan tangan, jaringan lemak subkutan sedikit (Brown Fat)  (Sukarni, 2014: 112) (proverawati, 2010: 10) (Maryunani, 2009: 26).
12)  Genetalia
Inspeksi : Pada bayi BBLR biasanya testis belum turun pada bayi laki(Sukarni, 2011: 112).
13)  Anus 
Inspeksi : biasanya pada bayi BBLR anus bisa berlubang atau tidak.
c.       Antoprometri (Maryanti, 2011: 167)
BB : Kurang dari 2500 gram.
PB : Kurang dari 45 cm. 
Lila : Kurang dari 33 cm.
Lida : kurang dari 33 cm.
d.      Reflek
Biasanya pada bayi dengan BBLR Refek primitife yang terdiri dari refleks morow, refleks tonick neek, refleks suching dan refleks rooting lemah diakibatkan dari sistem syaraf yang masih belum sempurna (Maryanti, 2011: 173).
e.       Eliminasi
Urine  : Biasanya BBLR memiliki masalah pada perkemihan karena ginjal bayi belum matang (Maryunani, 2009: 27).
Meconium : Dapat ditemui adanya atresia ani sehingga meconium tidak keluar (Rudolp, 2006: 25).





2.      Diagnosa Keperawatan 
Masalah keperawatan yang muncul pada bayi dengan BBLR menurut  Hidayat (2009: 190) dan Nurarif (2013: 52) adalah sebagai berikut:
a.       Ketidakefektifan termoregulasi: hipotermi berhubungan dengan kulit tipis dan jaringan lemak subkutan kurang, sitem termoregulasi imatur.
b.      Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan imatur otot – otot pernafasan dan penurunan ekspansi paru.
c.       Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan imatur fungsi pencernaan, reflek hisap lemah, reflek menelan lemah.
d.      Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan denganprematuritas, reflek hisap bayi buruk.
e.       Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imatur sistem imunitas.
f.        Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanik, imaturitas kulit, dan imobilitas.

3.      Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan pada bayi BBLR meliputi:
a.       Diagnosa keperawatan: Ketidakefektifan termoregulasi: hipotermi berhubungan dengan kulit tipis dan jaringan lemak subkutan kurang, sitem termoregulasi imatur.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 30 menit diharapkan suhu tubuh bayi kembali normal.
Kriteria hasil: Panas tubuh seimbang, kehilangan dan produksi panas seimbang, suhu tubuh dalam batas normal (36,5ºC- 37,5ºC), tidak terjadi perubahan warna kulit.

Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan Dan Rasionalisasi
Intervensi
Rasional

Kaji suhu dengan memeriksa suhu rektal pada awalnya, selanjutnya periksa suhu aksila atau gunakan alat termostat dengan dasar terbuka dan penyebar hangat.


Hipotermia membuat bayi cenderung merasa stres karena dingin, penggunaan simpanan lemak tidak dapat diperbaruai bila ada dan penurunan sensivitas  untuk meningkatkan kadar CO2 atau penurunan kadar O2.
Tempatkan bayi pada inkubator atau dalam keadaan hangat
Kaji haluaran dan berat jenis urine
Mempertahankan lingkungan termonetral, membantu mencegah stres karena dingin.

Pantau sistem pengatur suhu , penyebar hangat (pertahankan batas atas pada 98,6°F, bergantung pada ukuran dan usia bayi)
Hipertermi dengan peningkatan laju metabolisme kebutuhan oksigen dan glukosa serta kehilangan air dapat terjadi bila suhu lingkungan terlalu tinggi.

Pantau penambahan berat badan berturut-turut. Bila penambahan berat badan tidak adekuat, tingkatkan suhu lingkungan sesuai indikasi. 
Hipertermi dengan peningkatan laju metabolisme kebutuhan oksigen dan glukosa serta kehilangan air dapat terjadi bila suhu lingkungan terlalu tinggi.

Perhatikan perkembangan takikardia, warna kemerahan, diaforesis, letargi, apnea atau aktifitas kejang.
Tanda-tanda hipertermi ini dapat berlanjut pada kerusakan otak bila tidak teratasi.

Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi (GDA, glukosa serum, elektrolit dan kadar bilirubin)

Stres dingin meningkatkan kebutuhan terhadap glukosa dan oksigen serta dapat mengakibatkan masalah asam basa bila bayi mengalami metabolisme anaerobik bila kadar oksigen yang cukup tidak tersedia. Peningkjatan kadar bilirubin indirek dapat terjadi karena pelepasan asam lemak dari meta bolisme lemak coklat dengan asam lemak bersaing dengan bilirubin pada pada bagian ikatan di albumin.

Berikan obat-obat sesuai dengan indikasi fenobarbital
Membantu mencegah kejang berkenaan dengan perubahan fungsi SSP yang disebabkan hipertermi dan memperbaiki asidosis yang dapat terjadi pada hiportemia dan hipertermia.



b.      Diagnosa keperawatan : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan imatur otot– otot pernafasan dan penurunan ekspansi paru.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 30 menit diharapakan pola nafas kembali efektif.
Kriteria hasil: Kedalaman inspirasi dan kemudahan nafas, ekspansi dada simetris, tidak ada bunyi nafas tambahan, tidak terdapat penggunaan otot bantu pernafasan.

Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan Dan Rasionalisasi
Intervensi
Rasional

Kaji frekuensi pernafasan dan pola nafas


Memantau adanya distres pernafasan. 
Posisikan bayi dengan posisi sedikit ekstensi
Posisi ini dapat memudahkan pernafasan dan dapat membuka jalan nafas.

Berikan rangsangan taktil (menggosok punggung atau telapak kaki). 
Merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernafasan spontan.

Observasi irama kedalaman, dan frekuensi nafas.
Pengamatan terhadap irama dan frekuensi pernapasan dapat membantu mencegah dan mendeteksi adanya sianosis dan apnea. 

Lakukan pengisapan jalan nafas sesuai kebutuhan. 
Pada bayi baru lahir berisiko adanya sumbatan jalan nafas akibat aspirasi air ketuban. 

Berikan oksigen sesuai dengan kebutuhan (nasal kanul < 2 L/ menit, menurut Rahsiswatmo, 2010).
Pemberian oksigen dapat meningkatkan suplai oksigen ke paru.


Sumber : (Sukarni, 2014: 114) dan (Doenges, 2001: 640).

c.       Diagnosa keperawatan: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan imatur fugsi pencernaan, reflek hisap lemah, reflek menelan lemah Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapakan menunjukkan peningkatan berat badan.
Kriteria hasil: Peningkatan asupan makanan, pencapaian kenaikan berat badan, peningkatan asupan cairan, refkek hisap dan menelan bayi baik.

Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan Dan Rasionalisasi
Intervensi
Rasional

Periksa reflek hisap dan menelan. 


Menentukan metode pemberian makan yang tepat untuk bayi.

Berikan enteral tube feeding dan masukan secara perlahan 
Memberi asupan nutrisi saat bayi belum dapat diberikan nutrisi peroral.

Berikan ASI/ PASI peroral jika reflek hisap baik (hari pertama diawali dengan 60 - 80 cc/kgBB/hari dan dinaikkan 10 – 20 cc/kgBB/hari sampai mencapai 150cc/kgBB/hari). 

Pemberian cairan dini mencegah penurunan cadangan.       
Timbang BB bayi setiap hari dalam waktu yang sama.
Pertumbuhan & peningkatan BB kriteria untuk penentuan kebutuhan kalori.


Sumber : (Sukarni, 2014: 113 & 115) dan (Doenges, 2001: 651).

d.      Diagnosa keperawatan : Ketidakefektifan pemberian ASI berhubungan dengan prematuritas, reflek hisap yang buruk.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan diharapkan terjadi pemeliharaan pemberian ASI.
Kriteria hasil: Keberlangsungan pemberian ASI, peningkatan pemahaman ibu tentang laktasi, kemampuan Ibu untuk mengumpulkan ASI, ibu mempertahankan laktasi, bayi menerima pemberian ASI.




Tabel 2.4 Intervensi Keperawatan dan Rasionalisasi.
Intervensi
Rasional

Kaji keinginan dan motivasi ibu untuk menyusui. 


Membantu dalam mengidentifikasi keadekuatan peberian ASI terhadapa bayi.

Kaji kesiapan bayi untuk transisi ke payudara (obserfasi reflek hisap, rooting dan menelan).

Membantu mengidentifikasi kesiapan bayi untuk menyusu ke ibu. 
   
Observasi BB harian. 
Melihat perkembangan BB bayi. 

Observasi pola BAB. 
Mengetahui maturitas pencernaan.
 
Lakukan pemberian minum bayi. 
Meningkatkan asupam ASI.

Anjurkan ibu untuk memerah ASI. 
Agar pemberian ASI adekuat. 

Saat baby show lakukan penyuluhan tentang pemberian ASI 
Memberikan informasi tentang metode pemberian ASI pada keluarga.



e.       Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imatur sistem imunitas.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil: Tidak terdapat tanda – tanda infeksi (rubor, dolor, kalor,fungsiolaesa), hiegyne yang adekuat, jumlah leukosit dalam batas normal (4000– 10.000).

Tabel 2.5 Intervensi Keperawatan Dan Rasionalisasi
Intervensi
Rasional

Observasi tanda dan gejala infeksi lokal.


Bermanfaat dalam mendiagnosis infeksi

Observasi TTV tiap 1 – 2 jam.
Perubahan suhu tubuh menunjukkan respon adanya infeksi. 
Jaga kebersihan lingkungan.
Mencegah kontaminasi silang serta mengontrol infeksi diruang perawatan.

Gunakan teknik aseptic (mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan sebelum interaksi dengan bayi).
Mencuci tangan merupakan teknik yang paling penting untuk mencegah kontaminasi silang serta mengontrol infeksi diruang perawatan.

Lakukan perawatan tali pusat dengan teknik septik. 
Mencegah terjadinya infeksi dimana tali pusat sebagai por d’entry.

Mandikan atau seka bayi dua kali/ hari.
Meningkatkan hygiene bayi dan mencegah kontaminasi silang.

Beri jarak yang adekuat antara bayi. 
Menghindari penularan infeksi dari bayi lain. 

Kolaborasi pemberian antibiotik yang sesuai
Antibiotik berperan sebagai agen perlawanan infeksi enterik


Sumber : (Sukarni, 2014: 115) dan (Doenges, 2001: 655).

f.        Diagnosa keperawatan: Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanik, imaturitas kulit, dan imobilitas.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi kerusakan integritas kulit.
Kriteria hasil: Keutuhan kulit tetap terjaga, perfusi jaringan adekuat, tidak terjadi lecet.
Tabel 2.6 Intervensi Keperawatan Dan Rasionalisasi
Intervensi
Rasional

Minimalkan penekanan pada bagian tubuh. 


agar peredaran darah tetap lancar dan mengurangi resiko terjadinya dekubitus. 

Kaji kulit dan membran mukosa tiap 2 – 4 jam
mengidentifikasi area potensial kerusakan dermal, yang akan mengakibatkan sepsis. 

Ubah atau atur posisi bayi tiap 2 – 4 jam
mengurangi penekanan pada salah satu sisi tubuh yang dapat mengakibatkan dekubitus.

Lindungi bayi dari kontaminasi feses dan urine.
feses dan urin sebagai media berkembangnya bakteri patogen yang menyebabkan iritasi. 

Hindari penggunaan lotion, cream, atau powder yang berlebihan.
Kulit bersifat bakterisida penggunaan yang berlebihan menjadi tempat berkembang bakteri pathogen.



Sumber : (Hidayat, 2009: 191) dan (Doenges, 2001: 640).

4.      Implementasi
Implementasi merupakan tahap dimana perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan guna mencapai tujuan pasien sesusai yang telah ditentukan.  Kemampuan perawat dalam tahap ini adalah kemampuan komunikasi yang efektif, kemampuan menciptakan hubungan saling percaya dan membantu, kemampuan melakukan tehnik psikomotor, kemampuan melakukan observasi sistematis, kemampuan memberikan pendidiksan kesehatan, kemampuan advokasi, dan kemampuan evaluasi, Implementasi keperawatan dibedakan menjadi 3 kategori yaitu independent, interdependent, dependent (Asmadi, 2008: 177).
Dalam malakukan asuhan keperawatan pada bayi dengan BBLR perawat harus dapat mempertahankan suhu tubuh bayi dalam batas normal, menentukan pilihan susu, cara pemberian dan jadwal pemberian yang sesuai, memberikan perlindungan terhadap bayi dari bahaya infeksi, dan melakukan pembebasan jalam nafas serta merangsang pernafasan (Proverawati, 2010: 31- 35). 
5.      Evaluasi
Evaluasi perkembangan kesehatan pasien dapat dilihat dari hasilnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana tujuan perawatan dapat dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan keperawatan yang diberikan (Tarwoto, 2010: 8)
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Bayi BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan (Proverawati, 2010). Menurut Maryanti (2011: 167 - 168) klasifikasi bayi dengan BBLR sebagai Prematuritas murni/prematur dan Dismaturitas sedangkan menurut Sukarni (2014: 111) klasifikasi BBLR berdasarkan penanganan dan harapan hidup sebagai  Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) : berat lahir 1500- 2499 gram, Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR) : berat lahir 1000- 1500 gram, dan Berat Badan Lahir Ekstrim Rendah (BBLER) : berat lahir kurang dari 1000 gram. Berat badan lahir rendah dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, faktor ibu, faktor janin dan faktor lingkungan. Faktor ibu meliputi penyakit yang diderita ibu, usia ibu saat hamil kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun, keadaan sosial ekonomi rendah. Faktor janin meliputi hidramnion, kehamilan ganda, kelainan kromosom. Faktor lingkungan meliputi tempat tinggal, radiasi, dan zat- zat beracun, dimana faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim sehingga mengalami gangguan dan suplai makanan ke bayi jadi berkurang. Hal tersebut dapat mengakibatkan bayi lahir prematur atau dismatur dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram (Proverawati, 2010: 5 - 6).  Pada  bayi  baru  lahir  pusat pengatur  suhu  tubuhnya  belum  berfungsi dengan sempurna, sehingga mudah terjadi penurunan  suhu  tubuh,  terutama  karena lingkungan  yang  dingin. Dengan  prinsip adanya keseimbangan panas tersebut bayi baru lahir akan berusaha menstabilkan suhu tubuhnya  terhadap  faktor-faktor  penyebab hilangnya  panas  karena  lingkungan (Anggraini. 2014: 691).

B.     Saran
Dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa dibidang kesehatan khususnya mahasiswa jururusan keperawatan dapat memhaminya sehingga dapat memberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan kepada ibu maupun calon ibu atau keluarga untuk menjaga kesehatan mereka dalam mencegah terjadi kelahiran bayi dengan berat badan rendah sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan ibu maupun bayi di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA


No comments:

Post a Comment

jangan komen yang aneh-aneh