9/10/2018

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN NIFAS


BY SITI MUTIAH CC: FOR CREDIT
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar Masa Nifas
1.      Defenisi Nifas
Masa nifas disebut juga masa postpartum atau puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan placenta keluar lepas dari rahim sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni, 2010).
Periode postpartum adalah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal  sebelum hamil. Masa nifas  adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saleha, 2009).
2.      Peran Bidan pada Masa Nifas
Peran bidan pada masa nifas adalah sebagai berikut :
1)     Memberi dukungan yang terus-menerus selama masa nifas yang baik dan sesuai dengan kebutuhan ibu agar mengurangi ketegangan fisik dan psikilogis selama persalinan dan nifas.
2)     Sebagai promotor hubungan yang erat antara ibu dan bayi secara fisik dan psikologis.
3)     Mengkondisikan ibu untuk menyusui bayinya dengan cara meningkatkan rasa nyaman.
3.      Tujuan Masa Nifas
Menurut Saifuddin (2010) tujuan asuhan pada masa nifas adalah :
1)     Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
2)     Mendeteksi masalalah, mengobati dan merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun pada bayinya.
3)     Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan keshatan dini, nitrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, imunisasi, serta perawatan bayi sehari-hari.
4)     Memberikan pelayanan KB
4.   Klasifikasi Masa Nifas
Menurut Suherni dkk (2010), tahapan masa nifas (postpartum/puerperium) adalah :
1)     Puerperium dini masa kepulihan, yakni saat ibu dibolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2)     Puerperium Intermedial, masa kepulihan menyeluruh dari organ-organ genital, kira-kira antara 6–8 minggu.
3)     Remote Peurperium, waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
5.   Perubahan fisologis pada masa postpartum
Menurut Suherni dkk (2010), perubahan-perubahan yang terjadi pada masa postpartum adalah :
a.     Perubahan uterus
Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan antara umbilikus dan simfisis, atau sedikit lebih tinggi. Dua hari kemudian, kurang lebih sama dan kemudian  mengkerut, sehingga dalam dua minggu telah turun masuk ke dalam rongga pelvis dan tidak dapat diraba lagi dari luar. Involusi uterus melibatkan pengorganisasian dan pengguguran  desidu serta penglupasan situs plasenta (Salehan 2009).  Sebagaimana diperlihatkan dengan pengurangan dalam  ukuran  dan berat serta oleh warna dan jumlah lokhia.
Tabel 2.1.TFU dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi
TFU
Berat Uterus

Bayi lahir

1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat, 2 jari dibawah pusat
Pertengahan pusat simfisis
Tidak teraba di atas simfisis
Normal
Normal tapi sebelum hamil
1.000 gr

750 gr
500 gr
50 gr
30gr


Sumber : Saleha (2009)



b.     Perubahan lokhia
Cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas. Beberapa jenis lokhia (Suherni dkk 2010) yakni :
1)     Lokhia rubra (cruenta) : berwarna merah kareana berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidu, vernix caseosa, lanugo dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan, keluar selama 2-3 hari post partum.
2)     Lokhia sangulenta : Warnanya merah kuning berisi darah dan lendir. Ini terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
3)     Lokhia serosa : Berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
4)     Lokhia alba : Cairan putih yang terjadi setelah 2 minggu.
5)     Lokhia purulenta : Ini karena terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
6)     Lochiotosis : lokhia tidak lancar keluarnya.
c.      Perubahan vagina dan perineum
1)     Vagina
Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerpurium merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali kembali seperti ukuran seorang nulipara. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan jaringan yang kecil (Saleha, 2009).
2)     Perlukaan vagina
Perlukaan vagina tidak berhubungan dengan luka perineum dan tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi dari cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan spekulum.
3)     Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. Bila ada laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi dilakukan penjahitan dan perawatan dengan baik (Suherni dkk, 2010).
d.     Perubahan pada sistem pencernaan
Biasanya, ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu persalinan, alat pencernaan mengalami tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan berlebih pada waktu persalinan, kurangnya asupan cairan dan makanan, serta kurangnya aktivitas tubuh. Selain konstipasi, ibu juga mengalami anoreksia akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi, serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan kurang nafsu makan (Sulistyawati, 2009).
e.     Perubahan perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit untuk buang air kecil dalam 24 jam pertama. Kemungkinan penyebab dari keadaan ini adalah terdapat spasme sfingter dan edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi tekanan) antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan berlangsung. Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam 12–36 jam post partum. Kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut disebut diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6 minggu (Sulistyawati, 2009).
f.       Perubahan sistem endokrin
Saat plasenta terlepas dari dinding uterus, kadar hormon Human Chorionic Gonadothropin (HCG) dan Human Placental Lactogen (HPL) secara berangsur turun dan normal kembali setelah 7 hari postpartum. HCG tidak terdapat dalam urine ibu setelah 2 hari postpartum. HPL tidak lagi terdapat dalam plasma (Bahiyatun, 2009)
g.     Perubahan sistem muskuloskeletal
Menurut Suherni (2010), perubahan sistem muskuloskeletal adalah :
1)     Diatesis
Setiap wanita postpartum memiliki derajat diatesis/konstitusi (yakni keadaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh bereaksi secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar tertentu, sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap penyakit-penyakit tertentu). Sebagian besar wanita melakukan ambulasi (ambulation=bisa berjalan) 4-8 jam postpartum. Ambulasi dini dianjurkan untuk menghindari komplikasi, meningkatkan involusi dan meningkatkan cara pandang emosional. Relaksasi dan peningkatan mobilitas artikulasi pelvik terjadi dalam 6 minggu setelah melahirkan.
Mobilisasi (gerakan) dan tonus otot gastrointestinal kembali ke keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan. Konstipasi terjadi umumnya selama periode postpartum awal karena penurunan tonus otot usus, rasa tidak nyaman pada perineum dan kecemasan. Haemoroid adalah peristiwa lazim pada periode postpartum awal karena tekanan pada dasar panggul dan mengejan selama persalinan. Jumlah sel-sel otot tidak berkurang banyak, namun sel-selnya sendiri jelas berkurang ukurannya.
2)     Abdominalis dan peritoneum
Akibat peritoneum berkontraksi dan ber-retraksi pasca persalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritoneum yang membungkus sebagian besar dari uterus, membentuk lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum sangat lebih kendor dari kondisi sebelum hamil.  Memerlukan waktu cukup lama agar dapat kembali normal seperti semula.
Dinding abdomen tetap kendor untuk sementara waktu. Hal ini disebabkan karena sebagai konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang  berlangsung lama akibat pembesaran uterus selama hamil.
Pemulihannya harus dibantu dengan cara berlatih. Pasca persalinan dinding perut menjadi longgar, disebabkan karena teregang begitu lama. Namun demikian umumnya akan pulih dalam waktu 6 minggu.


h.     Perubahan tanda-tanda vital
Perubahan tanda-tanda vital menurut Suherni dkk (2010) adalah sebagai berikut :
1)     Suhu badan
a)     Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu tubuh ibu mungkin naik sedikit antara 37,200C-37,500C. Kemungkinan disebabkan karena ikutan dari aktivitas payudara.
a)     Bila kenaikan mencapai 380C pada hari kedua sampai hari-hari berikutnya, harus diwaspadai adanya infeksi atau sepsis nifas.
2)     Denyut nadi
a)     Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60x/menit, yakni pada waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat penuh. Ini terjadi utamanya pada  minggu  pertama postpartum. 
b)    Pada ibu yang nervous nadinya bias cepat, kira-kira 110x/menit. Bisa juga terjadi gejala shock karena infeksi, khususnya bila disertai peningkatan suhu tubuh.



3)     Tekanan darah
a)     Tekanan darah <140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa meningkat dari pra persalinan pada 1-3 hari postpartum
b)     Bila tekanan darah menjadi rendah menunjukkan adanya perdarahan postpartum. Sebaliknya bila tekanan darahnya tinggi, merupakan petunjuk kemungkinan adanya preeklamsi yang bisa timbul pada masa nifas.
4)     Respirasi
a)     Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Mengapa demikian, tidak lain karena ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat.
b)     Bila ada respirasi cepat postpartum(>30x/menit) mungkin karena adanya ikutan tanda-tanda syok.
6.      Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir
a.     Memulai Hubungan Keluarga dengan Bayi Baru lahir
Pada saat proses kelahiran selesai, proses yang baru dimulai sama pentingnya untuk masa depan keluarga. Sebagai awalan, ketika ibu mulai merasa bisa terbuka terhadap bayi baru lahirnya dan bayi berada dalam periode relaktivitas pertamanya, hal ini merupakan pengalaman baru yang paling berharga untuk proses bonding. Gagasan mengenai periode sensitif dapat dilihat pada perilaku awal orang tua yang menemui bayi baru lahir mereka, ketika dengan tiba-tiba atau dengan lembut orang tua mengeksplorasi tubuh bayi baru lahir, mengubah intonasi dan ritme suara mereka menjadi lembut, serta mengambil posisi muka dengan posisi muka berhadapan dengan anak mereka.
Kontak yang tidak terganggu antara ibu dan bayi selama jam pertama setelah kelahiran bayi ditunjukan untuk meningkatkan proses perlekatan ini. Waktu sejak melahirkan sampai menyusui efektif kurang lebih satu jam, hal ini bertujuan untuk menunjukan bahwa setidaknya satu jam kontak tanpa gangguan merupakan saat-saat yang penting dalam meningkatkan hubungan ibu dan anak.
Melibatkan ayah atau anggota keluarga dekat lain dalam periode ini dapat meningkatkan kegembiraan keluarga. Namun, pembatasan kunjungan hanya oleh keluarga dan teman dekat selama periode ini juga dapat menjadi faktor dalam mempertahankan kontak ibu dan bayinya.
b.     Penerimaan atau Respon Ibu Terhadap Bayi Baru Lahir
Reaksi wanita berbeda-beda segera setelah melahirkan. Beberapa orang merasa letih dan hanya ingin tidur, beberapa lainnya sangat sadar dan tidak bisa tidur. Kedua jenis reaksi ini sangat normal. Hanya ingin dibiarkan seorang diri dan tidur setelah persalinan usai adalah reaksi yang sangat normal dan tidak membuat seorang ibu menjadi ibu yang buruk. Disisi lain, jika sorang ibu tidak dapat tidur dan ingin menghabiskan waktu dengn memandang bayi, itu juga lebih baik.
Ibu biasanya diliputi sensasi keberhasilan dan kelahiran bayinya dengan aman dan terdapat begitu banyak informasi untuk diserap. Pertanyaan yang sering dilontarkan segera setelah kelahiran spontan adalah jenis kelamin, kesehatan, dan berat badan bayi. Bergantung dari bagaimana ibu diperkenalkan dengan bayinya, ia akan selalu melihat kearah bayinya, mengamati tubuh, sesekali mengelus pipi bayi, dan menggoyangkan ekstremitasnya sebelum kembali menatap wajah bayinya.
Selama hari-hari pertama melahirkan, sebagian besar ibu secara total merasakan bahwa semua pehatiannya terarah kepada kebutuhan bayi dan meninggalkan bayinya hanya dalam waktu singkat. Seorang ibu menghabiskan waktu untuk mengagumi bayinya, baik saat bayinya bangun maupun tidur. Ibu yang dulu merasa takut dan tidak yakin, kini dengan cepat berubah menjadi sosok ibu yang mengetahui semua atribut khusus dan isyarat dari banyinya yang baru lahir serta mulai memberi respon yang sesuai. (Bahiyatun, 2009)

7.      Proses Adaptasi Psikologis pada Masa Nifas
Periode masa nifas merupakan waktu dimana ibu mengalami stres pasca persalinan, terutama pada ibu primipara.
Menurut Saleha (2009) hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas adalah sebagai berikut :
a.     Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi menjadi orang tua.
b.     Respon dan dukungan dari keluarga dan teman dekat.
c.      Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya.
d.     Harapan, keinginan dan aspirasi ibu saat hamil dan juga melahirkan.
Menurut Saleha (2009) nifas dibagi menjadi 3 tahap yaitu sebagai berikut :
a.     Taking in period
Terjadi pada 1–2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat bergantung pada orang lain, fokus perhatian terhadap tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat.
b.     Taking hold period
Berlangsung 3–4 hari post partum, ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannya dalam menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitif, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu.
c.      Letting go period
Dialami setelah tiba ibu dan bayi di rumah. Ibu mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai seorang ibu dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya.
8.      Nifas Primipara
Ibu nifas primipara yaitu seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi yang viabel untuk pertama kali. Pengetahuan ibu nifas primipara dalam merawat bayinya adalah sangat penting karena dengan pengetahuan yang cukup, maka ibu nifas mampu melakukan perawatan bayinya dengan benar (Wiknjosastro, 2007).
9.      Perawatan Ibu Masa Nifas
Perawatan nifas meliputi :
a.     Nutrisi dan cairan
Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan.
Menurut Saleha (2009) Ibu yang menyusui harus memenuhi akan gizi sebagai berikut :
1)     Tambahan 500 kalori tiap hari.
2)     Makan dengan diet berimbang mendapatkan protein, mineral, vitamin yang cukup.
3)     Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.
4)     Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya selama 40 hari pasca persalinan.
5)     Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melaliu ASI.
b.     Ambulansi
Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu untuk cepat berjalan. Menurut penelitian, ambulasi dini tidak mempunyai pengaruh yang buruk, tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal, tidak mempengaruhi penyembuhan luka episiotomi, dan tidak memperbesar kemungkinan terjadinya prolaps uteri atau retrofleksi (Sulistyawati, 2009).


c.      Eliminasi
1)     Miksi
Miksi disebut normal bila dapat buang air kecil spontan setiap 3-4 jam. Ibu diusahakan dapat buang air kecil sendiri, bila tidak dilakukan dengan tindakan dirangsang dengan mengalirkan air kran di dekat klien atau dengan mengompres air hangat diatas simpisis, jika tidak berhasil dengan cara diatas maka dilakukan kateterisasi (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
2)     Defekasi
Biasanya 2–3 hari post partum masih sulit buang air besar. Jika klien pada hari ke-3 belum juga buang air besar maka diberikan laksan supositoria dan minum air hangat (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
d.     Kebersihan diri
1)     Perawatan perineum
Apabila setelah buang air besar atau buang air kecil perineum dibersihkan secara rutin. Caranya dibersihkan dengan sabun yang lembut minimal 1  kali sehari. Membersihkan dimulai dari simpisis sampai anal sehingga tidak terjadi infeksi. Ibu diberitahu caranya mengganti pembalut yaitu bagian dalam jangan sampai terkontaminasi oleh tangan. Pembalut yang sudah kotor harus diganti paling sedikit 4 kali sehari. Sarankan ibu untuk cuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya (Wulandari dan Handayani, 2011).
2)     Perawatan payudara
a)     Menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama putting susu dengan menggunakan BH yang menyokong payudara.
b)     Apabila puting susu lecet oleskan colostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dimulai dari putting yang tidak lecet.
c)      Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam, ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan menggunakan sendok.
d)     Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat diberikan paracetamol 1 tablet setiap 4 – 6 jam.
(Wulandari dan Handayani, 2011).
Tujuan perawatan payudara bagi ibu menyusui, untuk melancarkan sirkulasi darah dan mecegah tersumbatnya saluran susu, sehingga mempelancar pengeluaran susu. Lakukan perawatan payudara secara teratur, perawatan payudara hendaknya dimulai sedini mungkin yaitu 1-2 hari setelah bayi dilahirkan dan dilakukan 2 kali sehari. (Rukiyah dkk 2011).
e.     Istirahat
Seorang wanita yang dalam masa nifas dan menyusui memerlukan waktu yang lebih banyak untuk istirahat karena sedang dalam proses penyembuhan terutama organ-organ reproduksi dan untuk kebutuhan menyusui bayinya. Bayi biasanya terjaga saat malam hari. Hal ini akan mengubah pola istirahat ibu. Oleh karena itu, ibu dianjurkan istirahat (tidur) saat bayi sedang tidur. Jika ibu kurang istirahat akan mengakibatkan berkurangnya jumlah produksi ASI, memperlambat proses involusi, memperbanyak perdarahan, menyebabkan depresi, dan menimbulkan rasa ketidak-mampuan merawat bayi (Bahiyatun, 2009).
f.       Seksual
Apabila perdarahan telah berhenti dan episiotomi sudah sembuh maka koitus bisa dilakukan pada 3-4 minggu post partum. Secara fisik aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri, aman untuk melakukan hubungan suami istri (Wulandari dan Handayani, 2011).

g.     Senam Nifas
Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih kembali. Senam nifas bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, serta memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung, otot dasar panggul dan otot perut. Sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terus menerus (kontinyu). Lakukan pengulangan setiap 5 gerakan dan tingkatan setiap hari sampai 10 kali (Dewi dan Sunarsih, 2011).
h.     KB pada Ibu Menyusui
Keluarga berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan dengan jalan memberi nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan, dan penjarangan kehamilan. KB merupakan salah satu usaha memabantu keluarga atau individu merencanakan kehidupan berkeluargannya dengan baik, sehingga dapat mencapai keluarga berkualitas. Menurut Bahiyatun 2009 macam-macam metode kontrasepsi untuk ibu menyusui :
1)     Metode amenore laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI. Metode ini efektif sampai 6 bulan dan harus dilanjutkan dengan pemakaian kontrasepsi lainnya. Cara kerjanya menunda atau menekan ovulasi.
2)     Pil Progestin (Mini pil). Metode ini cocok untuk perempuan menyusui yang ingin mengguanakan pil KB yang sangat efektif pada masa laktasi. Dosisnya rendah, tidak menurunkan produksi ASI, tidak memberikan efek sampng estrogen. Efek samping utama adalah gangguan perdarahan (perdarahan bercak atau perdarahan tidak teratur). Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat. Cara kerja metode ini adalah menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid seks do ovarium (tidak begitu kuat). Endometrium akan mengalami transformasi lebih awal, sehingga implantasi lebih sulit. Selain itu, menetralkan lendir serviks yang menghambat penetrasi sperma dan mengubah motalitas tuba. Hal ini mengganggu transportasi sperma.
3)     Suntikan Progestin. Metode ini sangat efektif, aman dan dapat digunakan oleh semua wanita dalam usia reproduksi. Dengan metode ini, kembalinya kesuburan lebih lambat (rata-rata 4 bulan). Metode ini cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI. Cara kerja metode ini mencegah ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma, menjadikan selaput lendir tipis dan atrofi, dan menghambat transportasi gamet oleh tuba.
4)     Kontrasepsi Implan. Kontrasepsi ini efektif selama 5 tahun untuk Norplant dan 3 tahun untuk jadena, Indoplant dan Inplantont. Metode ini dapat digunakan oleh semua perempuan dalam usia reproduksi. Pemasangan dan pencabutan perlu perhatian khusus bagi tenaga kesehatan. Kesuburan dapat kembali setelah implan di cabut dan aman dipakai pada saat laktasi. Cara kerja kontrasepsi ini adalah mengentalkan lendir serviks, mengganggu proses pembentikan endometrium sehingga seulit terjadi implantasi, meggaggu trasporttasi sperma, dan menekan ovulasi.
5)     KB dengan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Metode ini sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang. Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak. pemasangan dan pencabutan perlu perhatian khusus bagi petugas kesehatan. AKDR dapat digunakan oleh semua perempuan usia reproduksi, tetapi tidak boleh dipakai pada perempuan yang terpajan infeksi menular seksual.



10.   Perawatan Bayi
Perawatan bayi meliputi :
a.     Memandikan Bayi
Memandikan bayi adalah suatu cara untuk menjaga kebersihan, memberikan rasa segar, dan memberikan rangsangan pada kulit (Dewi dan Sunarsih, 2011). Tujuan memandikan bayi itu sendiri adalah membersihkan tubuh bayi, memberikan rasa nyaman serta menghindarai terjadinya infeksi dan iritasi. Beberapa hal yang perlu di perhatikan sebelum memandikan bayi adalah mengukur suhu tubuh bayi, jika kurang dari 36,50C sebaiknya hangatkan dulu, sebelum mandi kita perlu mempersiapkan peralatan mandi serta baju ganti, kemudian  menyiapkan air hangat secukupnya (Yunita, 2012).
Menurut Yunita, langkah-langkah memandikan bayi yaitu:
1)     Mempersiapkan peralatan mandi  yaitu 1 ember berisi air hangat, sabun mandi, sampo bayi, handuk bayi, kassa steril, pakaian bayi lengkap, minyak telon, bedak dan sisir.
2)     Mencuci tanga  dengan sabun kemudian mengeringkan tangan.
3)     Mendekatkan semua peralatan
4)     Jika bayi masih tidur bangunkan bayi dengan memberikan rangsangan ke bayi, misalnya menepuk perlahan pada telapak kaki.
5)     Membersihkan kotoran bayi (jika  ada) dengan kapas yang sudah di basahi air atau tisu basah.
6)     Meletakkan bayi pada tempat yang sudah disediakan yang sudah diberi handuk atau bedong bekas yang dipakai.
7)     Membersihkan mata dengan kapas yang sudah dibasahi dengan air bersih dan  hangat, dari ujung mata ke pangkal hidung.
8)     Membasuh dan membersihkan muka tanpa sabun.
9)     Membersihkan tubuh bayi dengan sabun mulai dari kepala, telinga, leher, dada, perut, lengan, punggung dan terakhir alat kelamin dengan menggunakan waslap dan sabun.
10)  Meletakkan bayi kedalam ember bayi secara pelan-pelan. Cara memegang bayi dengan cara menyisipkan lengan bayi pada sela-sela jari dengan kepala bayi berada pada lengan bawah lipat siku.
11)  Membilas tubuh bayi secara pelan-pelan sampai bersih.
12)  Mengeringkan bayi dengan handuk sambil memperhatikan kemungkinan adanya kelainan-kelainan.
13)  Meletakkan bayi pada tempat yang sudah disiapkan (gedong, baju, dan popok).
14)  Merawat tali pusat dengan kassa steril.
15)  Memakaikan popok tanpa bedak, baju serta sarung tangan dan sarung kaki.
16)  Membedong bayi dengan benar, menyisir rambutnya dan kenakan topi pada kepala bayi.
17)  Meletakkan bayi di tempat yang nyaman atau bayi disusui oleh ibunya.
18)  Membereskan dan mengembalikan alat.
19)  Mencuci tangan.
b.     Perawatan Tali Pusat
Cara merawat tali pusat adalah sebagai berikut :
1)     Selalu cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir sebelum dan sesudah memegang bayi.
2)     Jangan memberikan apapun pada tali pusar.
3)     Rawat tali pusar terbuka dan kering.
4)     Bila tali pusar        kotor atau basah, cuci dengan air bersih dan sabun mandi dan keringkan dengan kain bersih.
(Kemenkes RI, 2016)
c.      Kebersihan Popok
Menurut Maharani (2009), langkah-langkah mengganti popok yaitu :
1)     Menggulung pakaian atas agar tidak kotor.
2)     Jika bayi menggunakan popok kain, lepaskan popok kain dengan  perlahan, dan jika bayi menggunakan popok sekali pakai, langsung lepaskan perekatnya pada sisi kanan dan kiri bayi.
3)     Memegang pergelangan kaki bayi dengan satu tanggan dan angkat  pantatnya, lipat popok yang kotor (bagian yang kotor didalam).
4)     Membersihkan pantat bayi dengan air hangat dan kapas atau kassa  atau dengan tisu basah.
5)     Untuk  bayi  perempuan,  bersihkan  pantat  bayi  dari  depan  ke belakang supaya kuman tidak  masuk ke dalam saluran kencing bayi.
6)     Memasang popok bersih  dan  kencangkan  perekat  atau  pasang pengikatnya dengan benar.
d.     Merawat Kuku
Menurut Yuanita (2012), langkah-langkah dalam memotong kuku yaitu :
1)     Mempersiapkan alat-alat : gunting khusus bayi, alcohol, kapas, air hangat.
2)     Sebelum gunting kuku digunakan, sebaiknya di bersihkan terlebih dahulun dengan alcohol 70%.
3)     Memegang salah satu telapak tangan bayi dengan tangan kiri, kemudian lebarkan jarak jari-jari tangan bayi.
4)     Menggunting kuku bayi dengan tangan kanan secara perlahan dan hati-hati.
5)     Membersihkan  kotoran  yang  ada  dibalik  kuku  dengan menggunakan kapas yang sudah dibasahi dengan air hangat.
6)     Jangan terlalu sering menggunting kuku bayi, karena akan mempermudah terjadinya kerusakan kulitdisekitar kuku.
7)     Jika saat memotong kuku bayi terjadi luka pada jari dan kuku bayi, bersihkan daerah dengan kapan dan berikan obat antiseptik.
e.     Merawat Kulit
Kulit bayi sangat rentan terhadap gangguan kulit hal ini disebabkan karena sensitifnya kulit bayi. Untuk itu diperlukan adanya perawatan yang cermat terhadap kulit bayi. Ketidak cermatan dalam perawatan kulit bayi dapat menyebabkan berbagai gangguan terhadap kulit bayi yang disebabkan oleh biang keringat atau ruam popok.
Menurut Yunita (2012), langkah-langkah merawat kulit bayi yaitu :
1)     Membiasakan bayi mandi secara teratur sebaiknya dua kali  sehari sekali menggunakan sabun khusus untuk bayi.
2)     Setelah bayi selesai mandi, keringkan dengan handuk bayi yang lembut dan pastikan bahwa daerah yang tertutup maupun lipatan benar-benar kering.
3)     Menggunakan pakaian bayi yang berbahan katun karena katun bersifat ramah kulit, memiliki pori-pori dan menyerap kelambaban.
4)     Setiap bayi berkeringat usap daerah yang berkeringat dengan kain atau tisu basah dan lembut,kemudian keringkan dengan kain bersih dan menaburkan bedak bayi yang lembut secara tipis pada kulit bayi.
5)     Gunakan bedak dan minyak telon setelah mandi keseluruh tubuh bayi untuk menjaga kulit bayi dari iritasi.
6)     Sebaiknya bayi diletakkan dalam ruang yang memiliki ventilasi yang cukup untuk pertukaran udara.
7)     Jangan memaksa bayi memakai popok terlalu lama, segera mengganti popok jika sudah basah dan penuh.
f.       Pemberian ASI
ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain. Manfaat ASI ada berbagai macam antara lain : sebagai nutrisi, sebagai daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan, meningkatkan jalinan kasih sayang, menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bayi menjadi lebih baik (Dewi dan Sunarsih, 2011).
Menurut Bahiyatun (2009) langkah-langkah menyusui yang benar yaitu sebagai berikut :
1)     Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting  dan areola payudara. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfeksi dan  menjaga kelembaban puting susu.
2)     Bayi diposisikan menghadap perut atau payudara ibu.
3)     Ibu duduk atau berbaring dengan santai. Bila duduk, lebih baik menggunakan  kursi yang rendah (agar kaki tidak menggantung) dan punggung ibu bersandar  pada sandaran kursi.
4)     Bayi dipegang ada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak  pada lengkung siku ibu (kepala bayi tidak boleh menengadah dan bokong bayi  disokong dengan telapak tangan).
5)     Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu dan yang lain di depan.
6)     Perut bayi menempel pada badan ibu dan kepala bayi menghadap payudara tidak hanya membelokkan kepala bayi).
7)     Telinga dan lengan bayi terletak pada suatu garis lurus.
8)     Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.
9)     Payudara dipegang dengan dengan ibu jari di atas dan jari lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areola saja.
10)  Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (reflex rooting) dengan cara menyentuh sisi mulut bayi dengan jari. Setelah bayi membuka mulut,dengan  cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan puting serta areola payudara  dimasukkan ke mulut bayi.
11)  Usahakan sebagaian besar areola payudara dapat masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah areola payudara. Posisi yang salah, yaitu bila bayi hanya mengisap pada puting  susu saja, yang akan mengakibatkan masukan ASI yang tidak adekuat dan  puting susu lecet.
12)  Setelah bayi mulai mengisap, payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi.
Menurut Varney (2007), beberapa posisi menyendawakan bayi yang benar ialah menggendong bayi dibahu dan duduk dipangkuan. Menggendong bayi di bahu ialah bayi digendong dibahu dengan posisi tegak, kemudian menggosok atau menepuk punggung bayi dengan lembut sampai bayi bersendawa. Jika perlu meletakkan selembar kain dibahu untuk menjaga pakaian agar tidak kotor. Sedangkan dengan duduk dipangkuan caranya dudukkan bayi dipangkuan dan sedikit dicondongkan kedepan kemudian menggosok dan menepuk punggung bayi dengan lembut sampai bersendawa. Jangan lupa menopang kepala bayi dengan tangan karna lehernya masih lemah.
g.     Menjaga kehangatan bayi
Cara menjaga bayi tetap hangat adalah sebagai berikut :
1)     Mandikan bayi setelah 6 jam, dimandikan dengan air hangat.
2)     Bayi harus tetap berpakaian dan diselimuti setiap saat, memakai pakaian kering dan lembut.
3)     Ganti popok dan baju jika basah.
4)     Jangan tidurkan bayi di tempat dingin atau banyak angin.
5)     Jaga bayi tetap hangat dengan menggunakan topi, kaos kaki, kaos tangan dan pakaian yang  hangat pada saat tidak dalam dekapan.
6)     Jika berat lahir kurang dari 2500gram, lakukan Perawatan Metode Kanguru (dekap bayi didada ibu/bapak/anggota keluarga lain kulit bayi menempel kulit ibu/bapak/anggota keluarga lain).
7)     Bidan/Perawat/Dokter menjelaskan cara Perawatan Metode Kanguru.
(Kemenkes RI, 2016)
11.   Program Tindak Lanjut Asuhan Masa Nifas di Rumah
Kunjungan rumah postpartum dilakukan sebagai suatu tindakan untuk pemeriksaan postpartum lanjutan. Apa pun sumbernya, kunjungan rumah direncanakan untuk bekerja sama dengan keluarga dan dijadwalkan berdasarkan kebutuhan. Pada program yang terdahulu, kunjungan bisa dilakukan sejak 24 jam setelah  pulang. Jarang sekali suatu kunjungan rumah ditunda sampai hari ketiga setelah pulang ke rumah. Kunjungan berikutnya direncanakan di sepanjang minggu pertama jika diperlukan.
Semakin meningkatnya angka kematian ibu di Indonesia pada saat masa nifas (sekitar 60%) mencetuskan pembuatan program dan kebijakan teknis yang lebih baru mengenai jadwal kunjungan masa nifas. Paling sedikit empat kali dilakukan kunjungan masa nifas untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, juga mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Jadwal kunjungan tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2. Jadwal Kunjungan Rumah Postpartum
Kunjungan
Waktu
Tujuan

1

6-8 jam setelah persalinan

·       Mencegah perdarahan masa nifas karena atoria uteri.
·       Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
·       Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
·       Pemberian ASI awal.
·       Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
·       Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.

2

6 hari setelah persalinan

·       Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, dan tidak ada bau.
·       Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal.
·       Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat.
·       Memberkan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan bayi sehari-hari.

3

2 minggu setelah persalinan

Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan).


4
6 minggu setelah persalinan
·         Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia alami atau bayinya.
·       Memberikan konseling KB secara dini.
·       Mengajurkan atau mengajak ibu membawa bayinya ke posyandu atau puskesmas untuk penimbangan dan imunisasi.

 
Sumber : Saifuddin (2010)
Suatu kunjungan rumah akan mendapat lebih banyak kemajuan apabila direncanakan dan diorganisasi dengan baik. Bidan perlu meninjau kembali catatan kesehatan ibu, rencana pengajaran, dan catatan lain yang bisa digunakan sebagai dasar wawancara dan pemeriksaan serta pemberian perawatan lanjutan yang diberikan. Setelah kunjungan tersebut direncanakan, bidan harus mengumpulkan semua peralatan yang diperlukan, materi instruksi, dan keterangan yang dapat diberikan kepada keluarga yang akan dikunjungi.








C.    Konsep Dasar  Manajemen Asuhan Kebidanan
1.      Pengertian
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Ambarwati, 2010).
2.      Proses Manajemen Kebidanan
Proses manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang memperkenalkan sebuah metode atau pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis sehingga pelayanan komprehensif dan aman dapat tercapai (Ambarwati, 2010). Proses tersebut meliputi :
a.     Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien (Anggraini, 2010).
1)     Data Subjektif
Data subjektif adalah data yang didapat dari klien sebagai pendapat terhadap situasi data kejadian. Informasi tersebut dapat ditentukan dengan informasi atau komunikasi (Nursalam, 2008).                                                                                                                 
a)     Biodata yang mencakup identitas pasien menurut Anggraini (2010), meliputi :
(1)   Nama : Dikaji dengan nama yang jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan atau asuhan.
(2)   Umur : Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas
(3)   Agama : Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa atau beribadah.
(4)   Suku Bangsa : Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari.
(5)   Pendidikan : Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya.
(6)   Pekerjaan : Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut.
(7)   Alamat : Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan.
b)     Keluhan Utama
Keluhan utama dikaji untuk mengetahui masalah yang            dihadapi berkaitan dengan masa nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2009).
c)      Riwayat kesehatan
(1)   Riwayat kesehatan yang lalu
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, diabetes mellitus, hipertensi, asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini (Anggraini, 2010).
(2)   Riwayat kesehatan sekarang
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada hubungannya dengan masa nifas dan bayinya (Anggraini, 2010).
(3)   Riwayat kesehatan keluarga
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang menyertainya (Anggraini, 2010).
d)     Riwayat Menstruasi
Untuk mengetahui kapan mulai menstruasi, siklus mentruasi, lamanya menstruasi, banyaknya darah menstruasi, teratur/tidak menstruasinya, sifat darah menstruasi, keluhan yang dirasakan sakit waktu menstruasi disebut disminorea (Estiwidani dkk, 2008).
e)     Riwayat Perkawinan
Yang perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah syah atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang jelas akan berkaitan dengan psikologisnya sehingga akan mempengaruhi proses nifas (Wulandari dan Handayani, 2011).
f)       Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu
Untuk mengetahui jumlah kehamilan dan kelahiran, riwayat persalinan yaitu jarak antara dua kelahiran, tempat kelahiran, lamanya melahirkan, dan cara melahirkan. Masalah atau gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan. Riwayat kelahiran anak, mencangkup berat badan bayi sewaktu lahir, adakah kelainan bawaan bayi, jenis kelamin bayi, keadaan bayi hidup/mati saat dilahirkan (Estiwidani dkk, 2008).
g)     Riwayat Keluarga Berencana
Data ini mengkaji alat kontrasepsi yang digunakan serta untuk mengetahui jenis KB, lama penggunaan, keluhan yang dialami Ibu sebagai efek samping dari alat kontrasepsi yang digunakan (Varney, 2007).
h)     Riwayat Kehamilan Sekarang
Menurut Saifuddin (2006), meliputi :
(1)      Hari pertama, haid terakhir serta kapan taksiran persalinannya.
(2)      Keluhan-keluhan pada trimester I, II, III.
(3)      Dimana ibu biasa memeriksakan kehamilannya.
(4)      Selama hamil berapa kali ibu periksa
(5)      Penyuluhan yang pernah didapat selama kehamilan
(6)      Pergerakan anak pertama kali dirasakan pada kehamilan
(7)      Imunisasi TT : sudah/belum imunisasi, berapa kali telah dilakukan imunisasi TT selama hamil.
i)       Riwayat Persalinan Sekarang
Untuk mengetahui tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan bayi meliputi panjang badan, berat badan, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini (Ambarwati dkk, 2010).
j)       Pola Kebiasaan Selama Masa Nifas
(1)      Nutrisi
Untuk mengetahui gambaran tentang pola makan dan minum, frekuensi, banyaknya, jenis makanan dan makanan pantangan (Ambarwati dkk, 2010).
(2)      Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah (Ambarwati dkk, 2010).
(3)      Istirahat/tidur
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien tidur, kebiasaan sebelum tidur, kebiasaan mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang. Istirahat sangat penting bagi ibu nifas karena dengan istirahat yang cukup dapat mempercepat penyembuhan (Anggraini, 2010).
(4)      Keadaan psikologis
Untuk mengetahui tentang perasaan ibu sekarang, apakah ibu merasa takut atau cemas dengan keadaan sekarang (Nursalam, 2008).
k)      Riwayat sosial budaya
Untuk mengetahui kehamilan ini direncanakan atau tidak, diterima atau tidak, jenis kelamin yang diharapkan dan untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan pasien khususnya pada masa nifas misalnya pada kebiasaan makan dilarang makan ikan atau yang amis-amis (Anggraini, 2010).
l)       Penggunaan obat-obatan / rokok
Untuk mengetahui apakah ibu mengkonsumsi obat terlarang ataukah ibu merokok (Manuaba, 2007).


2)     Data Objektif
Data objektif adalah data yang sesungguhnya dapat diobservasi dan dilihat oleh tenaga kesehatan (Nursalam, 2008).
a)     Status generalis
(1)   Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan umum klien apakah baik, sedang, buruk. Pada ibu nifas normal keadaan umum ibu baik (Alimul, 2006).
(2)   Kesadaran
Untuk mengetahui tingkatan kesadaran ibu, tingkat kesadaran ibu seperti composmentis, apatis, somnolen, soporocomatis, koma (Alimul, 2006). Kesadaran pada ibu nifas normal adalah composmentis (Wiknjosasto, 2007).
(3)   Tanda-tanda Vital
(a)   Tekanan darah
Untuk mengetahui tekanan darah klien, normal 120/80 mmHg (Varney, 2007). Apabila tekanan darah diatas 140/90 mmHg terjadi hipertensi (Wiknjosastro, 2007).


(b)   Nadi
Batas normal nadi berkisar antara 60 – 80 x/menit. Denyut nadi di atas 100 x/menit pada masa nifas adalah mengindikasikan adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya bisa diakibatkan oleh proses persalinan sulit atau karena kehilangan darah yang berlebihan (Anggraini, 2010).
(c)   Suhu
Suhu badan wanita inpartu tidak lebih dari 37,20C. Sesudah partus dapat naik 0,50C dari keadaan normal tetapi tidak melebihi 380C (Wiknjosastro, 2006).
(d)   Respirasi
Untuk mengetahui frekuensi pernapasan pasien yang dihitung dalam 1 menit (Saifuddin, 2006). Pernafasan harus berada dalam rentang yang normal yaitu sekitar 20-30x/menit (Ambarwati & Wulandari, 2010).
(4)   Tinggi badan
Untuk mengetahui tinggi badan pasien. Normalnya 155cm–165cm (Wiknjosastro, 2006).

(5)   LILA
Untuk mengetahui status gizi pasien. Normalnya tidak kurang 23,5 cm (Wiknjosastro, 2006).
b)     Pemeriksaan sistematis
(1)   Inspeksi
(a)   Rambut
Untuk mengetahui warna, kebersihan, mudah rontok atau tidak (Nursalam, 2008).
(b)   Muka
Untuk mengetahui keadaan muka pucat atau tidak adakah kelainan, adakah oedema (Nursalam, 2008).
(c)   Mata
Untuk mengetahui oedema atau tidak conjungtiva, anemia/tidak, sklera ikterik/tidak (Nursalam, 2008).
(d)   Mulut, gigi dan gusi
Untuk mengetahui ada stomatitis atau tidak, keadaan gigi, gusi berdarah atau tidak (Nursalam, 2008).



(e)   Abdomen
Untuk mengetahui ada luka bekas operasi/tidak, ada strie/tidak, ada tidaknya linea alba nigra (Saifuddin, 2006).
(f)     Vulva
Untuk mengetahui keadaan vulva adakah tanda-tanda infeksi, varices, pembesaran kelenjar bartolini dan perdarahan (Prihardjo, 2007).
(g)   Perineum
Untuk mengetahui keadaan perineum apakah ada oedema atau tidak, ada hematoma atau tidak, ada bekas luka episiotomi atau tidak (Prihardjo, 2006).
(h)   Anus
Untuk mengetahui ada haemoroid/tidak (Prihardjo, 2007).
(2)   Palpasi
(a)   Leher
Untuk mengetahui adakah pembesaran kelenjar thyroid, ada benjolan atau tidak, adakah pembesaran kelenjar limfe (Nursalam, 2008).
(b)   Dada
Untuk mengetahui keadaan payudara, simetris atau tidak, ada benjolan atau tidak, ada nyeri atau tidak (Nursalam, 2008)
(c)   Abdomen
Untuk mengetahui bagaimana kontraksinya, berapa tinggi fundus uterinya, kandung kemih kosong/penuh (Dewi dan Sunarsih, 2011).
(d)   Ekstremitas
Untuk mengetahui ada cacat atau tidak oedema atau tidak terdapat varices atau tidak (Prihardjo, 2007).
3)     Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendukung penegakan diagnosa seperti pemeriksaan laboratorium, rontgen, ultrasonografi (Varney, 2007).
b.     Langkah II : Interpretasi Data Dasar
Interpretasi data dasar merupakan rangkaian, menghubungkan data yang diperoleh dengan konsep teori, prinsip relevan untuk mengetahui kesehatan pasien. Pada langkah ini data diinterpretasikan menjadi diagnosa, masalah, kebutuhan (Varney, 2007).
Mengidentifikasi diagnosa kebidanan dan masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dalam langkah ini data yang telah dikumpulkan diinterpretasikan menjadi diagnosa kebidanan dan masalah. Keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tetapi membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam rencana asuhan terhadap pasien, masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang diidentifikasikan oleh bidan (Anggraini, 2010).
1)     Diagnosa Kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan Varney (2007). Diagnosa pada kasus ini adalah PIA0, nifas hari ke …
a)     Data subjektif
(1)      Ibu mengatakan ini kelahiran anak pertama.
(2)      Ibu mengatakan tidak pernah keguguran.
(3)      Ibu mengatakan melahirkan pada tanggal… pukul…
b)     Data objektif
(1)      Keadaan umum baik dan kesadaran composmentis.
(2)      TTV : Tekanan darah :…..mmHg, Nadi :…..x/m, Suhu :…..oC, Pernapasan :……x/m.
(3)      Abdomen : Kontraksi uterus : baik, TFU…..
(4)      Pengeluaran pervaginam : Lokhia rubra
(5)      Keadaan perineum : tidak terdapat tanda-tanda infeksi, kemerahan dan berbau.
2)     Masalah
Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang ditemukan dari hasil pengkajian yang menyertai diagnosa sesuai dengan keadaan pasien (Varney, 2007). Masalah yang sering terjadi pada ibu nifas primipara yaitu ibu merasa cemas, ketergantungan dalam perawatan bayinya dan kurangnya pengetahuan tentang perawatan bayi sehari-hari.
3)     Kebutuhan
Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan klien dan belum teridentifikasi dalam diagnosa dan masalah. Didapatkan dengan menganalisa data (Varney, 2007). Kebutuhan pada nifas primipara yaitu berupa dukungan moril dan konseling tentang perawatan diri dan bayinya.


c.      Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Pada langkah ini mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien. Bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi (Varney, 2007).
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi. Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini (Anggraini, 2010)
d.     Langkah IV : Menetapkan Kebutuhan dan Tindakan Segera
Tahap ini dilakukan oleh bidan dengan melakukan identifikasi dan menetapkan beberapa kebutuhan setelah diagnosis dan masalah ditegakkan. Kegiatan bidan pada tahap ini adalah konsultasi, kolaborasi dan melakukan rujukan (Varney, 2007).

Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Anggraini, 2010).
e.     Langkah V : Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya atau diagnosa yang telah diidentifikasikan atau diantisipasi (Varney, 2007).
1)     Jelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan
Rasional : pengetahuan Ibu bertambah sehingga ibu lebih kooperatif dan ibu dapat mengetahui kondisi tubuhnya.
2)     Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital.
Rasional : keadaan umum ibu menunjukan perubahan ibu apakah membaik atau memburuk. Tanda-tanda vital merupakan parameter bagi tubuh jika terdapat suatu kelainan tubuh.
3)     Mengobservasi TFU, kontraksi uterus dan pengeluaran Lokhia.
Rasional : sebagai indikator kemajuan proses involusio berlangsung normal atau tidak.
4)     Membantu ibu memenuhi kebutuhan dasar dengan cara melakukan personal hygiene terutama kebersihan alat genetalia.
Rasional : dengan melakukan personal hygiene, ibu dapat terhindar dari resiko infeksi serta meningkatkan perasaan yang nyaman pada ibu.
Rasional : Manfaat ASI ada berbagai macam antara lain : sebagai nutrisi, sebagai daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan, meningkatkan jalinan kasih sayang, menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bayi menjadi lebih baik
5)     Anjurkan ibu untuk menkonsumsi makan-makanan yang bergizi berupa makanan yang tinggi kalori, tinggi protein, dan tinggi serat dan menberikan ibu minum yang cukup serta pastikan ibu memakan dan menghabiskan makanan yang telah diberikan.
Rational : Dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi proses laktasi. Apabila ibu kurang istirahat akan mempengaruhi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat involusi uterus, menyebabkan depresi serta ketidakmampuan untuk merawat bayinya dan dirinya sendiri.
6)     Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, kurangi aktifitas yang berlebihan.
Rasional : Seorang wanita yang dalam masa nifas dan menyusui memerlukan waktu yang lebih banyak untuk istirahat karena sedang dalam proses penyembuhan terutama organ-organ reproduksi dan untuk kebutuhan menyusui bayinya.
7)     Anjurkan ibu untuk mobilisasi dini, misalnya seperti gerakan miring kiri dan kanan atau duduk di temapt tidur dan berjalan-jalan disekitar ruanganya dan pergi kekamar mandi sendiri dengan pelan-pelan dan di pantau keluarga.
Rasional : mobilisasi dini dapat melancarkan pengeluaran lochia, mengurangi infeksi peurperium dan mempercepat involusi alat kandungan
8)     Menganjurkan ibu merawat payudaranya, menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama putting susu (bersihkan payudara ibu sebelum dan sesudah menyusui bayinya dengan kain hangat dan kain lap yang bersih) dan gunakan BH yang menyokong payudara.
Rasional : perawatan payudara bagi ibu menyusui, untuk melancarkan sirkulasi darah dan mecegah tersumbatnya saluran susu, sehingga mempelancar pengeluaran susu.
9)     Berikan HE tentang ASI eksklusif yaitu pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain dan membantu ibu untuk menyusui bayinya dan pantau kemajuan laktasi.
Rasional : ASI sangat penting untuk bayi. Manfaat ASI ada berbagai macam antara lain : sebagai nutrisi, sebagai daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan, meningkatkan jalinan kasih sayang, menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan bayi menjadi lebih baik.
10)  Berikan HE tentang hubungan seksual masa nifas yaitu apabila perdarahan telah berhenti dan luka jahitan perineum sudah sembuh maka hubungan seksual bisa dilakukan pada 3-4 minggu setelah persalinan.
Rasional : berhubungan seksual selama masa nifas berbahaya apabila pada saat itu mulut Rahim masih terbuka akan akan beresiko. Mudah terkena infeksi kuman yang hidup diluar hingga menyebabkan infeksi.
11)  Memberikan HE tentang tanda bahaya masa nifas seperti seperti perdarahan yang banyak dari jalan lahir, sakit kepala yang hebat, pandangan mata kabur, demam tinggi dan pengeluaran vagina yang berbau busuk.
Rasional : mengenali secara dini tanda bahaya pada masa nifas,  ibu dapat segera memeriksakan keadaanya ke tenaga kesehatan apabila terjadi hal tersebut serta meningkatkan kemandirian ibu.
12)  Memberikan konseling tentang keluarga berencana secara dini dan pemakaian alat kontrasepsi yang akan di pakai ibu untuk menjarakkan kehamilan.
Rasional : KB merupakan salah satu usaha memabantu keluarga atau individu merencanakan kehidupan berkeluargannya dengan baik, sehingga dapat mencapai keluarga berkualitas.
13)  Berikan HE tentang perawatan bayi sehari-hari seperti memandikan bayi, menjaga kebersihan bayi, menjaga kehangatan bayi dan mengganti popok.
Rasional : pengetahuan ibu nifas primipara dalam merawat bayinya adalah sangat penting karena dengan pengetahuan yang cukup, maka ibu nifas mampu melakukan perawatan bayinya dengan benar.
14)  Memberikan HE tentang kunjungan ulang untuk pemeriksaan kesehatan ibu dan bayi ke pelayanan kesehatan serta membawa bayi ke posyandu untuk penimbangan mendapatkan imunisasi
Rasional : untuk memastikan ibu dan bayi dalam keadaan baik serta bayi mendapat imunisasi lengkap, memastikan pertumbuhan dan perkembangan anaknya berjalan dengan optimal.
15)  Kolaborasi dengan dokter atau bidan untuk pemberian Therapy.
Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri dan mempercepat proses penyembuhan ibu.
16)  Mengajarkan ibu untuk minum obat tidak menggunakan teh, susu atau kopi, sebaiknya menggunakan air putih.
Rasional : minum obat dengan air putih agar obat cepat larut serta mempercepat proses absorbsi obat dalam lambung.
f.       Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan
Menurut Varney (2007), pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Pelaksanaan asuhan ini dapat dilakukan mandiri maupun kolaborasi atau melakukan rujukan bila perlu melakukannya.
g.     Langkah VII : Evaluasi
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terh
adap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau merencanakan kembali yang belum terlaksana (Anggraini, 2010).
3.      Pendokumentasian
Data perkembangan yang digunakan dalam laporan kasus ini adalah SOAP menurut Varney (2007), adalah sebagai berikut :
a)     Subjektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesa.
b)     Objektif
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung assesment.
1)     Keadaan umum baik dan kesadaran composmentis.
2)     TTV : Tekanan darah :…..mmHg, Nadi :…..x/m, Suhu :…..oC, Pernapasan :……x/m.
3)     Abdomen : Kontraksi uterus : baik, TFU…..
4)     Pengeluaran pervaginam : Lokhia sangulenta
5)     Keadaan perineum : tidak terdapat tanda-tanda infeksi, kemerahan dan berbau.
c)     Assesment
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa interpretasi data subyektif dan obyektif dalam suatu identifikasi. Assesment pada kasus ini adalah PIA0, Nifas hari ke…
d)     Planning
Menggambarkan pendokumentasian tindakan dan evaluasi dari perencanaan, berdasarkan assesment.



No comments:

Post a Comment

jangan komen yang aneh-aneh