9/10/2018

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN JIWA ISOLASI SOSIAL


 BY SITI MUTIAH CC: FOR CREDIT
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sehat menurut WHO adalah keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan, tidak hanya terbebas dari penyakit serta kelemahan.
    Gambaran menurut penelitian WHO (2009), prevalensi masalah kesehatan jiwa saat ini cukup tinggi, sekitar 10% orang dewasa mengalami gangguan jiwa saat ini dan 25% penduduk dunia diperkirakan akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu hidupnya. Usia ini biasanya terjadi pada dewasa muda antara 18-20 tahun 1% diantaranya adalah gangguan jiwa berat, potensi seseorang mudah terserang gangguan jiwa memang tinggi, setiap saat 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, saraf  maupun perilaku. Salah satu bentuk gangguan jiwa yang paling banyak terjadi di seluruh dunia adalah gangguan jiwa skizofrenia. Prevalensi skizofrenia didunia 0,1 per mil dengan tanpa memandang perbedaan status sosial atau budaya.
   Menurut National Institute of Mental Health gangguan jiwa mencapai 13% dari penyakit secara keseluruhan dan diperkirakan akan berkembang menjadi 25% di tahun 2030. Kejadian tersebut akan memberikan andil meningkatnya prevalensi gangguan jiwa dari tahun ke tahun di berbagai Negara. Berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2004, diperkirakan 26,2% penduduk yang berusia 18-30 tahun atau lebih mengalami gangguan jiwa, jika prevalensi gangguan jiwa diatas 100 jiwa per 1000 penduduk dunia, maka berarti di Indonesia mencapai 264 per 1000 penduduk.
   Hasil Riset Dasar Kesehatan Nasional Tahun 2007, menyebutkan bahwa sebanyak 0,46 per mil masyarakat Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. Mereka adalah yang diketahui mengidap skizofrenia dan mengalami gangguan psikotik berat  (Depkes RI, 2007).
Prevalensi gangguan jiwa tertinggi di Indonesia terdapat di Provisi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (24,3%), di ikuti Nangroe Aceh Darussalam (18,5%), Sumatra Barat (17,7%), NTB (10,9%), Sumatera Selatan (9,2%), dan Jawa Tengah (6,8%) (Depkes RI, 2008).
Kebijakan Pemerintah dalam menangani pasien gangguan jiwa tercantum dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan jiwa, disebutkan dalam pasal 149 ayat (2) mengatakan bahwa Pemerintah dan masyarakat wajib melakukan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan jiwa yang terlantar, menggelandang, mengancam keselamatan dirinya dan mengganggu ketertiban atau keamanan umum, termasuk pembiayaan pengobatan dan perawatan penderita gangguan jiwa untuk masyarakat miskin.
Peran perawat dalam penanggulangan klien dengan gangguan konsep diri : Isolasi Sosial Menarik Diri meliputi peran promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative. Pada peran promotif, perawat meningkatkan dan memelihara kesehatan mental melalui penyuluhan dan pendidikan untuk klien dan keluarga. Dari aspek preventif yaitu untuk meningkatkan kesehatan mental dan pencegahan gangguan konsep diri : Isolasi Sosial Menarik Diri. Sedangkan pada peran kuratif  perawat merencanakan dan melaksanakan rencana tindakan keperawatan untuk klien dan keluarga. Kemudian peran rehabilitative berperan pada follow up perawat klien dengan gangguan konsep diri : Isolasi Sosial Menarik Diri melalui pelayanan di rumah atau home visite.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan gambaran masalah di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “Asuhan keperawatan jiwa dengan gangguan dengan Gangguan Isolasi Sosial Menarik Diri di Ruang Sub akut wanita RSKD Maluku, sebagai Kasus Seminar PKK jiwa.
C.    Tujuan Penulisan
  1. Tujuan Umum
Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada Nn. W.I dengan Isolasi sosial di RSKD Maluku


  1. Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa dapat melakukan pengkajian pada Nn.W.I  dengan Isolasi sosial.
b.      Mahasiswa dapat merumuskan diagnosa pada Nn.W.I  dengan Isolasi sosial
c.       Mahasiswa dapat menetukan intervensi keparawatan pada Nn.W.I  dengan Isolasi sosial
d.      Mahasiswa dapat melakukan tindakan keperawatan pada Nn.W.I  dengan Isolasi sosial.
e.       Mahasiswa dapat melakukn evaluasi keperawatan pada Nn.W.I  dengan Isolasi sosial
D.    Manfaat
  1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis diharapkan makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi pembaca khususnya mahasiswa jurusan keperawatan.
  1. Manfaat Praktis
Hasil makalah ini dapat memberikan sumbangan dan masukan mengenai Asuhan Keperawatan Dengan Klien Isolasi sosial.














BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Konsep Dasar Isolasi sosial
1)      Pengertian
            Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Klien  mungkin merasa ditolak, tidak terima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain (Deden dan Rusdi,2013).
Isolasi sosial adalah suatu sikap dimana individu menghindari diri dari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi, atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanifeetasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup membagi pengamatan dengan orang lain ( Balitbang, 2007 )
Kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpresonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (Depkes RI, 2000)
Kesimpulan : isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana indifidu tidak mau mengadakan interaksi terhadap komunitas disekitarnya, atau sengaja menghindari untuk berinteraksi yang dikarnakan orang lain atau keadaan disekitar diangap mengancam bagi individu tersebut.
2)      Tanda dan Gejala
Berikut ini adalah tanda dan gejala klien dengan isolasi sosial. (Nita Fitria. 2014)
a.       Kurang spontan
b.      Apatis ( acuh terhadap lingkungan )
c.       Ekspresi wajah kurang berseri
d.      Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan diri
e.       Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
f.        Mengisolasi diri
g.      Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
h.      Asupan makanan dan minuman terganggu
i.        Retensi urine dan feces
j.        Aktivitas menurun
k.      Kurang energi ( tenaga )
l.        Rendah diri
m.    Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus / janin ( khususnya pada posisi tidur )

3)      Rentang Respon
Respon Adaptif                                                          Respon Maladatif


 


      



Rentang Respon Isolasi Sosial
Sumber: Townsend (1998)

Berikut ini akan dijelaskan tentang respon yang terjadi pada isolasi sosial :
1)      Respon Adaptif
Respon Adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya secara umum yang berlaku.Dengan kata lain individu tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah.Berikut ini adalah sikap yang termasuk respon adaptif :
1)       Menyendiri
Respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang terjadi dilingkungan sosialnya


2)       Otonomi
Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide, pikiran,dan perasaan dalam hubungan sosial
3)       Bekerja keras
Kemampuan individu saling membutuhkan satu sama lain.
4)       Interdependen
Saling ketergantungan antar individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal
2)      Respon Maladaptif
Respon Maladaptif adalah respon yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan disuatu tempat.Berikut ini adalah perilaku yang termasuk respon maladaptif :
1)       Menarik diri
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
2)       Ketergantungan
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain.
3)       Manipulasi
Seseorang yang menganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat dapat membina hubungan sosial secara mendalam
4)       Curiga
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.
4)      Etiologi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan isolasi sosial adalah:
            1. Faktor Predisposisi
a.          Faktor Perkembangan
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang wajib dilalui individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat dipenuhi, akan menghambat masa perkembangan selanjutnya. Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan pengalaman bagi individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari ibu/pengasuh pada bayi bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidakpercayaan tersebut dapat mengembangkan tingkah laku curiga pada orang lain maupun lingkungan di kemudian hari. Komunikasi yang hangat sangat penting dalam masa ini, agar anak tidak mersaa diperlakukan sebagai objek.

Tahapan perkembangan
Tugas
Masa bayi
Menetapkan rasa percaya
Masa bermain
Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri
Masa pra sekolah
Belajar menunjukkan inisiatif, rasa tanggung jawab dan hati nurani
Masa sekolah
Belajar berkompetisi, bekerjasama dan berkompromi
Masa pra remaja
Menjalin hubungan intim dengan teman sesama jenis kelamin
Masa remaja
Menjadi intim dengan teman lawaan jenis atau bergantung
Masa dewasa muda
Menjadi saling bergantung antara orang tua dan teman mencari pasangan menikah dan mempunyai anak
Masa tengah baya
Belajar menerima hasil kehidupan yang sudah di lalui
Masa dewasa tua
Berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya
Sumber: Stuart dan Sundeen (1995), hlm. 346 dikutip dalam fitria (2009)

b.      Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Ganguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (Double bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar keluarga.
c.       Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini di sebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, diamana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
d.      Faktor Biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan dalam hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta perhubungan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbic dan daerah kortikal.
2. Faktor Prespitasi
Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat di timbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat di kelompokan sebagai berikut:
a.       Faktor Eksternal
Contohnya adalah stressor soaial budaya, yaitu stree yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya seperti keluarga.
b.      Faktor Internal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu sress terjadi akibat anxietas atau kecemasan yang berkepanjangan dan terjadinya bersama dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Anxietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.

5)      Pohon Masalah
Risti Mencederai diri, Orang Lain, dan Lingkungan

             Defisit Perawatan diri                                                Halusinasi


 
             Intoleransi aktivitas                                                  Isolasi Sosial


 


             Harga Diri Rendah Kronis
   
             Koping individu tidak efektif                        Koping Keluarga tidak efekti



6)      Masalah Keperawatan Yang mungkin muncul
a.       Isolasi Sosial
b.      Harga Diri rendah Kronis
c.       Perubahan Persepsi sensori : Halusinasi
d.      Defisit Perawatan Diri
e.       Koping Individu Tidak Efektif
f.       Koping Keluarga Tidak efektif
g.      Intoleransi aktifitas
h.      Defisit perawatan diri
i.        Resti mencedarai diri,orang lain dan lingkungan.

7)      Data yang Perlu dikaji

Masalah Keperawatan Keperawatan
Data yang perlu dikaji
Isolasi Sosial
1.      Subjektif
a.              Klien mengatakan mulai bergaul dengan orang lain.
b.             Klien mengatakn dirinya tidak ingin ditemani perawat dan meminta untuk sendirian
c.              Klien mengatakan tidak mau berbicara dengan orang lain.
d.             Tidak mau berkomunikasi
e.              Dta tentang klien biasanya didapat dari keluarga yang mengetahui keterbukaan klien
2.      Objektif
a.              Kurang spontan
b.              Apatis
c.              Ekspresi wajah kurang berseri
d.              Todak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
e.              Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
f.               Mengisolasi diri
g.              Asupan makanan dan minuman terganggu
h.              Retensi urine dan feses
i.                Aktivitas menurun
j.                Kurang berenergi atau bertenaga
    k.      Rendah diri














B. Konsep Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian Keperawatan
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor , suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian ,tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :
a.       Identitas klien
Meliputi nama klien , umur , jenis kelamin , status perkawinan, agama, tangggal MRS , informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.
b.      Keluhan utama
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain ,tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen.
c.       Factor predisposisi
Kehilangan , perpisahan , penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis ,kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial.
Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami , putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan , tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.
d.      Aspek fisik/biologis
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien.
e.       Aspek Psikososial
a.       Genogram yang menggambarkan tiga generasi
b.      Konsep diri


f.        Citra tubuh

Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh , persepsi negatip tentang tubuh . Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang , mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan.
g.      Identitas diri
Ketidak pastian memandang diri , sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan .
h.      Peran
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses menua , putus sekolah, PHK.
i.        Ideal diri
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi
j.        Harga diri
Perasaan malu terhadap diri sendiri , rasa bersalah terhadap diri sendiri , gangguan hubungan sosial , merendahkan martabat , mencederai diri, dan kurang percaya diri.
1)              Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga social dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam masyarakat.
2)              Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual)
3)              Status mental
k.      Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata , kurang dapat memulai pembicaraan , klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain , Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam    hidup.
1)      Kebutuhan persiapan pulang
2)      Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan
3)      Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC,   membersikan dan merapikan pakaian.
4)      Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi
5)      Klien dapat melakukan istirahat dan tidur , dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah
6)      Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.
7)      Mekanisme koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri).
l.        Aspek medik
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi  ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.
2.    Diagnosa Keperawatan
a.       Isolasi Sosial


















Diagnosa keperawatan
Tujuan
Perencanaan
Kriteria evaluasi
Intervensi
Isolasi sosial
Sp 1 :
Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri

Sp 1:
Berdiskusi dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain

Sp1 : berdiskusi dengan klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain

Sp 1:
Klien diajarkan oleh perawat tentang cara berkenalan dengan satu orang
Sp 1 : klien dapat memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian



Setelah dilakukan 2x interaksi klien mampu:
·         Menyebutkan penyebab menarik diri
·         Menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain
·         Menyebutkan kerugian berinteraksi dengan orang lain
·         Klien dapat memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian
1.      Dorong klien untuk mampu menyebutkan penyebab menarik diri
2.      Berdiskusikan  dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
3.      Diskusikan dengan klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4.      Ajarkan kliententang cara berkenalan dengan satu orang
5.      Memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian


Sp 2:
Jadwal kegiatan harian klien klien terdapat evaluasi mengenai kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain

Sp 2:
Klien dapat mempraktikan cara berkenalan dengan satu orang




Sp 2:
Klien dapat memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan

Setelah dilakukan 2x interaksi klien mampu:
·         Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
·         Mempraktikan cara berkenalan dengan satu orang
·         Memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan
1.      Evaluasi kegiatan harian klien klien terdapat evaluasi mengenai kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain
2.      Dorong klien mempraktikan cara berkenalan dengan satu orang
3.      Memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan

Sp 3: klien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien

Sp 3:
Klien dapat berkenalan dengan dua orang/ lebih

Sp 3:
Klien dapat memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan dua orang atau lebih ke dalam jadwal kegiatan harian

Setelah dilakukan 2x interaksi klien mampu:
·         Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
·         Berkenalan dengan dua orang/ lebih
·         Memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan dua orang atau lebih ke dalam jadwal kegiatan harian

1.      Evaluasi jadwal kegiatan harian klien
2.      Dorong klien berkenalan dengan dua orang/ lebih
3.      Memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan dua orang atau lebih ke dalam jadwal kegiatan harian


BAB III
KAJIAN KASUS

RUANG RAWAT                : Sub Akut Wanita
TANGGAL DIRAWAT      : 07 Oktober 2016

 I.         IDENTITAS KLIEN
Inisial                   : Nn. W.I
Jenis Kelamin      : Perempuan
Umur                   : 16 Tahun
No. CM               : 02-88-49

 II.      ALASAN MASUK
Klien masuk RSKD diantar oleh keluarga dengan keluhan gelisah, bila gelisah Klien bicara dan tertawa sendiri, Klien kadang keluar rumah tampa tujuan sehingga ± 1 bulan dipasung oleh keluarga. Klien kadang mengurung diri dan duduk sendirian di rumah dan tidak ingin bergaul dengan teman-temannya. Klien juga kadang mengamuk,  jika keinginannya tidak di penuhi Klien melempar rumahnya dengan batu.

III.      FAKTOR PREDISPOSISI
1.      Pernah mengalami gagguan jiwa dimasa lalu ?
      Iya ( Sekitar tahun 2012, klien riwayat berobat jalan di Poli RSKD Ambon)
2.      Pengobatan sebelumnya ?
      Kurang berhasil karena klien tidak meminum obatnya.
3.      Trauma ?
Klien memiliki riwayat trauma saat SMP kelas 2 yaitu sering dipukuli oleh teman temannya
4.      Anggota keluarga yang gangguan jiwa ?
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan  jiwa.

5.      Pengalaman masa lalu ya ng tidak menyenangkan ?
Klien memiliki pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan yaitu pada SMP kelas 2 klien pernah dipukul oleh temannya.
Masalah Keperawatan : Resiko perilaku kekerasan

 III.      PEMERIKSAAN FISIK
1.      TTV                           : TD 110/70     N : 80 x/m       S : 36,8°C        P : 22 x/m
2.      UKUR                       : BB                 TB :
3.      KELUHAN FISIK    : Klien mengatakan tidak mengeluh sakit fisik.

 IV.      PSIKOSOSIAL
1.      Genogram


 








           

Keterangan :
                                    : Laki-laki
                                   
                                    : Perempuan
                                    : Meninggal
                                    : Pasien
                  .……..        : Tinggal serumah
                
Klien anak ke-2 dari 6 bersaudara, klien dan saudara-saudaranya tinggal bersama kedua orang tuanya. Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan klien.
2.      Konsep Diri
a.       Citra tubuh
Klien mengatakan senang dengan dirinya dan menyukai seluruh anggota tubuhnya.
b.      Identitas klien
Klien mengatakan namanya nini, dan bangga menjadi perempuan.
c.       Peran
Klien mengatakan perannya di rumah sebagai anak, dan merupakan anak ke-2 dari 6 saudara.
d.      Ideal diri
Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan ingin cepat pulang.
e.       Harga diri
Klien mengatakan tidak merasa malu dengan dirinya dan tidak merasa malu berada di sini.
            Masalah Keperawatan         : Tidak Ada
3.      Hubungan sosial
a.       Orang yang berarti
Klienn mengatakan orang yang paling dekat dengannya adalah ayahnya.
b.      Peran serta dalam masyarakat
Tidak ada, klien mengatakan tidak melakukan kegiatan apa-apa dan lebih sering menghabiskan waktu dan duduk sendiri di rumah
c.       Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien mengatakan tidak pernah bergaul dengan teman-teman di rumah dan di Rumah sakit, klien lebih sering duduk sendiri di dalam ruangan.
            Masalah Keperawatan         : Isolasi Sosial


4.      Spiritual
a.       Nilai dan keyakinan
Klien beragama islam dan percaya kepada Tuhan.
b.      Kegiatan Ibadah
Klien mengatakan saat di rumah melaksanakan shalat dan mengaji namun di rumah sakit tidak pernah shalat.
             Masalah Keperawatan        : Tidak Ada
 V.         Status Mental
1.      Penampilan
Penampilan klien tidak rapi dibuktikan dengan rambut klien acak-acakan, kancing baju tidak terpasang.
Masalah Keperawatan      : Defesit perawatan diri
2.      Pembicaraan
Pembicaraan lambat, klien tidak mampu memulai pembicaraan dan saat diajak berbicara klien dapat merespon namun lambat dan berbicara juga lambat.
Masalah Keperawatan      : Kerusakan komunikasi verbal
3.      Aktivitas Motorik
Klien tampak tenang tetapi lebih banyak di tempat tidur
Masalah Keperawatan      : Tidak ada
4.      Alam Perasaan
Sedih, dibuktikan dengan Klien sering duduk termenung sendiri dan kadang menangis tampa sebab.
5.      Afek
Tumpul, dibuktikan dengan klien hanya bereaksi jika ada stimulasi emosi yang kuat dari perawat.
Masalah Keperawatan      : Isolasi sosial
6.      Interaksi Selama Wawancara
Kontak mata kurang, dibuktikan dengan saat wawancara klien tidak menatap perawat.
Masalah Keperawatan      : Isolasi social


7.      Persepssi
Halusinasi pendengaran, Klien mengatakan sering mendengar ada suara perempuan yang berbicara pada dirinya, frekuensinya 3 kali pada waktu pagi, siang dan malam, Klien sering mendengar suara tersebut pada waktu sendiri, Klien juga tidak merasa terganggu dengan suara tersebut, dan sering berbicara dengan suara tersebut.
Masalah Keperawatan      : Perubahan persepsi sensorik : Halusinasi
8.      Isi pikiran
Obsesi : pasien terobsesi menjadi peringat 1 di kelasnya
Masalah Keperawatan      : Perubahan proses berpikir
9.      Tingkat Kesadaran
Disorientasi tempat, dibuktikan dengan selalu mengatakan kalau dirinya sekarang berada di Rumah Sakit Arbes.
Masalah Keperawatan      : Perubahan proses berpikir
10.  Memori
Daya ingat Klien cukup baik, dibuktikan dengan pasien mampu mengingat kejadian masa lalu.
11.  Tingkat Konsentrasi Dan  Berhitung
Konsentrasi Klien baik, dibuktikan dengan pasien mampu berhitung mundur dari anggka 5-1, Klien juga mampu berhitung sederhana seperti menjumlahkan angka.
12.  Kemampuan Penilaian
Klien tidak mengalami gangguan penilaian, dibuktikan dengan ketika ditanya pada Klien  untuk memilih makan dulu atau mandi, Klien mengatakan mandi dulu kemudian makan agar bersih.
Masalah Keperawatan      : Tidak ada
13.  Daya tilik diri
Mengingkari penyakit yang diderita, dibuktikan dengan Klien mengatakan dirinya berada di RS Arbes dan mengatakan bahwa dirinya tidak sakit.
Masalah Keperawatan      : Perubahan proses berpikir

 VI.      KEBUTUHAN PERENCANAAN PULANG
1.      Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
Klien mampu memenuhi kebutuhan sendir seperti makan, mandi, dan BAB/BAK dengan mandiri.
2.      Kegiatan sehari-hari
a.       Perawatan Diri
Klien mampu melakukan perawatan diri secara mandiri seperti mandi memakai sabun, menyikat gigi, dan memakai shampoo dengan mandiri. Namun klien tidak mampu berhias ditandai dengan rambut acak-acakan, pakaian tidak rapi, dan pasien jarang berdandan.
      Masalah Keperawatan            : Defisit perwatan diri
b.      Nutrisi
Klien mengatakan merasa puas dengan pola makannya, pasien makan bersama-sama dengan teman yang lainnya dimeja makan, Klien makan 3 kali sehari, nafsu makan klien baik tidak meningkat dan tidak menurun.
c.       Tidur
Klien mempunyai masalah tidur saat siang hari (tidak tidur) dan pasien tidur malam dari jam 21.00 WIT dan bangun pada pukul 05.00 WIT
3.      Kemampuan klien dalam mengantisipasi kebutuhan sehari
a.       Mengantisipasi Kebutuhan Sendiri
Ya, pasien mampu mengantisipasi kebutuhannya sendiri
b.      Membuat Keputusan Sendiri
Ya, klien mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri
c.       Mangatur penggunaan obat
Tidak, penggunaan obat klien diatur oleh perawat
d.      Melakukan Pemeriksaan Kesehatan
Ya, klien pernah melakukan pemeriksaan kesehatan di Poli RSKD Ambon

4.      Klien memiliki sistem pendukung
Ya, klien memiliki sistem pendukung yaitu keluarga
5.      Klien tidak mempunyai kegiatan yang produktif ataupun hobi tertentu
 VII.   MEKANISME KOPING
1.      Maladaptif
Reaksi klien dalam menyelesaikan masalah yaitu, lebih banyak menangis dan mengurung diri.
VIII.   MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
1.      Masalah dengan dukungan dan kelompok
Klien mendapat dukungan dari keluarga dibuktikan dengan adanya keluarga yang datang menjenguk.
2.      Masalah dengan pendidikan
Klien ada masalah dengan pendidikan dibuktikan dengan klien putus sekolah pada SMP kelas 2. Tetapi, klien bisa membaca, menulis, dan berhitung.
3.      Masalah dengan pekerjaan
Klien mengatakan tidak ada masalah dengan pekerjaan karena memang klien tidak bekerja.
4.      Masalah dengan perumahan
Klien mengatakan memiliki rumah dan tinggal bersama keluarganya.
5.      Masalah dengan  ekonomi
Klien mengatakan kebutuhannya terpenuhi karena dipenuhi oleh orang tuanya.
6.      Masalah dengan penilaian kesehatan
Sebelumnya klien pernah riwayat berobat jalan di Poli RSKD Ambon.
    IX.   KURANG PENGETAHUAN TENTANG
1.      Penyakit jiwa
Klien tidak mengetahui penyakit jiwa yang klien alami sekarang, klien belum mengetahui cara pengaobatan yang harus dilakukan, karena kurang pengetahuan. Klien mengingkari penyakit yang dideritanya sekarang.
Masalah Keperawatan      : Kurang pengetahuan
       X.   TERAPI
Risperidone 2 mg 2x1
Chlorpromazine 1x1
Hexymer 1x1
   XI. Diagnosa Medik :
               Skizofrenia
    XI.   MASALAH
1.      Isolasi sosial
2.      Perubahan persepsi sensorik : Halusinasi
3.      Defesit perawatan diri
4.      Perubahan proses berpikir
5.      Kerusakan komunikasi verbal
6.      Kurang pengetahuan
7.      Resiko perilaku kekerasan
 XII.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi Sosial


















ANALISA DATA


TANGGAL
DATA
MASALAH
24-10-2016
DS:
·         Klien mengatakan tidak pernah bergaul dengan teman-teman di rumah dan di Rumah sakit
·         Klien lebih sering duduk sendiri di dalam ruangan.
DO :
·         Klien tampak duduk diam sendiri
·         Kontak mata kurang
·         Klien tampak Tenang dan lebih banyak mengurung diri.
·         Afek tumpul, dibuktikan dengan Klien hanya bereaksi jika ada stimulasi emosi yang kuat dari perawat
·         Selama wawancara kontak mata kurang, dibuktikan dengan saat wawancara klien tidak menatap perawat.
Isolasi sosial : Menarik diri
24-10-2016
DS :
·         Klien mengatakan sering mendengar ada suara perempuan yang berbicara pada dirinya
·         Frekuensinya 3 kali pada waktu pagi, siang dan malam.
·         Klien sering mendengar suara tersebut pada waktu sendiri, dan tidak merasa terganggu dengan suara tersebut.
·         Klien sering berbicara dengan suara tersebut.
DO :
·         Klien tampak tersenyum dan tertawa sendiri
·         Klien tampak berbicara sendiri


Perubahan persepsi sensorik : Halusinasi
24-10-2016
DS : -
DO :
·         Penampilan klien tidak rapi dibuktikan dengan rumbut klien acak-acakan, kancing baju tidak terpasang, dank lien jarang berdandan.
Defesit perawatan diri
24-10-2016
DS :
·         Klien mengatakan dirinya sekarang berada di  RS Arbes
DO :
·         Disorientasi tempat
·         Obsesi
·         Mengingkari penyakit yang diderita, dibuktikan dengan Klien mengatakan dirinya berada di RS Arbes dan mengatakan bahwa dirinya tidak sakit.
Perubahan proses berpikir
24-10-2016
DS : -
DO :
·         Pembicaraan lambat, Klien tidak mampu memulai pembicaraan dan saat diajak berbicara Klien dapat merespon namun lambat dan berbicara juga lambat.


Kerusakan komunikasi verbal
24-10-2016
DS : -
DO :
·          
Kerusakan interaksi sosial
24-10-2016
DS :
·         Klien mengatakan tidak mengetahui penyakit jiwa yang dialami sekarang, klien belum mengetahui cara pengobatan yang harus dilakukan, karena kurang pengetahuan.
DO :
·         Klien mengingkari penyakit yang dideritanya sekarang.
Kurang pengetahuan
24-10-2016
DS : -
DO :
·         Klien kadang mengamuk dirumah,  jika keinginannya tidak di penuhi klien melempar rumahnya dengan batu.
·         Klien memiliki pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan yaitu pada SMP kelas 2 klien pernah dipukul oleh temannya.

Resiko perilaku kekerasan

POHON MASALAH



                                                Risti mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Defisit perawatan diri
                                                             Perubahan persepsi sensorik : Halusinasi








Text Box: ISOLASI SOSIAL
 


Intoleransi aktifitas








 


                                                                                    Harga diri rendah

Koping individu tidak efektif             Koping keluarga tidak efektif




















RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


No

TGL
Dx. Keperawatan
Tujuan
Kriteria Evaluasi
Intervensi
Rasional

1.

24-10-2016

Isolasi sosial : Menarik diri

SP 1
·         Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri.
·         Klien mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain.
·         Klien mampu menyebutkan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
·         Klien diajarkan oleh perawat tentang cara berkenalan dengan orang lain.
·         Klien dapat memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.


Seetelah dilakukan 2 X interaksi, kliem mampu :
·         Menyebutkan penyebab menarik diri.
·         Menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain.
·         Menyebutkan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
·         Memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.

1.      Dorong klien untuk mampu menyebutkan penyebab menarik diri.
2.      Diskusikan bersama klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain.
3.      Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
4.      Ajarkan klien cara berkenalan dengan orang lain.
5.      Masukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian.

1.      Dapat ditemukan mekanisme  koping klien dalam berinteraksi sosial, serta strategi apa yang akan diterapkan pada klien.
2.      Maka klien akan termotivasi untuk berinteraksi dengan orang lain.
3.      Meningkatkan konsep diri klien.
4.      Membantu klien mencapai interaksi sosial secara bertahap.




SP 2
·         Jadwal kegiatan harian dapat terevaluasi mengenai kegiatan berbincang dengan orang lain.
·         Klien dapat mempraktikkan cara berkenalan dengan satu orang.
·         Klien dapat memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.


Setalah dilakukan 2 X interaksi, klien mampu :
·         Mengevaluasi kegiatan harian klien mengenai kegiatan berbincang dengan orang lain.
·         Mempraktikkan cara berkenalan dengan satu orang.
·         Memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.


1.      Evaluasi kegiatan harian klien mengenai kegiatan berbincang dengan orang lain.
2.      Dorong klien untuk mempraktikkan cara berkenalan dengan satu orang.
3.      Masukan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.


1.         Untuk merencanakan kegiatan selanjutnya apakah klien dapat melakukan interaksi sosial dengan dua atau lebih.
2.         Untuk melihat dan merasakan secara langsung keuntungan dari berinteraksi sosial.
3.         Akan membantu klien dalam mencapai interaksi sosial secara bertahap





SP 3
·         Klien dapat mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
·         Klien dapat berkenalan dengan dua orang atau lebih.
·         Klien dapat memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan dua orang atau lebih ke dalam jadwal kegiatan harian.

Setelah dilakukan 2 X interaksi, klien mampu :
·         Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
·         Berkenalan dengan dua orang atau lebih.
·         Memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan dua orang atau lebih ke dalam jadwal kegiatan harian.

1.      Evaluasi jadwal kegiatan harian klien.
2.      Dorong klien untuk berkenalan dengan dua orang atau lebih.
3.      Memasukan kegiatan berbincang-bincang dengan dua orang atau lebih ke dalam jadwal kegiatan harian.

1.      Untuk merencanakan kegiatan selanjutnya apakah klien bisa melakukan interaksi sosial dengan dua atau lebih.
2.      Mendorong klien untuk melihat dan merasakan secara langsung keuntungan dari berinteraksi sosial.
3.      Akan membantu klien dalam mencapai interaksi sosial secara bertahap






IMPLEMENTASI KEPERAWATAN



No

Hari/ Tanggal
No. Diagnosa
Implementasi
Evaluasi

1.

Selasa
25-10-2016

I
SP 1 :

1.      Orientasi
Selamat pagi, perkenalkan nama saya Nurhawa biasa dipanggil Hawa, namanya siapa ? Dan senangnya dipanggil apa ?
2.      Validasi
Bagaiman perasaan nini hari ini ? Apa yang nini rasakan ?
3.      Kontrak
a.       Topik
“Seperti janji saya kemarin, hari ini kita akan bercerita tentang penyebab nini tidak suka bergaul dengan orang lain, apa saja keuntungan bergaul dan apa saja kerugian bila tidak bergaul dengan orang lain”.
b.      Tempat
Kita ingin bercakap-cakap dimana? Bagaimana jika di sini saja?
c.       Waktu
Nini ingin bercakap-cakap berapa lama ? Bagaimana jika 15 menit.


4.      Kerja
a.       Apa yang membuat nini tidak suka bergaul dengan orang lain ? Apakah karena sikap atau perilaku orang lain terhadap nini atau karena ada alasan lain?
b.      Apa ruginya jika kita tidak memiliki teman? Menurut nini apakah keuntungan jika kita memiliki teman ?


S :
·         Klien menjawab salam
·         Klien mengatakan namanya Nini dan senang dipanggil Nini.
·         Klien mengatakan merasa baik hari ini
·         Klien mengatakan tidak suka bergaul atau berbicara dengan orang lain diruangan karena klien sering dipukul.
·         Klien mengatakan tidak tahu apa keuntungan dari bergaul dengan orang lain.
·         Klien mengatakan tidak tahu apa kerugian dari tidak bergaul dengan orang lain.

O :
·         Klien dapat menjawab salam
·         Kurang kontak mata
·         Klien mau berjabat tangan dan mau berkenalan dengan perawat
·         Klien dapat menjawab pertanyaan perawat
·         Klien duduk disamping perawat
·         Klien dapat mengungkapkan perasaannya dan penyebab tidak suka bergaul dengan orang lain.

A :
·         Klien mau mengenalkan identitas dirinya secara lengkap.
·         Klien mampu menyebutkan penyebab dari tidak suka bergaul dengan orang lain.
·         Klien mampu menyebutkan keuntungan dari berinteraksi dengan orang lain.
·         Klien  mampu menyebutkan keuntungan jika tidak berinteraksi dengan orang lain.

P :
SP 1 berhasil, Lanjutkan SP 2


2.

Rabu
26-10-2016

I

SP 2 :

1.      Validasi
Selamat pagi Nini, bagaiman perasaan nini hari ini ? Apa yang nini rasakan ? Nini masih ingat dengan saya ?
2.      Kontrak
a.       Topik
“Seperti janji saya kemarin, hari ini kita akan bercakap-cakap tentang bagaimana cara berkenalan dengan satu orang ?
b.      Tempat
Nini ingin bercakap-cakap dimana? Bagaimana jika di luar di kuris depan ?


c.       Waktu
Nini ingin bercakap-cakap berapa lama ? Bagaimana jika 15 menit.

3.      Kerja
a.       Baiklah saya akan mengajrkan cara berkenalan dengan orang lain (teman). Caranya : Selamat pagi, perkenalkan nama saya Nini senang dipanggil Nini. Nama kamu siapan ?

4.      Terminasi
a.       Evaluasi
Bagaimana perasaan nini setelah berkenalan dengan satu teman ? Nah, bagaimana jika kita masukan kegiatan ini dalam jadwal kegiatan harian Nini.

b.      Kontrak waktu
Karena nini sudah bisa berkenalan dengan satu teman, bagaiman jika besok kita belajar berkenalan dengan dua teman atau lebih. Nini mau ? Nini maunya jam berapa ? Bagaiman kalau jam 10.00. Dimana kita akan berkenalan? Bagaimana jika di sini saja ?


S :
·         Klien menjawab salam
·         Klien masih ingat dengan perawat Hawa
·         Klien mengatakan ingat dengan janji yang dibuat kemarin
·         Klien mengatakan merasa senang karena sudah bisa berkenalan dengan orang lain (satu orang)

O :
·         Klien dapat menjawab salam
·         Klien mampu berkenalan dengan perawat yang lain.
·         Bicara lambat dengan intonasi suara pelan
·         Kontak mata baik
·         Klien duduk bersama perawat-perawat yang lain.


A :
·         Afektif : Klien mengatakan merasa senang karena sudah bisa berkenalan dengan orang lain dan berbincang-bincang dengan perawat.
·         Kognitif : Klien mampu mengingat cara berkenalan dengan orang seperti yang diajarkan oleh perawat.
·         Psikomotor : Klien mampu berkenalan dengan perawat yang lain.
P :
SP 2 berhasil, Evaluasi SP 1, Lanjutkan SP 3


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah membahas secara menyeluruh mengenai asuhan keperawatan pada “Nn. W.I ” dengan dengan Isolasi Sosial diruangan sub akut wanita RSKD Maluku, maka pada bab ini kami dapat menguraikan :
  1. Telah dilakukan pengkajian pada “Nn. W.I ” dengan dengan Isolasi Sosial diruangan sub akut wanita RSKD Maluku.
  2. Telah ditentukan diagnosa keperawatan pada klien “Nn. W.I ” dengan dengan Isolasi Sosial diruangan sub akut wanita RSKD Maluku yaitu diagnosa Isolasi Sosial
  3. Telah dibuat rencana tindakan keperawatan pada klien ““Nn. W.I ” dengan dengan Isolasi Sosial diruangan sub akut wanita RSKD Maluku
  4. Telah dilakukan tindakan dan evaluasi keperawatan pada klien“Nn. W.I ” dengan dengan Isolasi Sosial diruangan sub akut wanita RSKD Maluku.
B. Saran
1.      Bagi Rumah Sakit
Untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan terutama dalam menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan Isolasi Sosial diruangan sub akut wanita RSKD Maluku.
2.      Bagi Institusi  Pendidikan
Kiranya lebih meningkatkan mutu pendidikan guna menambah literatur / referensi untuk kelengkapan perkuliahan sehingga dapat membantu mahasiswa dalam proses belajar mengajar.
3.      Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa poltekes maluku khususnya jurusan keperawatan,  kiranya lebih meningkatkan kompetensi dan wawasan tentang perkembangan teori-teori terbaru dalam dunia kesehatan terutama dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan infeksi saluran kemih.

4.      Bagi Klien
Untuk lebih meningkatkan status kesehatan dengan cara memeriksakan diri ditempat-tempat pelayanan kesehatan dan menggunakan tempat pelayanan kesehatan terdekat.



No comments:

Post a Comment

jangan komen yang aneh-aneh