9/10/2018

ASUHAN KEPERAWATAN Solusio plasenta


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.
Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.
Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.
Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekambuhan pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.
B.     Rumusan Masalah
1.       Apa definisi solusio plasenta ?
2.      Apa etiologi solusio plasenta?
3.      Bagaimana patofisiologi dari solusio plasenta ?
4.      Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?
5.      Apa saja manifestasi klinis dari solusio plasenta ?
6.      Apa saja pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan solusio plasenta ?
7.      Apa prognosis dari solusio plasenta ?
8.      Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan solusio plasenta ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang solusio plasenta dan begaimana asuhan keperawatan pada klien dengan solusio plasenta.
2.      Tujuan Khusus
a.       Menjelaskan tentang defenisi solusio plasenta
b.      Menjelaskan tentang etiologi solusio plasenta
c.       Menjelaskan tentang patofisiologi solusio plasenta
d.      Menjelaskan tentang manifestasi klinis solusio plasenta
e.       Menjelaskan tentang pemeriksaan penunjang pada solusio plasenta
f.        Menjelaskan tetang asuhan keerawatan pada klien dengan solusio plasenta


BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Konsep Dasar Solusio Plasenta
1.      Defenisi solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta, accidental haemorage. Beberapa jenis perdarahan akibat solusio plasenta biasanya merembes diantara selaput ketuban dan uterus dan kemudian lolos keluar menyebabkan perdarahan eksternal.
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi sebelum waktunya. (Kapita Selekta Kedokteran Fakultas Kedokteran UI edisi ke-3). Solusio plasenta adalah pelepasan sebagian / seluruhnya plasenta yang normal implantasinya antara 22 mimggu dan lahirnya anak  (Obsetri Patologi Fakultas padjadjaran Bandung).

2.      Etiologi
Etiologi dari solusio belum diketahui secara pasti. Namun, faktor predisposisi yang mungkin adalah hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol, penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua.

3.      Patofisiologi
Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.
Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.

4.      Klasifikasi
a.       Menurut derajat lepasnya plasenta
1)      Solusio plasenta partsialis : Bila hanya sebagaian plasenta terlepas dari tempat pelekatnya.
2)      Solusio plasenta total : Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat pelekatnya.
3)      Prolapsus plasenta : Bila plasenta turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.
b.       Menurut derajat solusio plasenta
1)      Solusio plasenta ringan
Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agk sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.
2)      Solusio plasenta sedang
Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.
3)      Solusio plasenta berat
Plasenta telah lepas dari dua pertiga permukaan disertai penderita syok.

5.      Manifestasi Klinis
a.       Perdarahan pervagina
b.      Nyeri tekan uterus/nyeri pinggang
c.       Gawat janin
d.      Persalinan premature idiopatik
e.       Kontraksi berfrekuensi tinggi
f.        Uterus hipertonik
g.      Kematian janin

6.      Pemeriksaan Penunjang
a.      Pemeriksaan Laboratorium
1)      Urin : Albumin (+), pada pemeriksaan sedimen dapat ditemukan silinder dan leukosit.
2)      Darah : Hb menurun, periksa golongan darah, lakukan cross-match test. Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah hipofibrinogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation test) tiap l jam, tes kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 15O mg%).
b.     Pemeriksaan plasenta
Plasenta dapat diperiksa setelah dilahirkan. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasentayang terlepas (kreater) dan terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya menempel di belakang plasenta yang disebut hematoma retroplacenter.
c.       Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain terlihat daerah terlepasnya plasenta, janin dan kandung kemih ibu, dan tepian plasenta.

7.      Komplikasi
a.       Langsung (immediate) : perdarahan, infeksi, emboli dan syok obtetric.
b.      Tidak langsung (delayed) :
1)      Couvelair uterus, sehinga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan post partum.
2)      Hipofibrinogenamia dengan perdarahan post partum.
3)      Nikrosis korteks neralis, menyebabkan anuria dan uremia
4)      Kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofisis.
c.       Tergantung luas plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung.
Komplikasi pada ibu ialah perdarahan, koalugopati konsumtif (kadar fibrinogen kurang dari 150 mg % dan produk degradasi fibrin meningkat), oliguria, gagal ginjal, gawat janin, kelemahan janin dan apopleksia utero plasenta (uterus couvelar). Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi komplikasi asfiksia, berat badan lahir rendah da sindrom gagal nafas.
8.      Penatalaksanaan
a.       Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi.
b.      Sebelum dirujuk, anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama , menghindari peningkatan tekanan rongga perut.
c.       Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan berikan cairan peroral.
d.      Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi / syok akibat perdarahan, pantau pula DJJ & pergerakan janin.
e.       Bila terdapat renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah, bila tidak teratasi, upayakan penyelamatan optimal. Bila teratasi perhatikan keadaan janin.
f.        Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama. Bila renjatan tidak dapat diatas, upayakan tindakan penyelamatan optimal.
g.      Setelah syok teratasi dan janin mati, lihat pembukaan. Bila lebih dari 6 cm pecahkan ketuban lalu infus oksitosin. Bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea.
h.      Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestase kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin kurang dari 2.500 gram.
Penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :
a.       Solusi plasenta ringan
Ekspektatif, bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti, kontraksi uterus tidak ada, janin hidup ) dengan tirah baring atasi anemia, USG & KTG serial, lalu tunggu persalinan spontan.
Aktif, bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus, uterus berkontraksi, dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi / infus oksitosin bila memungkinan. Jika terus terjadi perdarahan skor pelvik kurang dari 5 / persalinan masih lama, lakukan seksio sesarea.
b.      Solusio plasenta sedang / berat
1)        Resusitasi cairan
2)        Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah
3)        Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila tidak dapat renjatan, usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500 gr / lebih, pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama.

B.     Konsep Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
Dalam hal pengumpulan data (pengkajian), pengumpulan data dasar terdiri dari informasi subjektif dan objektif mencakup berbagi masalah keperawatan yang diidentifikasi pada daftar diagnosa keperawatan pada tahun 1992 yang dikembangkan oleh NANDA. Data subjektif yang dilaporkan oleh klien dan orang terdekat, informasi ini meliputi persepsi individu; yaitu apa yang seseorang inginkan untuk berbagi. Namun, perawat perlu memperhatikan ketidak sesuaian yang dapat menandakan adanya faktor-faktor lain seperti kurang pengetahuan, mitos, kesalahan konsep, atau rasa takut. Adapun pengkajian yang dapat dilakukan menurut Marilyn E. Doenges yang dimana pengkajian dengan asuhan keperawatan perihal solutio plasenta (tergolongi intrapartum) terdiri dari :
a.       Identitas klien secara lengkap
b.      Aktivitas atau istirahat
Dikaji secara subyektif yang terdiri dari data tidur istirahat 24 jam terakhir, pekerjaan, kebiasaan aktivitas atau hobi. Dan secara obyektif, data terdiri dari pengkajian neuro muscular.
c.       Sirkulasi.
Secara subyektif mulai dari riwayat, peningkatan tekanan darah, masalah jantung, keadaan ekstremitas serta kelaian-kelainan yang disamapaikan oleh klien perihal sirkulasi. Dan secara obyektif yang terdiri dari TD berbagai posisi (duduk, berbaring, berdiri, baik kanan maupun kiri), nadi secara palpasi, bunyi jantung, ekstremitas (suhu, warna, pengisian kapiler, tanda hofman, varises), warna/sianosis diberbagai region tubuh.
d.      Integritas Ego
Secara subyektif mulai dari kehamilan yang direncanakan, pengalaman melahirkan sebelumnya, sikap dan persepsi, harapan selama persalinan, hubungan keluarga, pendidikan dan pekerjaan (ayah), masalah financial, religious, faktor budaya, adanya faktor resiko serta persiapan melahirkan. Dan secara obyektif, terdiri dari respon emosi terhadap persalinan, interaksi dengan orang pendukung, serta penatalaksanaan persalinan.
e.       Eliminasi
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan eliminasi.
f.        Makanan atau cairan
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan makanan atau cairan yang masuk kedalam tubuh baik secara parenteral maupun enteral serta kelainan-kelainan yang terkait.
g.      Higiene
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan kebersihan diri klien.
h.      Neurosensori
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan kondisi neurosensori dari klien.
i.        Nyeri/Ketidaknyamanan.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan rasa nyeri atau ketidaknyamanan dari klien akibat dari proses persalinan.
j.        Pernafasan
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan pernafasan serta kelainan- kelainan yang dialami dan kebiasaan dari klien.
k.      Keamanan
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan alergi/sensitivitas, riwayat PHS, status kesehatan, bulan kunjungan prenatal pertama, masalah dan tindakan obstetric sebelumnya dan terbaru, jarak kehamilan, jenis melahirkan sebelumnya, tranfusi, tinggi dan postur ibu, pernah terjadi fraktur atau dislokasi, keadaan pelvis, persendian, deformitas columna fertebralis, prosthesis, dan alat ambulasi. Dan data objektif diperoleh dari suhu, integritas kulit (terjadi ruam, luka, memar, jaringan parut), parastesia, status dari janin mulai dar frekuensi jantung hingga hasil, status persalinan serta kelainan-kelainan terkait, kondisi dari ketuban, golongan darah dari pihak ayah ataupun ibu, screening test dari darah, serologi, kultur dari servik atau rectal, kutil atau lesi vagina dan varises pada perineum.
l.        Seksual
Data subjektif di dapat dari periode menstruasi akhir serta keadaankeadaan terkait seksual dari ibu8 ataupun bayi dan juga riwayat melahirkan. Data objektif di dapat dari keadaan pelvis, prognosis untuk melahirkan, pemeriksaan bagian payudarah dan juga tes serologi.
m.    Interaksi Sosial
Data subjektif di dapat dari status perkawinan, lama tahun berhubungan anggota keluarga, tinggal dengan, keluarga besar, orang pendukung, leporan masalah. Data objektif di dapat dari komunikasi verbal/non verbal dengan keluarga/orang terdekat, pola interaksi social (perilaku).

2.      Diagnosa keperawatan
a.       Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan
b.      Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada klien atau janin
c.       Infeksi, resiko tinggi terhadap prosedur infasive.

3.      Intervensi
Rencana keperawatan tidak hanya terdiri dari tindakan yang dilakukan karena pesanan/ketentuan medis, tetapi juga koordinasi tertulis dari perawatan yang diberikan oleh semua disiplin pelayanan kesehatan yang berhubungan. Tindakan keperawatan mandiri adalah bagian integral dari proses ini. Tindakan mungkin mandiri atau kolaboratif dan mencakup pesanan dari keperawatan, kedokteran, dan disiplin lain (Doenges, 2001).










No.
Diagnosa
Diagnosa Keperawatan
Rencana Asuhan Keperawatan
Rasional
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi

I

Nyeri (akut) berhubungan dendan trauma jaringan.


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dibuktikan dengan kriteria hasil :
·         Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.
·         Klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.


1.      Kaji tingkat nyeri secara komprehensif (lokasi, durasi, kualitas, dan faktor presipitasi)



2.      Bantu dengan penggunaan tekhnik pernafasan.



3.      Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi. Berikan instruksi bila perlu.

4.      Berikan tindakan kenyamanan (pijatan, gosokan punggung, sandaran bantal, pemebrian kompres sejuk, dll).

5.      Kolaborasi memberikan sedatif sesuai dosis.



1.       Pengkajian nyeri yang dilakuakn secara menyerluruh akan berguna dalam menentukan tindakan keperawatan selanjutnya.

2.       Mendorong relaksasi dan memberikan klien cara mengatasi dan mengontrol tingkat nyeri.

3.      Relaksasi dapat membantu menurunkan tegangan dan rasa takut, yang memperberat nyeri.

4.      Meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kooping dan kontrol klien.

5.      Meningkatkan kenyamanan dengan memblok impuls nyeri.



II

Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada klien/janin.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapak klien tidak merasa cemas yang dibuktikan dengan kriteria hasil :
·         Klien akan melaporkan ansietas berkurang atau teratasi.
·         Klien tampak rileks.


1.      Kaji status psikologis dan emosional.







2.      Anjurkan klien untuk  mengungkapkan perasaan.





3.      Gunakan terminologi positif, hindari penggunaan istilah yang menandakan abnormalitas prosedur atau proses.

4.      Dengarkan keterangan klien yang dapat menandakan kehilangan harga diri.



5.      Berikan kesempatan pada klien untuk memberi masukan pada proses pengambilan keputusan.


6.      Anjurkan penggunaan/kontinuitas teknik pernapasan dan latihan relaksasi.

1.      Adanya gangguan kemajuan normal dari persaliann dapat memperberat perasaan ansietas dan kegagalan. Perasaan ini dapat mengganggu kerja sama klien dan menghalangi proses induksi.

2.      Klien mungkin takut atau tidak memahami dengan jelas kebutuhan terhadap induksi persalinan. Rasa gagal karena tidak mampu ”melahirkan secara alamiah” dapat terjadi.

3.      Membantu klien/pasangan menerima situasi tanpa menuduh diri sendiri.


4.      Klien dapat meyakini bahwa adanya intervensi untuk membantu proses persalinan adalah refleksi negatif pada kemampuan dirinya sendiri.

5.      Meningkatkan rasa kontrol klien meskipun kebanyakan dari apa yang sedang terjadi diluar kontrolnya.

6.      Membantu menurunkan ansietas dan bmemungkinkan klien berpartisipasi secara aktif.


III

Infeksi, resiko tinggi terhadap prosedur infasive.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi yang dibuktikan dengan kriteria hasil :
·         Klien akan bebas dari infeksi.
·         Pencapaian tepat waktu dalam pemulihan luka tanpa komplikasi.


1.      Kaji kembali kondisi/faktor risiko yang ada sebelumnya.












2.      Kaji tanda dan gejala infeksi (misalnya, peningkatan suhu, nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina).




3.      Kolaborasi melakukan persiapan kulit praoperatif; scrub sesuai protokol.


4.      Kolaborasi melakukan kultur darah, vagina, dan plasenta sesuai indikasi.

5.      Kolaborasi dalam mencatat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht); catat perkiraan kehilangan darah selama prosedur pembedahan.


6.      Kolaborasi dalam memberikan antibiotik spektrum luas pada pra operasi.

1.      Kondisi dasar ibu, seperti diabetes atau hemoragi, menimbulkan potensial risiko infeksi atau penyembuhan luka yang buruk. Risiko korioamnionitis meningkat dengan berjalannya waktu, membuat ibu dan janin pada berisiko. Adanya proses infeksi janin pada berisiko. Adanya proses infeksi dapat meningkatkan risiko kontaminasi janin.

2.      Pecah ketuban terjadi 24 jam sebelum pembedahan dapat mengakibatkan korioamnionitis sebelum intervensi bedah dan dapat mengubah penyembuhan luka.

3.      Menurunkan risiko kontaminan kulit memasuki insisi, menurunkan risiko infeksi pascaoperasi.

4.      Mengidentifikasi organisme yang menginfeksi dan tingkat keterlibatan.

5.      Risiko infeksi pasca-melahirkan dan penyembuhan buruk meningkat bila kadar Hb rendah dan kehilangan darah berlebihan.

6.      Antibiotik profilaktik dapat dipesankan untuk mencegah terjadinya proses infeksi, atau sebagai pengobatan pada infeksi yang teridetifikasi.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Solulusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta, accidental haemorage. Keadaan klien dengan solution plasenta memiliki beberapa macam berdasarkan tingkat keparahannya, tingkat keparahan ini dilihat dari volume perdarahan yang terjadi mulai dari solutio ringan hingga berat. Trauma langsung abdomen, hipertensi ibu hamil, umbilicus pendek atau lilitan tali pusat, janin terlalu aktiv sehingga plasenta dapat terlepas, tekanan pada vena kafa inferior, dan lain-lain diketahui bahwa sebagai penyebab dari solution plasenta.
Beberapa faktor yang menjadi faktor predisposisi solution plasenta itu sendiri didapat dan diketahui mulai dari faktor fisik dan psikologis dengan kata lain ditinjau dari kebiasaan-kebiasaan klien yang dapat mendukung timbulnya solution plasenta.
Adapun komplikasi dari nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina). pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina). berlangsung. Komplikasi terparah dari solution plsenta dapat mengakibatkan syok dari perdarahan yang terjadi, keadaan seperti ini sangat berpengaruh pada keselamatan dari ibu dan janin.
Penatalaksanaan dari solution plaseenta dapat dilakukan secara konservatif dan secara aktif. Masing-masing dari penatalaksaan tersebut mempunyai tujuan demi keselamatan baik bagi ibu, janin, ataupuun keduanya.
B.     Saran
Dengan adanya makalah ini diharapakan pembaca khususnya mahasisa keperawatan mampu memahami dan mendalami tentang solution plasenta. Sehingga mahasiswa dengan latar belakang medis sebagai calon tenaga kesehatan mampu menguasai baik secara teori maupun skil untuk dapat diterapkan pada masyarakat secara menyeluruh. Dan juga diharapkan perawat maupun tenaga kesehatan lainnya mampu meminimalkan faktor resiko dari solution plasenta demi mempertahankan dan meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak.


DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer Arif, dkk . 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 1.Fk UI”. Jakarta
Doengoes, Marilynn E, dkk,. 2001. “Rencana perawatan maternal/bayi. Edisi 2”. Jakarta: EGC.
Manuaba, Chandarnita, dkk,. 2008. “Gawat-darurat obstetri-ginekologi & obstetriginekologi sosial untuk profesi bidan”. Jakarta: EGC.
Wong, Dona L, dkk,. 2002. “Maternal child nursing care 2nd edition”. Santa Luis: Mosby Inc.






No comments:

Post a Comment

jangan komen yang aneh-aneh