7/16/2018

ASUHAN KEPERAWATAN Pada Klien Dengan Partus Normal


    





ASUHAN KEPERAWATAN Pada Klien Dengan Partus Normal Di Ruangan Kamar Bersalin RSUD






 













Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Kesehatan pada Program Studi Keperawatan Ambon Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Maluku





Disusun Oleh :

SITI MUTIAH
NIM. P07120114096



KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALUKU
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN AMBON
2017











A.   Konsep Dasar Persalinan
1.    Pengertian Persalinan
     Persalian adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus ke dunia luar. Persalinan mencakup proses fisiologis yang memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin. (Jannah, Nurul. 2015)
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontaksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan pelahiran plasenta (Varney, Helen. 2008)
Berdasarkan pengertian diatas penulis menyimpulkan secara umum, persalinan adalah proses pengeluaran konsepsi dari dalam uterus berupa pengeluaran bayi yang cukup bulan (37-42 minggu) ke dunia luar.
Pengertian persalinan dapat diartikan menjadi tiga bagian menurut cara persalinan (Jannah, Nurul. 2015)
a.     Persalinan normal atau disebut juga persalinan spontan. Pada persalinan ini, proses kelahiran bayi pada letak belakang kepala (LBK) dengan tenaga ibu sendiri berlangsung tanpa bantuan alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
b.     Persalinan abnormal/buatan. Persalinan pervagina dengan menggunakan bantuan alat, seperti ekstraksi dengan forseps atau vakum dengan melalui dinding perut dengan operasi Sectio Caesarea atau SC
c.      Persalinan anjuran. Persalinan tersebut tidak dimulai dengan sendirinya, tetapi baru berlangsung setelah dilakukan perangsangan, seperti dengan pemecahan ketuban dan pemberian prostaglandin.
2.    Penyebab Persalinan
Persalianan dapat terjadi karena beberapa faktor. Penurunan fungsi plasenta ditandai dengan penurunan kadar progesteron dan estrogen secara mendadak sehingga nutrisi janin dari plasenta berkurang yang dapat menimbulkan persalinan. Selain itu tekanan pada ganglion Servikale dari pleksus frankenhauser, menjadi stimulator (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus untuk terjadi persalinan. Faktor lain adalah iskemia otot-otot urterus karena pengaruh hormonal dan beban uterus yang semakin merangsang terjadinya kontraksi. Peningkatan beban atau stres pada maternal maupun fetal dan peningkatan estrogen yang mengakibatkan peningkatan aktivitas kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk terjadinya proses persalinan.
3.    Tanda Persalianan
Menurut Jannah, Nurul (2015) Persalianan yang sudah dekat ditandai dengan adanya Lightening atau Settling atau dropping dan terjadi His palsu. Persalinan itu sendiri ditandai dengan his persalinan, yang mempunyai ciri seperti.
a.     Pinggang terasa sakit yang menjalar kedepan
b.     His bersifat teratur, interval semakin pendek dan kekuatannya semakin besar
c.      Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks
d.     Semakin beraktivitas (jalan), semakin bertambah kekuatan kontraksinya
Selain his, persalinan ditandai juga dengan pengeluaran lendir dari kanalis servikalis karena terjadi pembukaan dan pengeluaran darah dikarenakan kapiler pembuluh darah pecah.
Persalinan juga dapat disebabkan oleh pengeluaran cairan ketuban yang sebagian besar baru pecah menjelang pembukaan lengkap dan tanda Inpartu, meliputi adanya his, bloody Show, peningkatan rasa sakit, perubahan bentuk serviks, pendataran serviks, pembukaan serviks (dilatasi), pengeluaran cairan yang banyak atau selaput ketuban yang pecah dengan sendirinya.
4.    Tahapan Persalinan
a.      Kala I

Kala I adalah persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala I dibagi menjadi dua fase yaitu fase laten dan fase aktif.
a.    Fase laten persalinan

Fase laten adalah fase yang lambat yang ditandai dengan : dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap, pembukaan kurang dari 4 cm dan biasanya memerlukan waktu selama 8 jam pada saat primipara.
b.    Fase aktif persalinan

Fase aktif adalah fase dimana ditandai dengan : frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi dianggap adekuat atau memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih, serviks membuka dari 4 ke 10 cm biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih per jam hingga pembukaan lengkap 10 cm, dan terjadi penurunan bagian terbawah janin.
b.    Kala II

Kala II adalah persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II dikenal juga sebagai kala pengeluaran. Kala II persalinan adalah tahap di mana janin dilahirkan. Pada kala II, his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2 sampai 3 menit sekali. Saat kepala janin sudah masuk di ruang panggul, maka pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasakan tekanan pada rektum dan hendak buang air besar. Kemudian perineum mulai menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his. Dengan his dan kekuatan mengedan maksimal, kepala janin dilahirkan dengan presentasi suboksiput di bawah simfisis, dahi, muka dan dagu. Setelah istirahat sebentar, his mulai lagi untuk mengeluarkan badan dan anggota badan bayi.
c.    Kala III

Kala III persalinan berlangsung sejak janin lahir sampai plasenta lahir (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004). Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat. Beberapa menit kemudian, uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.
d.    Kala IV

Kala IV persalinan ditetapkan berlangsung kira-kira dua jam setelah plasenta lahir. Periode ini merupakan masa pemulihan yang terjadi segera jika homeostasis berlangsung dengan baik. Pada tahap ini, kontraksi otot rahim meningkat sehingga pembuluh darah terjepit untk menghentikan perdarahan. Pada kala ini dilakukan
Observasi terhadap tekanan darah, pernapasan, nadi, kontraksi otot rahim dan perdarahan selama 2 jam pertama. Selain itu juga dilakukan penjahitan luka episiotomi. Setelah 2 jam, bila keadaan baik, ibu dipindahkan ke ruangan bersama bayinya.
5.    Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persalinan antara lain :

a.    Passenger

Malpresentasi atau malformasi janin dapat mempengaruhi persalinan normal Pada faktor passenger, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap dan posisi janin. Karena plasenta juga harus melalui jalan lahir, maka ia dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin.

b.    Passageaway

Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat, dasar panggul, vagina, dan introitus (lubang luar vagina). Meskipun jaringan lunak khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh lebih berperan dalam proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relatif kaku.

c.    Powers

His adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks membuka dan mendorong janin ke bawah. Pada presentasi kepala, bila his sudah cukup kuat, kepala akan turun dan mulai masuk ke dalam rongga panggul. Ibu melakukan kontraksi involunter dan volunteer secara bersamaan.
d.    Position

Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan. Posisi tegak memberi sejumlah keuntungan. Mengubah posisi membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman, dan memperbaki sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan, duduk dan jongkok



e.    Psychologic Respons

Proses persalinan adalah saat yang menegangkan dan mencemaskan bagi wanita dan keluarganya. Rasa takut, tegang dan cemas mungkin mengakibatkan proses kelahiran berlangsung lambat (Depkes RI). Pada kebanyakan wanita, persalinan dimulai saat terjadi kontraksi uterus pertama dan dilanjutkan dengan kerja keras selama jam-jam dilatasi dan melahirkan kemudian berakhir ketika wanita dan keluarganya memulai proses ikatan dengan bayi. Perawatan ditujukan untuk mendukung wanita dan keluarganya dalam melalui proses persalinan supaya dicapai hasil yang optimal bagi semua yang terlibat. Wanita yang bersalin biasanya akan mengutarakan berbagai kekhawatiran jika ditanya, tetapi mereka jarang dengan spontan menceritakannya
6.    Pengunaan Partograf
Partograf adalah alat untuk mencatat informasi berdasarkan observasi anamnesis, dan pemeriksaan fisik ibu dalam persalinan, dan sangat penting khususnya untuk membuat keputusan klinik selama kala persalinan (Jannah, Nurul. 2015)
Tujuan utama penggunaan partograf adalah mengamati dan mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam dan menentukan normal atau tidaknya persalinan serta mendeteksi dini persalinan lama. (Jannah, Nurul. 2015)
Penggunaan Partograf mempunyai beberapa keuntungan yaitu tidak mahal, efektif, dan pragmatik dalam kondisi apapun, meningkatkan mutu, dan kesejahteraan janin dan ibu selama persalinan, dan untuk menentukan kesejahteraan janin dan ibu. (Jannah, Nurul. 2015)
Parograf harus digunakan:


a.    Untuk semua ibu dalam kala I fase aktif (fase laten tidak dicatat di partograf tetapi di tempat terpisah seperti di KMS ibu hamil atau rekam medik)
b.    Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (spesialis obgyn, bidan, dokter umum, residen swasta, rumah sakit, dll)
c.    Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran.
Kondisi ibu dan bayi yang dicatat dalam partograf:
a.    DJJ tiap 30 menit.
b.    Frekuensi dan durasi kontraksi tiap 30 menit.
c.    Nadi tiap 30 menit.
d.    Pembukaan serviks tiap 4 jam.
e.    Penurunan bagian terbawah janin tiap 4 jam.
f.     Tekanan darah dan temperatur tubuh tiap 4 jam.
g.    Urin, aseton dan protein tiap 2-4 jam.
a.    Kala Persalinan
1)     Kala I adalah saat mulainya persalinan sesungguhnya sampai pembukaan lengkap
2)     Kala II adalah saat dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi
3)     Kala III adalah saat lahirnya bayi sampai keluarnya plasenta
4)     Kala IV adalah saat keluarnya plasenta sampai keadaan ibu post partum menjadi stabil
b.    Fase-Fase dalam Kala I Persalinan

1)     Fase laten persalinan: pembukaan serviks kurang dari 4 cm
2)     Fase aktif persalinan: pembukaan serviks dari 4 sampai 10 cm
Selama fase laten persalinan, semua asuhan, pengamatan dan pemeriksaan harus dicatat. Hal ini dapat direkam atau dicatat secara terpisah dalam catatan kemajuan persalinan atau pada Kartu Menuju Sehat (KMS) ibu hamil. Tanggal dan waktu harus dituliskan setiap kali membuat catatan selama fase laten persalinan.
c.    Kondisi ibu dan janin juga harus dinilai dan dicatat secara seksama, yaitu :
1)     Denyut jantung janin: setiap ½ jam
2)     Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus: setiap ½ jam
3)     Nadi: setiap ½ jam
4)     Pembukaan serviks: setiap 4 jam
5)     Penurunan: setiap 4 jam
6)     Tekanan darah dan temperatur tubuh: setiap 4 jam
7)     Produksi urin, aseton dan protein: setiap 2-4 jam
d.    Pencatatan kondisi ibu dan janin meliputi :
`                      
1)     Informasi tentang

a)     ibu Nama, umur
b)     Gravida, para, abortus
c)     Nomor catatan medis/nomor puskesmas
d)     Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah, tanggal dan waktu penolong persalinan mulai merawat ibu)
Lengkapi bagian awal (atas) partograf secara teliti pada saat memulai asuhan persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai “jam”) dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten persalinan. Tidak kalah penting, catat waktu terjadinya pecah ketuban.
2)     Kondisi bayi

Kolom pertama adalah digunakan untuk mengamati kondisi janin.Yang diamati dari kondisi bayi adalah DJJ, air ketuban dan penyusupan (kepala janin)
a)   DJJ
Menilai dan mencatat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada tanda-tanda gawat janin). Tiap kotak menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka di sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ. Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada garis yang sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang satu dengan titik lainnya dengan garis tidak terputus. Kisaran normal DJJ 110-160 x/menit.
b)   Warna dan adanya air ketuban
Menilai air ketuban dilakukan bersamaan dengan periksa dalam. Warna air ketuban hanya bisa dinilai jika selaput ketuban telah pecah. Lambang untuk menggambarkan ketuban atau airnya:
U  : selaput ketuban utuh (belum pecah)
J   : selaput ketuban telah pecah dan air ketuban jernih
M : selaput ketuban telah pecah dan air ketuban bercampur mekonium
D : selaput ketuban telah pecah dan air ketuban bercampur darah K : selaput ketuban telah pecah dan air ketuban kering (tidak mengalir lagi)
Mekonium dalam air ketuban tidak selalu berarti gawat janin. Merupakan indikasi gawat janin jika juga disertai DJJ di luar rentang nilai normal.
c)    Penyusupan (molase) tulang kepala
d)   Penyusupan tulang kepala merupakan indikasi penting seberapa jauh janin dapat menyesuaikan dengan tulang panggul ibu. Semakin besar penyusupan semakin besar kemungkinan disporposi kepal panggul. Lambang yang digunakan:
0 = tulang – tulang kepala janin terpisah, sutura mudah dipalpasi
1 = tulang-tulang kepa janin sudah saling bersentuhan
2 = tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tapi masih bisa dipisahkan
3 = tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan
3)    Kemajuan persalinan
Kolom kedua untuk mengawasi kemajuan persalinan yang meliputi: pembukaan serviks, penurunan bagian terbawah janin, garis waspada dan garis bertindak dan waktu.
a)    Pembukaan serviks
Angka pada kolom kiri 0-10 menggambarkan pembukaan serviks.Menggunakan tanda X pada titik silang antara angka yang sesuai dengan temuan pertama pembukaan serviks pada fase aktif dengan garis waspada. Hubungan tanda X dengan garis lurus tidak terputus.
b)     Penurunan bagian terbawah Janin
Tulisan “turunnya kepala” dan garis tidak terputus dari 0-5 pada sisi yang sama dengan angka pembukaan serviks. Berikan tanda “●” pada waktu yang sesuai dan hubungkan dengan garis lurus.
c)    Jam dan Waktu
Waktu berada dibagian bawah kolom terdiri atas waktu mulainya fase aktif persalinan dan waktu aktuall saat pemeriksaan. Waktu mulainya fase aktif persalinan diberi angka 1-16, setiap kotak: 1 jam yang digunakan untuk menentukan lamanya proses persalinan telah berlangsung. Waktu aktual saat pemeriksaan merupakan kotak kosong di bawahnya yang harus diisi dengan waktu yang sebenarnya saat kita melakukan pemeriksaan.
d)    Kontraksi Uterus
Terdapat lima kotak mendatar untuk kontraksi. Pemeriksaan dilakukan setiap 30 menit, raba dan catat jumlah dan durasi kontaksi dalam 10 menit. Misal jika dalam 10 menit ada 3 kontraksi yang lamanya 20 setik maka arsirlah angka tiga kebawah dengan warna arsiran yang sesuai untuk menggambarkan kontraksi 20 detik (arsiran paling muda warnanya).
e)    Obat-obatan dan cairan yang diberikan
Catat obat dan cairan yang diberikan di kolom yang sesuai. Untuk oksitosin dicantumkan jumlah tetesan dan unit yang diberikan.
f)     Kondisi Ibu
Catat nadi ibu setiap 30 menit dan beri tanda titik pada kolom yang sesuai. Ukur tekanan darah ibu tiap 10 menit dan beri tanda ↕pada kolom yang sesuai. Temperatur dinilai setiap dua jam dan catat di tempat yang sesuai.
g)    Volume urine, protein dan aseton Lakukan tiap 2 jam jika memungkinkan.
7.    Pemeriksaan Penunjang
a.    Pemeriksaan Penunjang

1)     Pemeriksaan Darah Lengkap
2)     Pemeriksaan USG
    1. =
8.    Penatalaksanaan
a.   Penanganan Kala I 
1)    Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah , ketakutan dan kesakitan
2)    Jika ibu tampak kesakitan dukungan / asuhan yang dapat diberikan, lakukan perubahan posisi, sarankan ia untuk berjalan.
3)    Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan
4)    Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan
5)    Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi berikan cukup minum.
Pemeriksaan Dalam
      Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama kala I pada persalinan dan setelah selaput ketuban pecah. Gambarkan temuan-temuan yang ada pada partogram.
Pada setiap pemeriksaan dalam catatlah hal-hal sebagai berikut :
1)    Warna cairan amnion
2)    Dilatasi serviks
3)    Penurunan kepala (yang dapat dicocokkan dengan pemeriksaan luar)
        Jika serviks belum membuka pada pemeriksaan dalam pertama mungkin diagnosis in partu belum dapat ditegakkan. Jika terdapat kontraksi yang menetap periksa ulang wanita tsb setelah 4 jam untuk melihat perubahan pada serviks. Pada tahap ini jika serviks terasa tipis dan terbuka maka wanita tersebut dalam keadaan in partu jika tidak terdapat perubahan maka diagnosanya adalah persalinan palsu.
b.  Penanganan Kala II
1)     Memberikan dukungan terus-menerus kepada ibu dengan:
2)     mendampingi ibu agar merasa nyaman, menawarkan minum, dan lakukan Masesse.
3)     Menjaga kebersihan ibu.
4)     Masase untuk menambah kenyamanan bagi ibu
5)     Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu
6)     Mengatur posisi ibu
7)     Menjaga kandung kemih tetap kosong.
8)     Memberikan cukup minum.
Posisi saat meneran
1)     Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman
2)     Ibu dibimbing untuk mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambik nafas
3)     Periksa DJJ pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami bradikardi (< 120)
c.  Penanganan Kala III
1)     Pemberian oksitosin dengan segera
2)     Pengendalian tarikan tali pusat
3)     Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir
d.  Penanganan Kala IV : Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua.
1)     Jika kontraksi tidak kuat masase uterus sampai menjadi keras. Apabila uterus berkontraksi otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan .
2)     Periksa tekanan darah, nadi, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam I dan setiap 30 menit selama jam II
3)     Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. Tawarkan ibu makanan dan minuman yang disukainya.
4)     Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering
5)     Biarkan ibu beristirahat
6)     Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi
7)     Bayi sangat siap segera setelah  kelahiran
8)     Jika ibu perlu ke kamar mandi, ibu boleh bangun, pastikan ibu dibantu karena masih dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan.
B.   Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1.    Keperawatan
a.  Pengertian Keperawatan
Keperawatan adalah suatu proses menempatkan pasien dalam kondisi paling baik untuk beraktivitas. (Florence Nightingale. 1895)
Keperawatan adalah proses aksi dan interaksi untuk membantu individu dari berbagai kelompok umur dalam memenuhi kebutuhannya dan menangani status kesehatan mereka pada saat tertentu dalam suatu siklus kehidupan. (Dorothea Orem. 1971)
Perawatan adalah upaya membantu individu baik yang sehat maupun sakit untuk menggunakan kekuatan, keinginan dan pengetahuan yang dimilikinya sehingga individu tersebut mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari, sembuh dari penyakit atau meninggal dunia dengan tenang. Tenaga perawat berperan menolong individu agar tidak menggantungkan diri pada bantuan orang lain dalam waktu secepat mungkin. (Virginia Handerson. 1978)
Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan profesional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan berbentuk layanan bio, psiko, sosial, dan spiritual yang komperhensif yang ditunjukan bagi individu, keluarga, dan masyarakat. Baik dalam keadaan sehat maupun sakit serta mencakup semua aspek kehidupan ( Asmadi. 2008)
2.    Proses Keperawatan
a.    Pengertian Proses keperawatan
Proses keperawatan adalah aktivitas yang mempunyai maksud yaitu praktik keperawatan yang dilakukan dengan cara yang sistematik. Selama melaksanakan proses keperawatan, perawat menggunakan dasar pengetahuan yang komprehensif untuk mengkaji status kesehatan klien, membuat penilaian yang bijaksana dan mendiagnosa, serta mengidentifikasi hasil akhir kesehatan klien. (D, Dermawan. 2012)
b.    Tujuan Proses Keperawatan
1)     Tujuan umum :
Memberikan suatu kerangka kerja berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat, sehingga kebutuhan perawatan kesehatan klien, keluarga dan masyarakat dapat terpenuhi.
2)     Tujuan khusus :
a)     Mempraktekkan metode pemecahan masalah dalam praktek keperawatan (problem solving)
b)     Menggunakan standart dalam praktek keperawatan
c)     Memperoleh metode yang baku, rasional dan sistematis
d)     Meperoleh metode yang dapat digunakan dalam berbagai macam situasi
e)     Memperoleh asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi
c.     Langkah-langkah Proses Keperawatan
Menurut Dermawan (2012) Proses keperawatan memiliki 5 komponen yaitu : Pengkajian, Diagnosis, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi.
1)     Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data relevan yang Kontinue tentang Respon manusia Status kesehatan, kekuatan, dan masalah klien. Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial, dan lingkungan. (Effendy, 1995. dalam D. Dermawan, 2012)
2)    Macam dan sumber data
Adapun macam data yang dikaji ada empat macam antara lain : (1) data dasar : data dasar adalah seluruh informasi tentang status kesehatan klien. Data dasar ini meliputi data umum, data demografi, riwayat keperawatan, pola fungsi kesehatan dan pemeriksaan. Data dasar yang menunjukkan pola fungsi kesehatan efektif/optimal merupakan data yang dipakai dasar untuk menegakkan diagnosa keperawatan sejahtera; (2) data fokus : adalah informasi tentang status kesehatan klien yang menyimpang dari keadaan normal. Data fokus dapat berupa ungkapan klien maupun hasil pemeriksaan langsung oleh perawat.Data ini nantinya mendapat porsi lebih banyak dan menjadi dasar timbulnya masalah keperawatan. Segala penyimpangan yang berupa keluhan hendaknya dapat divalidasi dengan data hasil pemeriksaan. Sedangkan untuk bayi atau klien yang tidak sadar, banyak menekankan pada data fokus yang berupa hasil pemeriksaan; (3) data subjektif ; merupakan ungkapan keluhan klien secara langsung maupun tak langsung melalui orang lain yang mengetahui keadaan klien secara langsung dan menyampaikan masalah yang terjadi kepada perawat berdasarkan keadaan yang terjadi pada klien. Untuk mendapatkan data ini dilakukan anamnesis. Contoh, merasa pusing, mual, nyeri dada dan lain-lain. (4). Data objektif: data yang diperoleh perawat secara langsung melalui observasi dan pemeriksaan pada klien. Data objektif harus dapat diukur dan diobservasi, bukan merupakan interpretasi atau asumsi dari perawat. Contoh, tekanan darah 120/80 mmHg, konjungtiva anemis dan seterusnya.
Sementara sumber data dibagi menjadi dua antara lain: (1) sumber data primer : sumber data primer adalah klien. Sebagai sumber data primer, bila klien dalam keadaan tidak sadar, mengalami gangguan bicara atau pendengaran, klien masih bayi atau karena beberapa sebab klien tidak dapat memberikan data subjektif secara langsung, maka perawat menggunakan data objektif untuk menegakkan diagnosa keperawatan. Namun bila diperlukan klarifikasi data subjektif, hendaknya perawat melakukan anamnesis pada keluarga; (2) sumber data sekunder : selain klien seperti keluarga, orang terdekat, teman dan orang lain yang tahu tentang status kesehatan klien. Selain itu tenaga kesehatan yang lain seperti dokter, ahli gizi, ahli fisioterapi, laboratorium, radiologi juga termasuk sumber data sekunder.
3)    Teknik pengumpulan data
a)     Anamnesis : adalah tanya jawab/komunikasi secara langsung dengan klien (auto anamnesis) maupun tidak langsung (allo anamnesis) dengan keluarganya untuk menggali informasi tentang status kesehatan klien. Komunikasi yang digunakan disini adalah komunikasi terapeutik, yaitu suatu pola hubungan interpersonal antara klien dan perawat yang bertujuan untuk menggali informasi mengenai status kesehatan klien dan membantu menyelesaikan masalah yang terjadi.
Dalam melakukan anamnesis atau komunikasi ini perawat harus mempunyai kemampuan yang baik, karena perawat dalam berinteraksi dengan klien harus memperhatikan aspek verbal dan perilaku nonverbal. Perawat yang terlatih akan dapat melakukan komunikasi yang menyenangkan untuk membangun kepercayaan diri klien, sehingga klien akan merasa nyaman dalam berbagi perasaan. dengan demikian, diharapkan data yang diinginkan dapat tergali secara komprehensif.
b)     Observasi : pada tahap ini dilakukan pengamatan secara umum terhadap perilaku dan keadaan klien. Observasi memerlukan ketrampilan, disiplin dan praktik klinik.
c)     Pemeriksaan fisik, yakni dengan menggunakan empat cara yaitu Pertama, inspeksi, adalah proses observasi yang dilakukan dengan cara melihat. Inspeksi digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik. Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi, simetris, luka, perubahan yang terjadi pada kulit, kelainan anatomi. Contoh: rambut kusam, sklera ikterus, bentuk dada ellips, gerakan dada simetris, luka dengan diameter 1 cm, bernanah, vesikel di daerah dada kanan dan perut kanan, berhati-hati dalam satu posisi. Palpasi  merupakan suatu bentuk pemeriksaan dengan cara perabaan. Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif untuk merasakan adanya suatu perubahan yang terjadi pada tubuh. Kedua, palpasi, digunakan untuk mengumpulkan data tentang temperatur, turgor, bentuk dan ukuran, massa, kelembaban, vibrasi dan tekstur. Contoh ; akral hangat, kulit kering dan kasar, turgor kembali lambat, teraba massa padat berbatas jelas dengan diameter 1 cm. ketiga perkusi : metode pemeriksaan dengan cara mengetuk. Tujuannya adalah untuk menentukan batas-batas organ atau bagian tubuh dengan cara merasakan vibrasi yang ditimbulkan akibat adanya gerakan yang diberikan ke bawah jaringan, dengan perkusi dapat membedakan apa yang ada dibawah jaringan (udara, cairan, zat padat). Keempat, auskultasi : metode pemeriksaan dengan cara mendengar yang dibantu dengan stetoskop. Tujuannya untuk mendengarkan bunyi jantung, suara nafas, bunyi usus, denyut jantung janin dan mengukur tekanan darah.
Pengkajian data dasar pada ibu dalam masa persalinan  dalam Doenges dan Moorhause (2001) ditemukan data-data sebagai berikut:
1)    fase laten:
a)    Integritas ego : dapat senang ataupun ansietas
b)    Nyeri atau ketidaknyamanan: kontraksi reguler, peningkatan frekuensi, durasi, keparahan, kontraksi ringan, masing-masing 5-30 detik.
c)    Irama jantung janin paling tidak terdengar pada umbilikus (tergantung pada posisi janin).
d)    Seksualitas: membran mungkin atau tidak pecah, serviks dilatasi dari 0-4 cm. Rabas vagina sedikit, lendir merah muda (show, kecoklatan, atau terdiri dari plak lendir.
2)    Fase aktif
a)    Aktivitas atau istirahat : dapat menunjukan bukti kelelahan
b)    Integritas ego; dapat tampak lebih serius dan terhanyut pada proses persalinan, ketakutan tentang kemampuan mengendalikan pernapasan dan atau melakukan teknik relaksasi
c)    Nyeri atau ketidaknyamanan: kontraksi sedang, terjadi setiap 2, 5-5 menit dan berakhir 30-40 detik
d)    Keamanan : irama jantung janin terdeteksi agak dibawah pada posisi verteks, DJJ bervariasi dan perubahan periodik umumnya teramati pada respon terhadap kontraksi, palpasi abdominal, gerakan janin.
e)    Seksualitas : dilatasi serviks dari kira-kira 4-8 cm, perdarahan dalam jumlah sedang, dan janin turun +1-+2cm dibawah tulang isikial
4)    Diagnosa Keperawatan
a)    Pengertian Diagnosa keperawatan
Diagnosa merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 dan NANDA. dalam D. Dermawan, 2012)
b)    Langkah-langkah Menentukan Diagnosa Keperawatan. 
1)     Klasifikasi data : adalah aktivitas pengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu ketika klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya. Klasifikasi ini berdasarkan pada kebutuhan dasar manusia yang dikelompokkan dalam data subjektif dan data objektif.
2)     Interprestasi data : membuat interprestasi atas data yang sudah dikelompokkan dalam bentuk masalah keperawatan atau masalah kolaboratif.
3)     Menentukan hubungan sebab akibat : dari masalah keperawatan telah ditentukan, kemudian perawat menentukan faktor-faktor yang berhubungan atau faktor resiko yang kemungkinan menjadi penyebab dari masalah yang terjadi. Kemungkinan penyebab harus mengacu pada kelompom data yang sudah ada.
4)     Merumuskan diagnosa keperawatan : perumusan diagnosa keperawatan didasarkan pada identifikasi masalah dan kemungkinan penyebab.
c)    Komponen Diagnosa Keperawatan
1)     Problem/masalah : menjelaskan status kesehatan dengan singkat dan jelas.
2)     Etiologi/penyebab : penyebab masalah yang meliputi faktor penunjang dan faktor resiko yang terdiri dari : (a). Patofisiologi ; yaitu semua proses penyakit yang dapat menimbulkan tanda/gejala yang menjadi penyebab timbulnya masalah keperawatan. (b). Situasional ; yaitu situasi personal (berhubungan dengan pasien sebagai individu) dan environment (berhubungan dengan lingkungan yang berinteraksi dengan pasien). (c) Medication/treatment ; yaitu pengobatan atau tindakan yang diberikan yang memungkinkan terjadinya efek yang tidak menyenangkan yang dapat diantisipasi atau dicegah dengan tindakan keperawatan. (d). Maturasional ; yaitu tingkat kematangan atau kedewasaan pasien, dalam hal ini berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan.
3)     Symptom/tanda dan gejala : yaitu defenisi karakteristik tentang data subjektif dan data objektif sebagai pendukung diagnosa aktual
d)    Tipe Diagnosa Keperawatan
Lima tipe diagnosa keperawatan, yaitu aktual, risiko, sejahtera, kemungkinan dan sindrom.
1)     Diagnosa Aktual adalah diagnosis yang menjelaskan masalah yang nyata terjadi saat ini. Pada saat menyusun diagnosa keperawatan harus ada unsur PES. Diagnosa keperawatan aktual didasarkan pada adanya tanda dan gejala yang berkaitan.
2)     Diagnosa Keperawatan Risiko adalah penilaian klinis bahwa tidak ada masalah, tetapi adanya faktor risiko menunjukkan bahwa suatu masalah mungkin muncul, kecuali perawat melakukan intervensi. Misalnya semua orang yang masuk rumah sakit memiliki beberapa kemungkinan mendapat infeksi, namun klien diabetes berisiko lebih tinggi daripada klien lain.
3)     Diagnosa Sejahtera “menjelaskan respons manusia terhadap derajat kesehatan pada individu, keluarga atau masyarakat yang memiliki kesiapan untuk peningkatan kondisi” (NANDA International, 2003 hlm 263). Contoh diagnosa sejahtera adaah Kesiapan untuk Peningkatan Kesejahteraan Spiritual atau Kesiapan untuk Peningkatan Koping Keluarga.
4)     Diagnosa Keperawatan Kemungkinan adalah pernyataan tentang masalah yang diduga akan terjadi atau masih memerlukan data tambahan. Diagnosa kemungkinan memerlukan lebih banyak data baik untuk mendukung ataupun menyangkalnya. Misalnya, seorang janda lansia yang tinggal sendirian dirawat di rumah sakit. Perawat memerhatikan ia tidak ada yang membesuk dan senang dengan perhatian dan perbincangan dari staf keperawatan. Perawat dapat menulis diagnosa keperawatan Kemungkinan Isolasi Sosial berhubungan dengan data yang tidak diketahui, sampai lebih banyak data dikumpulkan
5)     Diagnosa Sindrom adalah diagnosa yang dikaitkan dengan sekelompok diagnosa lain (Alfaro-LeFevre,1998). Enam diagnosa sindrom saat ini terdapat pada daftar NANDA International. Misalnya, Risiko Disuse Syndrome dapat dialami oleh klien yang tirah baring dalam jangka panjang. Kelompok diagnosa yang terkait dengan sindrom ini mencakup Hambatan Mobilitas Fisik, Risiko Konstipasi, Risiko Infeksi, Risiko Cedera, Risiko Ketidakberdayaan, dan sebagainya.
Diagnosa keperawatan persalinan menurut Doenges dan Moorhause (2001) yaitu:
a)    Fase laten : a) Ansietas, resiko tinggi terhadap; b) kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap; c) kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kemajuan persalinan, ketersediaan pilihan; d) koping individu tidak efektif, resiko tinggi terhadap, e) Infeksi, resiko tinggi terhadap, maternal.
b)    Fase aktif : a) nyeri akut; b) eliminasi urin, perubahan; c) cedera, resiko terhadap, maternal
5)    Perencanaan
a)    Pengertian perencanaan keperawatan.
Perencanaan adalah suatu proses didalam pemecahan masalah yang merupakan keputusan awal tentang sesuatu apa yang akan dilakukan, bagaimana dilakukan, kapan dilakukan,siapa yang melakukan dari semua tindakan keperawatan. (D. Dermawan, 2012)
b)    Kegiatan dalam tahap perencanaan
Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah : menentukan prioritas masalah keperawatan, menetapkan tujuan dan kriteria hasil, merumuskan rencana tindakan keperawatan, menetapkan rasional rencana tindakan keperawatan. 
(1)   Menentukan prioritas masalah keperawatan
Kegiatan pertama dalam tahap yang ketiga adalah menentukan prioritas masalah keperawatan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan masalah yang akan menjadi skala prioritas untuk diselesaikan atau diatasi terlebih dahulu. Namun, bukan berarti bahwa dalam menyelesaikan masalah, perawat menunggu satu masalah selesai sampai tuntas baru menyelesaikan masalah yang lain.
Prioritas pertama diartikan bahwa masalah ini perlu mendapat perhatian perawat karena dapat mempengaruhi status kesehatan klien secara umum dan memperlambat penyelesaian masalah yang lain.
Sehingga dalam pelaksanaannya nanti prioritas masalah yang kedua dan seterusnya dapat diatasi secara bersama-sama dan berkesinambungan (Rohmah dan Walid, 2009).
(2)  Pendekatan body sistem (B1 sampai dengan B6) : pendekatan ini menitikberatkan pada fungsi sistem tubuh, dimana fungsi pernafasan merupakan prioritas pertama, karena gangguan pada fungsi ini dapat mengancam klien. Fungsi pernafasan ini terdiri dari jalan nafas dan pernafasan. Prioritas terakhir pada sistem kulit, selaput lendir dan tulang.
(3)   Menetapkan tujuan dan kriteria hasil
Tujuan adalah perubahan perilaku klien yang diharapkan oleh perawat setelah tindakan berhasil dilakukan. Kriteria tujuan meliputi : rumusan singkat dan jelas, disusun berdasarkan diagnosa keperawatan, spesifik, dapat diukur atau diobservasi, realistis dapat dicapai, terdiri dari subjek, perilaku klien, kondisi dan kriteria (Rohmah dan Walid, 2009).
c)    Merumuskan rencana tindakan keperawatan
Menurut Rohmah dan Walid (2009), tipe rencana tindakan keperawatan diantaranya :
(1)   Diagnostik atau observasi : rencana tindakan keperawatan untuk mengkaji atau melakukan observasi terhadap kemajuan klien dengan pemantauan secara langsung yang dilakukan secara kontinu. Dengan observasi ini diharapkan hal-hal yang ditetapkan dalam kriteria hasil dapat dipantau secara berkesinambungan sampai tujuan berhasil dicapai.
(2)   Terapeutik atau nursing treatment : rencana tindakan yang ditetapkan untuk mengurangi, memperbaiki dan mencegah perluasan masalah. Rencana tindakan ini berupa intervensi mandiri perawat yang bersumber dari ilmu, kiat dan seni keperawatan. Karena dalam suatu masalah keperawatan bisa didapatkan beberapa alternatif penyelesaian masalahnya, perawat dituntut untuk dapat memilih yang paling sesuai untuk ditetapkan pada klien.
(3)   Penyuluhan atau health education atau pendidikan kesehatan : rencana tindakan yang ditetapkan bertujuan untuk meningkatkan perawatan diri klien dengan penekanan pada partisipasi klien untuk bertanggung jawab terhadap perawatan diri terutama untuk perawatan di rumah. Penyuluhan atau pendidikan kesehatan diperlukan terutama bila masalah keperawatan dan kriteria hasil berhubungan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Penyuluhan dapat berbentuk penyuluhan umum tentang segala sesuatu tentang penyakit dan perawatan klien atau juga lebih spesifik sesuai dengan masalah yang terjadi.
(4)   Rujukan atau kolaborasi atau medical treatment : tindakan medis yang dilimpahkan kepada perawat. Rencana kolaboratif ini disesuaikan dengan masalah yang terjadi, masalah yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotor mungkin tidak memerlukan tindakan medis. Namun untuk masalah yang berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh seringkali memerlukan rencana kolaboratif.
Intervensi untuk mengatasi masalah keperawatan pada ibu dalam masa persalinan doenges dan moorhause (2001):
Fase Aktif
1)    Masalah keperawatan : ansietas, resiko tinggi terhadap. Hasil yang diharapkan : (a) melaporkan ansietas pada tingkatan dapat diatasi; (b) menggunakan teknik pernapasan dan relaksasi secara terampil tampak rileks sesuai dengan situasi persalinan; (c) tampak rileks sesuai dengan situasi persalinan. intervensi yaitu :
(a)       Berikan perawat primer atau dukungan profesional intrapartum kontinu sesuai indikasi
Rasional : kontinuitas perawatan dan pengkajian dapat menurunkan stres. Studi penelitian menduga bahwa klien ini memerlukan obat nyeri lebih sedikit, yang dapat mengakibatkan pemendekan persalinan.
(b)       Orientasikan klien pada lingkungan, staf dan prosedur. Berikan informasi tentang perubahan psikologis dan fisiologis pada persalinan sesuai kebutuhan.
Rasional : pendidikan dapat menurunkan stres dan ansietas dan meningkatkan kemajuan persalinan
(c)       Kaji tingkat dan penyebab ansietas, kesiapan untuk melahirkan anak, latar belakang budaya, dan peran orang terdekat atau pelatih.
Rasional: berikan informasi dasar. Ansietas memperberat presepsi nyeri, mempengaruhi penggunaan teknik koping, dan menstimulasi pelepasan aldosteron, yang dapat meningkatkan resorpsi natrium dan air.
(d)       Pantau tekanan darah (TD) dan nadi sesuai indikasi. ( bila TD tinggi pada penerimaan ulangi prosedur dalam 30 menit untuk dapatkan pembacaan tepat saat klien rileks).
Rasional : stres mengaktifkan sistem adrenokortikal hipofisis-hipotalamik, yang meningkatkan retensi dan resorpsi natrium dan air dan meningkatkan eksresi kalium. Resorpsi natrium dan air dapat memperberat perkembangan toksemia intrapartal atau hipertensi. Kehilangan kalium dapat memperberat penurunan aktivitas miometrik.
(e)       Pantau pola kontraktil uterus; laporkan disfungsi persalinan.
Rasional ; pola kontraksi hipertonik atau hipotonik dapat terjadi bila stres menetap dan memperpanjang pelepasan katekolamin.
(f)        Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan, masalah dan rasa takut.
Rasional : stres, rasa takut, dan ansietas mempunyai efek yang dalam proses persalinan, sering memperlama fase pertama karena penggunaan cadangan glukosa; menyebababkan kelebihan epinefrin yang dilepaskan dari stimulasi adrenal, yang menghambat aktivitas miometrial; cenderung meningkatkan aktivitas uterus. Seperti ketidakseimbangan epinefrin dan norepinefrin dapat meningkatkan disfungsi pola persalinan.
(g)       Demonstrasikan metode persalinan dan relaksasi
Rasional: menurunkan stresor yang dapat memperberat ansietas; memberikan strategi koping.
(h)      Tingkatkan privasi dan penghargaan terhadap kesopanan; kurangi pemanjaan yang tidak diperlukan. Gunakan penutupan selama pemeriksaan vagina.
Rasional: kesopanan adalah masalah pada kebanyakan budaya. orang pendukung mungkin  mungkin tidak diinginkan ada saat klien diperiksa atau diobati.
(i)        Sadari kebutuhan klien atau kesukaan terhadap pemberi asuhan yang wanita.
Rasional : praktik budaya dapat melarang adanya seorang pria selama persalinan atau melahirkan.
(j)         Berikan kesempatan untuk percakapan termasuk pilihan nama bayi, perkiraan persalinan, dan presepsi atau rasa takut selama kehamilan.
Rasional : adanya kesempatan untuk klien mengungkapkan kesenangan tentang diri sendiri, kehamilan dan bayinya. Bertindak sebagai pengalihan atau membantu melewati waktu selama fase persalinan yang umumnya paling panjang.
(k)       Tentukan kebutuhan hiburan, anjurkan berbagai aktivitas (mis, televisi, buku, kartu, berjalan-jalan).
Rasional : membantu mengalihkan perhatian dari persalinan, membuat waktu yang dilewati lebih cepat. Bila kondisi memungkinan berjalan-jalan biasanya meningkatkan dilatasi servikal, pemendekan persalinan, dan menurunkaninsiden abnormalitas DJJ.
2)    Masalah keperawatan II : kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kemajuan persalinan, ketersedian pilihan. Hasil yang diharapkan : (a) mengungkapkan pemahaman tentang psikologis dan perubahan fisiologis; (b) berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan; (c) mendemonstrasikan teknik pernapasan dan releksasi yang tepat. Intervensi yaitu :
(a)  Kaji persiapan tingkat pengetahuan, dan harapan klien.
Rasional ; membantu menentukan kebutuhan akan informasi atau belajar.
(b)   Berikan informasi tentang prosedur (khusunya pemantauan janin dan telemetri) dan persalinan normal.
Rasional : pendidikan antepartal dapat memudahkan persalinan dan proses kelahiran, membantu meningkatkan sikap positif dan / atau rasa kontrol, dan dapat menurunkan ketergantungan pada medikasi.
(c)   Diskusikan pilihan atau perawatan selama proses persalinan atau kelahiran. Berikan informasi tentang pilihan melahirkan bila tersedia dan tepat.
Rasional : perlu untuk klien atau pasangan dalam berpartisipasi secara aktif dalam proses pengambilan keputusan.
(d)  Tinjau ulang peran anggota staf.
Rasional: mengidentifikasi sumber untuk kebutuhan atau situasi khusus.
(e)  Demonstrasikan teknik pernapasan/relaksasi dengan tepat untuk setiap fase persalinan.
Rasional : Pasangan yang tidak siap, perlu belajar mekanisme koping pada penerimaan untuk menurunkan stres dan ansietas. 
(f)   Tinjau ulang tingkat aktivitas yang tepat dan tindakan pencegahan yang aman, apakah klien tetap dirumah sakit atau klinik atau kembali ke rumah.
Rasional : memberikan bimbingan pada klien untuk membuat pilihan perawatan diri: memungkinkan klien terlibat dalam aktivitas pengalihan yang aman untuk memfokuskan perhatian atau melewati waktu.
3)    Masalah keperawatan III : kekurangan volume cairan, resiko terhadap. Hasil yang diharapkan: (a) mempertahankan masukan cairan sesuai kemampuan; (b) mendemonstrasikan hidrasi adekuat (misalnya: membran mukosa lembab, urin kuning atau jernih dengan jumlah tepat, tidakada rasa haus, tidak ada demam, tanda-tanda vital atau DJJ stabil). Intervensi yaitu:
(a)  Pantau masukan dan haluaran. Perhatika jenis urin, anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih sedikitnya sekali setiap hari 1 setengan sampai dua jam.
Rasional : Masukan dan haluaran harus diperkirakan sama, tergantung pada derajat hidrasi. Penurunan janin dapat diganngu bila kandung kemih distensi.
(b)   Pantau suhu setiap 4 jam, lebih sering bila tinggi. Pantau tanda-tanda vital/denyut jantung janin sesuai indikasi.
Rasional : Dehidrasi dapat menyebabkan peningkatan suhu, tekanan darah, nadi, pernapasan dan denyut jantung janin.
(c)   Kaji produksi mukus, jumlah air mata dalam mata dan turgor kulit.
Rasional : tanda tambahan dari dehidrasi adekuat atau terjadinya dehidrasi
(d)  Berikan cairan jernih dan es batu sesuai izin.
Rasional: membantu meningkatkan hidrasi dan dapat menyediakan kalori.
(e)  Kaji praktik budaya mengenai masukan.
Rasional : beberapa budaya (misalnya: beberapa orang afrika, penduduk bagian selatan amerika serikat) minum teh khusus, meyakinkan mereka merangsang kemajuan persalinan secara kontinue.
(f)   Berikan perawatan mulut dan permen keas sesuai izin.
Rasional : menurunkan ketidaknyamanan karena mulut kering
(g)  Berikan bolus cairan parenteral, sesuai indikasi.
Rasional : mungkin diperlukan bila masukan oral tidak adekuat atau terbatas. Bertindak sebagai pengaman dalam kejadian dehidrasi atau hemoragi; mengatasi beberapa efek negatif dari anestesia atau analgesia
(h)  Pantau kadar hematokrit (Ht)
Rasional : Ht meningkat sesuai penurunan komponen plasma pada adanya dehidrasi berat.
4)    Masalah keperawatan IV : Koping individu tidak efektif, resiko tinggi terhadap. Hasil yang diharapkan : (a) mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping sendiri; (b) mengidentifikasi perilaku yang tepat secara individu untuk mempertahankan kontrol; (c) menggunakan obat-obatan secara adekuat. Intervensi yaitu:
(a)  Tentukan latar belakang budaya klien, kemampuan koping, dan respon verbal dan non verbal terhadap nyeri. Tentukan pengalaman masa lalu dan persiapan antepartal.
Rasional: setiap klien berespon dalam cara yang unik pada stres persalinan dan ketidaknyamanan yang menyertai berdasarkan pada faktor-faktor ini. Penampilan koping yang tepat atau tidak tepat dapat secara aktual menjadi manifestasi budaya seseorang; (misalnya orang aAsia atau perempuan Afrika-Amerika mungkin dapat menahan diri karena rasa takut mempermalukan diri sendiri atau keluarga, sedangkan budaya hispanik dan timur tengah secara khas mendorong ekspresi verbal tentang penderitaan. Untuk alasan ini, maka penting untuk membandingkan respon verbal dan nonverbal saat mengkaji kemampuan koping.
(b)  Catat usia klien dan adanya pasangan atau orang pendukung.
Rasional : koping negatif dapat mengakibatkan peningkatan ansietas dimana kasus klien dapat memerlukan obat-obatan terlalu dini dalam proses kelahiran. Klien yang lebih muda dan tidak berkeinginan dapat menunjukan lebih rentan terhadap sters atau ketidaknyamanan dan mengalami kesulitan dalam mempertahankan pengaturan atau kontrol.
(c)  Tinggal dengan atau berikan teman untuk klien yang sendiri
Rasional: kebutuhan yang tidak terpenuhi dan rasa takut ditolak pada waktu peningkatan ketergantungan dapat mengganggu kemampuan untuk berfokus pada pengaturan atau kontrol.
(d)  Dukung klien atau pasangan selama kontraksi dengan menguatkan teknik pernapasan dan relaksasi
Rasional ; menurunkan ansietas dan memberikan distraksi, yang dapat memblok presepsi implus nyeri dalam korteks serebral.
(e)  Buat hubungan dan perilaku menerima tanpa menghakimi. Buat kontrak verbal tentang perilaku yang diharapkan klien dan perawat.
Rasional : memudahkan kerjasama, memberikan kesempatan pada klien untuk meninggalkan pengalaman perasaan positif dan meningkatkan harga diri.
(f)   Kaji kontraksi uterus atau pola relaksasi, status janin, perdarahan vagina, dan dilatasi serviks.
Rasional : mengesampingkan kemungkinan komplikasi yang dapat disebabkan atau memperberat ketidaknyamanan atau menurunkan kemampuan koping.
(g)  Diskusikan jenis analgesik regional atau sistemik atau anastesi bila tersedia dalam lingkungan kelahiran.
Rasional : membantu klien membuat pilihan persetujuan tentang metode untuk menghilangkan nyeri atau meningkatkan kenyamanan dan mempertahankan kontrol.
5)    Masalah keperawatan V : Infeksi, resiko tinggi terhadap, maternal. Hasil yang diharapkan : (a) mengidentifikasi atau menggunakan teknik untuk meminimalkan resiko infeksi; (b) bebas dari tanda-tanda infeksi ( misalnya, tidak demam, cairan amniotik jernih, hampir tidak berwarna, dan tidak berbau.
Intervensi yaitu :
(a)  Lakukan pemeriksaan vagina awal : ulangi bila pola kontraksi atau perilaku klien menandakan kemajuan persalinan bermakna.
Rasional : Pengulangan pemeriksaan vagina brperan dalam insiden infeksi saluran asenden.
(b)  Tekankan pentingnya mencuci tangan yang baik dengan tepat.
Rasional : Menurunkan resiko yang memerlukan atau menyebarkan agen
(c)  Gunakan teknik aseptik selama pemeriksaan vagina.
Rasional : Membantu mencegah pertumbuhan bakteri, membatasi kontaminasi dari pencapaian ke vagina.
(d)  Berikan atau Anjurkan perawatan perineal setelah eliminasi setiap 4 jam dan sesuai indikasi, ganti pembalut bila basah.
Rasional : Menurukan resiko infeksi saluran asenden.
(e)  Pantau dan gambarkan karakter cairan amnionik.
Rasional: pada infeksi, cairan amnionik menjadi lebih kental dan kuning pekat dan bau kuat dapat dideteksi.
(f)   Pantau suhu, nadi pernapasan, dan sel darah putih 9SDP) sesuai indikasi
Rasional dalam 4 jam setelah membrane ruptur insiden korioamnionitis meningkat secaraprogresif sesuai waktu, ditunjukan dengan peningkatan tanda-tanda vital dan jumlah SDP
(g)  Berikan cairan oral dan parenteraL sesuai indikasi.
Rasional: mempertahankan hidrasi dan rasa umum terhadap kesejahteraan.
(h)  Berikan antibiotik profilatik antravena (IV) jika diindikasikan.
Rasional : meskipun pemberian antibiotik pada periode intrapartal kadang-kadang kontroversial karena beban antibiotik pada janin, antibiotik tersebut dapat melindungi perkembangan korioamnionitis pada klien beresiko.
(i)    Berikan infus oksitosin, sesuai pesanan.
Rasional : bila klien pada gestasi minggu ke 36, dan persalinan tidak terjadi dalam 24 jam setelah membrane ruptur, infeksi dapat terjadi. Awitan persalinan menurunkan resiko pengarus negatif pada klien atau janin.
     Fase aktif
(1)   Masalah keperawatan I : Nyeri Akut. Hasil yang diharapkan : (a) mengidentifikasi atau menggunakan teknik untuk mengontrol nyeri atau ketidaknyamanan; (b) melaporkan ketidaknyamanan minimal; (c) tampak rileks atau tenang diantara kontraksi; (d) bebas dari efek samping bila agens analgesia atau angesik diberikan. Intervensi yaitu :
(a)  Kaji derajat ketidaknyamanan melalui isyarat verbal dan non verbal. Perhatiakan pengaruh budaya dan respon nyeri.
Rasional : Tindakan dan reaksi nyeri adalah induvidual dan berdasarkan pengalamn masa lalu, memahami perubahan fisiologi, dan latar belakang budaya.
(b)  Bantu dalam penggunaan teknik pernapasan / relaksasi yang tepat dan pada masase abdomen.
Rasional : Dapat memblok implus nyeri dalam korteks serebral melalui respon kondisi dan stimulasikutan. Memudahkan kemajuan persalinan normal.
(c)  Bantu tindakan kenyamanan (misalnya gosokkan punggung atau kaki, tekanan sakral, istirahat punggung, perawatan mulut, perubahan posisi, perawatan parineal dan pertukaran linen).
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan hygine, meningkatkan perasaan sejahtera. Posisi miring kiri menurunkan tekanan uterus pada vena kava, tetapi mengubah posisi secara periodik mencegah iskemik jaringan dan/atau kekuatan otot dan meningkatkan kenyamanan, mengakibatkan kemungkinan trauma, mempemgaruhi penurunan janin, dan memperlama persalinan.
(d)  Anjurkan klien untuk berkemih setiap 1-2 jam. Palpasi diatas simpisi pubis untuk menentukan distensi, khususnya setelah blok saraf.
Rasional : Mempertahankan kandung kemih bebas distensi, yang dapat meningkatkan ketidaknyamanan, mengakibatkan kemungkinan trauma, mempengaruhi penurunan janin, dan memperlama persalinan.
(e)  Berikan informasi tentang ketersediaan alnalgesia, respon atau efek samping biasanya (klien dan janin, dan durasi efek analgesik pada lampu atau situasi penyerta.
Rasional : memungkinkan klien membuat pilihan persetujuan tentang cara pengontrolan nyeri. (bila tindakan konservatif tidak efektif dan meningkatkan tegangan otot menghalangi kemajuan persalinan, penggunaan mendikasi yang minimal dapat mengikatkan relaksasi, memperpendek persalinan, membatasi keletihan, dan mencegah komplikasi).
(f)   Intruksikan klien dalam menggunakan analgesik yang dikontol pasien: pantau caranya menggunakan.
Rasional : memungkinkan klien untuk mengontrol nyerinya sendiri, biasanya sedikit medikasi
(g)  Hitung waktu dan catat frekuensi, insensitas, dan durasi pola kontraksi uterus setiap 30 menit.
Rasional : Memantau kemajuan persalinan dan memberikan informasi untuk klien.
(h)    Kaji sifat dan jumlah tampilan vagina, dilatasi servikal, penonjolan, lokasi janin, dan penurunan janin.
Rasional : Dilatasi servikal seharusnya 1,2 cm/jam  pada nulipara dan 1,5 cm/jam pada multipara. Tampilan vagina meningkat dengan turunya janin.
(i)    Kaji tekanan darah dan nadi setiap 1-2 menit setelah injeksi regional selama 15 menit pertama, kemudian setiap 10-15 menit kedua, kemudian setiap 10-15 menit untuk sisa waktu persalinan.
Rasional : hipotensi maternal, efek samping paling umum dari anestesi blok regional dapat terlentang dapat terjadi karena posisi litotomi selama pemberian anestesi paraservikal.
(j)    Posisikan pada posisi miring kiri dengan kepala datar dan kaki ditinggikan, atau meninggikan lutut dan mengubah posisi uterus secara manual ke kiri sesuai indikasi
Rasional : posisi miring kiri meningkatkan sirkulasi plasenta. Kaji variabilitas DJJ. Agen seperti buvikain (maircaine) dan Kloroprokain Hidroklorida (nescaine) mempunyai efek kecil pada variabilitas DJJ; perubahan haru diselidiki secara seksama
(k)  Pantau denyut janin secara elektronik, dan catat penurunan variabilitas atau bradikardia.
Rasional : Bradikardia dan penurunan variabilitas janin adalah efek samping yang biasa dari blok paraservikal.
(l)    Berikan bolus IV 500-1000 ml dari larutan ringer laktat tepat sebelum pemberian blok pepidural.
Rasional : Peningkatan kadar cairan sirkulasi membantu mencegah efek samping hipotensi berkenaan dengan blok.
(2)  Masalah keperawatan II : Eliminasi urin, perubahan; Hasil yang diharapkan : (a) mengosongkan kandung kemih dengan tepat; (b) bebas dari cedera kandung kemih.
Intervensi yaitu :
(a)  Palpasi diatas simpisis pubis
Rasional : Mendeteksi adanya urin dalam kandung kemih dan derajat kepenuhan. Pengosongan tidak komplet dari kandung kemih dapat terjadi karenapenurunan sensasi tonus.
(b)  Catat dan bandingkan masukan dan haluaran. Catat jumlah, warna konsentrasi, dan berat jenis urin.
Rasional : Haluaran harus kira-kira sama dengan masukan. Peningkatan haluaran dapat menunjukkan retensi cairan berlebihan sebelum awitan persalinan atau efek tirah baring.
(c)  Anjurkan upaya berkemih yang sering, sedikitnya setiap 1-2 jam.
Rasional : Tekanan dari bagian presentasi pada kandung kemih sering menurunkan sensasi dan mengganggu pengosongan komplet.
(d)  Posisikan klien tegak, alirkan air kran, cucurkan air hangat di atas perineum, atau biarkan klien meniup gelembung melalui sedotan
Rasional: memudahkan berkemih atau meningkatkan pengosongan kandung kemih.
(e)  Ukur suhu dan nadi, perhatikan peningkatan. Kaji kekeringan kulit dan membran mukosa.
Rasional :Memantau derajat hidrasi.
(f)   Kateterisasi sesuai indikasi.
Rasional : Kandung kemih terlalu distensi dapat menyebabkan atoni, menghalangi turunnya janin, atau menimbulkan trauma karena bagian presentasi janin.
6)    Masalah keperawata III : ansietas, resiko tinggi terhadap. Hasil yang diharapkan : (a) melaporkan ansietas pada tingkatan dapat diatasi; (b) menggunakan teknik pernapasan dan relaksasi secara terampil tampak rileks sesuai dengan situasi persalinan; (c) tampak rileks sesuai dengan situasi persalinan. intervensi yaitu :
(a)  Kaji tingkat ansietas klien melalui isyarat verbal maupun non verbal
Rasional : mengidentifikasi tingkat intervensi yang perlu. Ansietas berlebihan meningkatkan presepsi nyeri dan dapat mempunyai dampak negatif terhadap hasil persalinan
(b)  Berikan dukungan profesional intrapartal kontinue. Informasikan klien bahwa ia tidak akan ditinggalkan sendirian
Rasional : rasa takut terhadap penolakan dapat makin berat sesuai kemajuan persalinan.
(c)  Anjurkan penggunaan teknik pernapasan dan relaksasi.
Rasional : membantu dalam menurunkan ansietas dan persepsi terhadap nyeri dalam korteks serebral, meningkatkan rasa kontrol.
(d)  Pantau DJJ dan Variabilitasnya; pantau Td ibu
Rasional : ansietas yang lama dapat mengakibatkanketidakseimbangan endokrin dengan kelebihan pelepasan epinefrin dan norepinefrin, meningkatkan TD dan nadi.
(e)  Evaluasi pola kontraksi atau kemajuan persalinan.
Rasional : peningkatan kekuatan atau intensitas kontraksi uterus dapat meningkatkan masalah klien tentang kemampuan pribadi dan hasil persalinan
6)    Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan rencana keperawatan oleh perawat dan klien. Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan yang dimulai setelah perawat menyusun rencana keperawatan. (D. Dermawan, 2012)
Ada beberapa keterampilan yang dibutuhkan dalam hal ini diantaranya : (1). Ketrampilan kognitif ; mencakup pengetahuan keperawatan yang menyeluruh. Perawat harus mengetahui alasan untuk setiap intervensi terapeutik, memahami respon fisiologis dan psikologis normal dan abnormal, mampu mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran dan pemulangan pasien dan mengenali aspek-aspek promotif kesehatan pasien dan kebutuhan penyakit. (2). Ketrampilan interpersonal ; penting untuk tindakan keperawatan yang efektif. Perawat harus berkomunikasi dengan jelas kepada pasien, keluarganya dan anggota tim perawatan kesehatan lainnya. Perhatian dan rasa saling percaya ditunjukan ketika perawat berkomunikasi secara terbuka dan jujur. Perawat juga harus sensitif pada respon emosional pasien terhadap penyakit dan pengobatan. Penggunaan keterampilan interpersonal yang sesuai memungkinkan perawat mempunyai persepsi terhadap komunikasi verbal dan nonverbal pasien. (3). Keterampilan psikomotor ; mencakup kebutuhan langsung terhadap perawatan kepada pasien, seperti perawatan luka, memberikan suntikan, melakukan pengisapan lender, mengatur posisi, membantu pasien memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. Perawat mempunyai tanggung jawab profesional untuk mendapatkan ketrampilan ini. Selain itu, perawat juga harus mengkaji tingkat kompetensi mereka dan memastikan bahwa pasien mendapatkan tindakan yang aman.


a)  Tahap-tahap Pelaksanaan
(1)   Tahap persiapan : (a). review rencana tindakan keperawatan; (b). Analisis pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan; (c). Antisipasi komplikasi yang akan timbul; (d). Mempersiapkan peralatan yang diperlukan (waktu, tenaga, alat); (e). Mengidentifikasi aspek-aspek hukum dan etik; (f). Memperhatikan hak-hak pasien, antara lain ha katas pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan kesehatan, hak atas informasi, hak untuk menentukan nasib sendiri, hak atas second opinion.
(2)   Tahap pelaksanaan : (a). Berfokus pada pasien; (b). Berorientasi pada tujuan dan kriteria hasil; (c). Memperhatikan keamanan fisik dan psikologis pasien; (d). Kompeten.
(3)   Tahap sesudah pelaksanaan : (a). Menilai keberhasilan tindakan; (b). Mendokumentasikan tindakan, yang meliputi aktivitas tindakan perawat, hasil/repon pasien, tanggal/jam, nomor diagnosis keperawatan, tanda tangan.
b)  Jenis-jenis Tindakan Keperawatan:
(1)   Independen, suatu tindakan yang dilaksanakan oleh perawat tanpa petunjuk dan instruksi dari dokter atau profesi kesehatan lainnya. Tindakan independen, terdiri dari : a) Tindakan diagnostik, meliputi : wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana (Hb) dan membaca hasil pemeriksaan laboratorium, rontgen, dan pemeriksaan diagnostik lainnya; b) Tindakan terapeutik, dilakukan untuk mengurangi, mencegah, dan mengatasi masalah klien; c) Tindakan edukatif (mengajarkan), untuk mengubah perilaku klien melalui tindakan promosi dan pendidikan kesehatan; dan d) Tindakan merujuk, lebih ditekankan pada kemampuan perawat dalam mengambil suatu keputusan klinik tentang keadaan klien dan kemampuan perawat untuk bekerja sama dengan profesi kesehatan lainnya;
(2)   Interdependen, suatu kegiatan yang memerlukan kerja sama dengan profesi kesehatan lainnya seperti tenaga social, ahli gizi, fisioterapi, dan dokter.
(3)   Dependen, suatu tindakan yang berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan medis. Tindakan tersebut menandakan suatu cara dimana tindakan medis dilaksanakan.

7)    Evaluasi
Evaluasi adalah membandingkan suatu hasil/perbuatan dengan standar untuk tujuan pengambilan keputusan yang tepat.
Tujuan dari evaluasi : (1) Mengakhiri rencana tindakan keperawatan; (2) Memodifikasi rencana tindakan keperawatan; (3) Meneruskan rencana tindakan keperawatan.
a)     Macam-macam Evaluasi
Menurut Rohmah dan Walid (2012), macam-macam evaluasi antara lain :
(1)   Evaluasi proses (formatif) : evaluasi yang dilakukan setiap selesai tindakan, berorientasi pada etiologi, dilakukan secara terus-menerus sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.
(2)   Evaluasi hasil (sumatif) : evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan secara paripurna. Berorientasi pada masalah keperawatan, menjelaskan keberhasilan/ketidakberhasilan, rekapitulasi, dan kesimpulan status kesehatan klien sesuai dengan kerangka waktu yang ditetapkan.
b)     Komponen SOAP/SOAPIER
Menurut Rohmah dan Walid (2012), untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau perkembangan pasien, digunakan komponen SOAP/ SOAPIE / SOAPIER. Penggunaannya tergantung dari kebijakan setempat. Yang dimaksud dengan SOAPIER adalah S (data subjektif) yaitu perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan setelah dilakukan tindakan keperawatan. O (data objektif) yaitu data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat secara langsung kepada pasien dan yang dirasakan pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan. A (analisis) yaitu interpretasi dari data subjektif dan objektif  merupakan suatu masalah atau diagnosis keperawatan yang masih terjadi atau juga dapat dituliskan masalah/diagnosis baru yang terjadi akibat perubahan status kesehatan pasien yang telah teridentifikasi datanya dalam data subjektif dan objektif. P (planning) yaitu perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan, dimodifikasi atau ditambahkan dari rencana tindakan keperawatan yang elah ditentukan sebelumnya. Tindakan yang telah menunjukan hasil yang memuaskan dan tidak memerlukan tindakan ulang pada umumnya dihentikan. Tindakan yang perlu dilanjutkan adalah tindakan yang masih kompeten untuk menyelesaikan masalah pasien dan membutuhkan waktu untuk mencapai keberhasilannya. Tindakan yang perlu dimodifikasi adalah tindakan yang dirasa dapat membantu menyelesaikan masalah pasien tetapi perlu ditingkatkan kualitasnya atau mempunyai allternatif pilihan yang diduga dapat membantu mempercepat proses penyembuhan. I (implementasi) yaitu tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan instruksi yang telah teridentifikasi dalam komponen P (perencanaan). E (evaluasi) yaitu respon pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan. R (reassessment) yaitu pengkajian ulang yang dilakukan terhadap perencanaan setelah diketahui hasil evaluasi, apakan dari rencana tindakan perlu dilanjutkan, dimodifikasi atau dihentikan.

11/16/2015

implikasi proses kultural dalam proses keperawatan

 BERDASARKAN MAKALAH YG DIBUAT KELOMPOK KAMI

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul ” implikasi proses kultural dalam proses keperawatan “tepat pada waktunya. Dalam penulisan makalah ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar matakuliah Antropologi yang telah memberikan arahan, bimbingan, serta motivasi kepada kelompok kami.  
Penulis menyadari bahwa tugas kelompok ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk sempurnanya tugas kami. Semoga Tugas kelompok ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan siapa saja yang membacanya.


`                        Ambon, 06 November2015

                                   
                            kelompok 1








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAn
A.Latar Belakang..........................................................................................................................
B. Rumusan Masalah..........................................................................................................
C. Manfaat Penjelasan.............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Implikasi & Perspektif Transkultural dalam Keperawatan.....................................................
BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan.........................................................................................................................
B.  Saran.....................................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................










BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
    Antropologi adalah ilmu tentang manusia, masa lalu dan kini, yang menggambarkan manusia melalui pengetahuan ilmu sosial dan ilmu hayati (alam), dan juga humaniora. Antropologi berasal dari kata Yunani (anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal") atau secara etimologis antropologi berarti ilmu yang memelajari manusia.
     Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang kuat, yang dapat dikembangkan serta dapat diaplikasikan dalam praktek keperawatan.
     Perkembangan teori keperawatan terbagi menjadi 4 level perkembangan yaitu metha theory, grand theory, midle range theory dan practice theory.
Salah satu teori yang diungkapkan pada midle range theory adalah
Transcultural Nursing Theory. Teori ini berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
     penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien.
Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock.

     Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat
tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan danbeberapa mengalami disorientasi. Salah satu contoh yang sering ditemukan adalah ketika klien sedang mengalami nyeri.
Pada beberapa daerah atau negara diperbolehkan seseorang untuk mengungkapkan rasa nyerinya dengan berteriak atau menangis.
Tetapi karena perawat memiliki kebiasaan bila merasa nyeri hanya
dengan meringis pelan, bila berteriak atau menangis akan dianggap tidak sopan, maka ketika ia mendapati klien tersebut menangis atau berteriak, maka perawat akan memintanya untuk bersuara pelan-pelan, atau memintanya berdoa atau malah memarahi pasien karena dianggap telah mengganggu pasien lainnya.
Kebutaan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.


B.     Tujuan
1.      Tujuan umum
Dapat memahami tentang perspektif & Impikasi transkultural dalam keperawatan berkenaan dengan globalisasi dan pelayanan kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan bagi pasien menjelang dan saat kematian.
2.      Tujuan khusus
a.       Mahasiswa mampu memaparkan perspektif & Impikasi transkultural dalam keperawatan berkenaan dengan globalisasi dan pelayanan kesehatan
b.      Mahasiswa mampu memaparkan segala bentuk asuhan keperawatan transkultural
c.       Mahasiswa mampu memaparkan asuhan keperawatan bagi pasien menjelang dan saat kematian
d.      Mahasiswa mampu memaparkan penyelesaian kasus mengenai peran perawat bila dihadapkan pada situasi tersebut dan hal yang sebaiknya dilakukan perawat untuk membantu pasien
e.       Mahasiswa mampu Mengetahui konsep bimbingan klien sakaratul maut sesuai dengan standart keperawatan

.














BAB II
PEMBAHASAN
A.     Implikasi & Perspektif Transkultural dalam Keperawatan
IMPLIKASI KEPERAWATAN
Penerapan proses Keperawatan mempunyai implikasi atau dampak terhadap:
1.      Profesi Keperawatan
Secara profesional proses keperawatan menyajikan suatu lingkup praktik keperawatan.
PENERAPAN SECARA MAKSIMAL PROSES KEPERAWATAN
DALAM PROSES TRANSKULTURAL LEBIH DIKEDEPANKAN ASPEK, BUDAYA. MELIPUTI ADAT ISTIADAT, KEBIASAAN. DLL
      2.      Klien
1)    Penggunaan proses Keperawatan sangat bermanfaat bagi klien dan Keluarga
2)    Klien dan Keluarga berpartisipasi secara aktif dalam keperawatan dengan melibatkan ke dalam 5 langka proses keperawatan
3.      Perawat
1)    Proses Keperawatan akan meninmgkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan perkembangan profesionalisme.
2)    Mningkatkan hubungan antara perawat denga klien dapat di lakukan melalui penerapan proses keperawatan
3)    PK meningkatkan suatu pengembangan dan kretifitas dalam penjelasan masalah klien

1.      Keperawatan Transkultural dan Globalisasi dalam Pelayanan Kesehatan
Sebelum mengetahui lebih lanjut keperawatan transkultural, perlu kita ketahui apa arti kebudayaan terlebih dahulu. Kebudayaan adalah suatu system gagasan, tindakan, hasil karya manusia yang diperoleh dengan cara belajar dalam rangka kehidupan masyarakat. (koentjoroningrat, 1986)
Wujud-wujud kebudayaan antara lain :
1.        Kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan
2.        Kompleks aktivitas atau tindakan
3.        Benda-benda hasil karya manusia
Keperawatan sebagai profesi memiliki landasan body of knowledge yang dapat dikembangkan dan diaplikasikan dalam praktek keperawatan.
Teori transkultural dari keperawatan berasal dari disiplin ilmu antropologi dan dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konteks atau konsep keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai cultural yang melekat dalam masyarakat.
Menurut Leinenger, sangat penting memperhatikan keragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya.
Keperawatan transkultural adalah ilmu dengan kiat yang humanis yang difokuskan pada perilaku individu/kelompok serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat atau sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya. Sedangkan menurut Leinenger (1978), keperawatan transkultural adalah suatu pelayanan keperawatan yang berfokus pada analisa dan studi perbandingan tentang perbedaan budaya.

Tujuan  dari transcultural nursing adalah untuk mengidentifikasi, menguji, mengerti dan menggunakan norma pemahaman keperawatan transcultural  dalam meningkatkan kebudayaan spesifik dalam asuhan keperawatan. Asumsinya adalah berdasarkan teori caring, caring adalah esensi dari, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Perilaku caring diberikan  kepada manusia sejak lahir hingga meninggal dunia. Human caring merupakan fenomena universal dimana,ekspresi, struktur polanya bervariasi diantara  kultur satu tempat dengan tempat lainnya.

2.      Konsep dan Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural
Konsep dalam transcultural nursing adalah :
a.    Budaya
Norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.

b.    Nilai budaya
Keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau suatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan
c.       Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan
Merupakan bentuk yang optimal dalam pemberian asuhan keperawatan
d.      Etnosentris
         Budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain adalah persepsi yang dimiliki individu  menganggap budayanya adalah yang terbaik
e.       Etnis
Berkaitan dengan manusia ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut cirri-ciri dan kebiasaan yang lazim
f.     Ras
Perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal muasal manusia. Jenis ras umum dikenal kaukasoid, negroid,mongoloid.
g.      Etnografi: Ilmu budaya
Pendekatan metodologi padapenelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada pemberdayaan budaya setiap individu.


h.    Care
      Fenomena yang berhubungan dengan bimbingan bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga dan kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhikebutuhan baik actual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia
i.      Caring
         Tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia
j.      Culture care
      Kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi digunakan untuk membimbing, mendukung atau member kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat dan berkembang bertahan hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai
k.    Cultural imposition
              Kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktek dan nilai karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi dari kelompok lain.

    


 Paradigma transcultural nursing (Leininger 1985) , adalah cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam asuhan keperawatan yang sesuai  latar belakang budaya, terhadap 4 konsep sentral keperawatan yaitu :
1.    Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilaidan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan danmelakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memilikikecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapundia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).

2.    Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisikehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatukeyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untukmenjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasidalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang samayaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yangadaptif (Andrew and Boyle, 1995).
3.    Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4.    Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktikkeperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).

3.    Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya
Peran perawat dalam transkultural nursing yaitu menjembatani antara sistem perawatan yang dilakukan masyarakat awam dengan sistem perawatan melalui asuhan keperawatan.
Tindakan keperawatan yang diberikan harus memperhatikan 3 prinsip asuhan keperawatan yaitu:
Cara I : Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi.
Cara II : Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang lain.
Cara III : Restrukturisasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan keyakinan yang dianut.











BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
    IMPLIKASI KEPERAWATAN
Penerapan proses Keperawatan mempunyai implikasi atau dampak terhadap:
1.      Profesi Keperawatan
Penerapan proses Keperawatan mempunyai implikasi atau  dampak terhadap:
1.      Profesi Keperawatan
Secara profesional proses keperawatan menyajikan suatu lingkup praktik keperawatan.
PENERAPAN SECARA MAKSIMAL PROSES KEPERAWATAN
DALAM PROSES TRANSKULTURAL LEBIH DIKEDEPANKAN ASPEK, BUDAYA. MELIPUTI ADAT ISTIADAT, KEBIASAAN. DLL
      2.      Klien
3)    Penggunaan proses Keperawatan sangat bermanfaat bagi klien dan Keluarga
4)    Klien dan Keluarga berpartisipasi secara aktif dalam keperawatan dengan melibatkan ke dalam 5 langka proses keperawatan
5)   
3.      Perawat
4)    Proses Keperawatan akan meninmgkatkan kepuasan dalam bekerja dan meningkatkan perkembangan profesionalisme.
5)    Meningkatkan hubungan antara perawat denga klien dapat di lakukan melalui penerapan proses keperawatan

B.      Saran
                 Kami membuat makalah ini untuk  pembelajaran bersama. Kepada para tim medis agar memahami kultur budaya yang ada pada masyarakat, menyesuaikan agar kerja sama dalam bidang kesehatan berjalan dengan baik.










Daftar Pustaka

Akhmadi. 2011. "Konsep Keperawatan Transkultural (Madeleine Leininger)". Lecture/Class. Gadjah Mada University. Jogjakarta.
http://perawatpelajar.blogspot.co.id/2012/10/konsep-transcultural-nursing.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi
http://kimdinirinjani.blogspot.co.id/2012/12/antropologi-sosial.html
https://mattoreang.wordpress.com/2010/05/25/aplikasi-teori-transcultural-nursing-dalam-proses-keperawatan/
http://faizalbnu.blogspot.co.id/2014/10/makalah-implikasi-penggunaan.html




Makalah keperawatan dasar : Mencuci ramcut pasien






                                                             KEPERAWATAN DASAR

“MENCUCI RAMBUT PASIEN ”

Kelompok 9
Dewanti S husen
Ria R F Essary
Jainal Suneth
Winda windy C Patty










DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MALUKU
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN AMBON
2014


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Mencuci rambut pasien”Tepat pada waktunya. Dalam penulisan makalah ini kami ingin mengucapkan terima kasih.  kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna,untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan siapa saja yang membacanya.


Ambon, 15 Desember 2014

                                                   Kelompok 9
















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................................
KATA PENGANTAR......................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................
1.3 Tujuan.....................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mencuci rambut pasien ............................................................................
2.2 Tujuan mencuci rambut pasien ...................................................................................
2.3  Pelaksanaan ...............................................................................................................

2.4 Alat-alat..................................................................................................................
2.5 Prosedur pelaksanaan..............................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..............................................................................................................
3.2 Saran.......................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................















BAB I
PENDAHULUAN


             Perawatan rambut merupakan suatu prosedur pemenuhan kebutuhan kebersihan diri dan lingkungan yang merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Dimana setiap manusia membutuhkan kenyamanan pada diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Namun dalam memeberikan suasana atau memenuhi kebutuhan tersebut bukan berarti perawat harus membersihkan lingkungan, tetapi bagaimana perawat tersebut menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pasien.
          Kebutuhan kebersihan diri dan lingkungan sangat penting karena akan berdampak pada proses penyembuhan. Terpenuhinya kebutuhan kebersihan diri dan lingkungan dapat membangkitkan motivasi klien untuk bekerjasama dalam program keperawatan. Pelaksanaan program pemenuhan diri dan lingkungan pada klien dilakukan pada pasien yang tidak mampu secara diri dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Pemenuhan kebutuhan kebersihan diri dan lingkungan dalam keperawatan dapat meliputi menyiapkan tempat tidur, merawat kulit pada daerah yang tertekan, merawat rambut, merawat gigi dan mulut, merawat kuku, hign vulva, dan memandikan pasien. Pada perawatan rambut akan dibahas di bawah ini.

























BAB II
Pembahasan


A.    Pengertian

Mencuci rambut adalah menghilangkan kotoran pada kulit kepala dengan menggunakan sabun/ sampo kemudian dibilas dengan air bersih sampai bersih.

B.    Tujuan
1.      Memberikan perasaan senang, nyaman dan segar kepada klien.
2.      Rambut tetap bersih, rapih dan terpelihara.
3.      Merangsang peredaran darah di bawah kulit kepala.
4.      Membersihkan kutu dan ketombe.

C.     Pelaksanaan
Proses mencuci rambut ini dapat dilakukan pada waktu:
1.      Jika rambut kotor.
2.      Pada klien yang akan menjalani operasi.
3.      Secara rutin 5 hari ssekali, jika keadaan klien memungkinkan.
4.     Setelah dipasang kap kutu.

D.    Alat-alat
Alat –alat yang perlu dipersiapkan untuk melakukan proses ini adalah:
1.      Dua buah sisir
2.      Dua buah handuk
3.      Sabun/ sampo pada tempatnya
4.      Kapas dan tempatnya
5.      Satu buah celemek
6.      Talang karet
7.      Alas (handuk/ perlak)
8.      Kom kecil (mangkok) serta kain kasa dalam tempatnya 2-3 potong
9.      Ember
10.  Bengkok
11.  Gayung
12.  Sarung tangan bersih
13.  Termos berisi air hangat
14.  Lap pel

E.     Prosedur Pelaksanaan
1.      Bawa alat ke dekat klien
2.      Jelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
3.      Cuci tangan
4.      Tutup jendela/ pasang sampiran
5.      Pakai celemek
6.      Pakai sarung tangan
7.      Atur posisi tidur klien senyaman mungkin dengan kepala dekat sisi tempat tidur
8.      Pasang perlak dan handuk dibawah kepala pasien
9.      Letakan ember yang dialasi kain pel dibawah kepala klien
10.  Pasang talang dan arahkan ke ember yang kosong
11.  Tutup lubang telinga luar dengan kapas dan tutup mata klienmengunakan waslap
12.  Tutup dada klien dengan handuk sampai ke leher
13.  Sisir rambut kemudian siram dengan air hangat dengan menggunakan gayung
14.  Gosok pangkal rambut dengan menggunakan kain kasa yang telah diberi sampo kemudian urut dengan ujung jari, kasa koto dibuang ke bengkok
15.  Bilas rambut dengan menggunakan air hangat sampai bersih kemudian keringkan dengan handuk
16.  Angkat tutup telinga dan mata
17.  Angkat talang, masukan ke dalam ember dan letakan handuk dalam baki
18.  Kembalikan klien pada posisi semula dengan cara mengangkat kepala dan alasnya serta meletakannya diatas bantal
19.  Sisir rambut klien kembali dengan sisir bersih dan biarkan kering, atau keringkan dengan pengering rambut lalu sisir sampai rapi
20.  Rapihkan klien
21.  Lepaskan sarung tangan dan masukan kedalam bengkok
22.  Lepaskan celemek dan masukan kedalam ember kosong
23.  Bereskan dan bersihkan alat
24.  Kembalikan alat ketempat semula
25.  Cuci tangan

F.     Sikap
Sikap yang perlu diperhatikan saat melakukan proses mencuci rambut ini adalah:
1.      Selama bekerja perhatikan keadaan umum klien.
2.      Buang air pada ember jika hamper penuh.
3.      Pakaian klien yang basah/ kotor harus diganti.
4.      Bekerja dengan teliti agar klien dan sekitarnya tidak basah.
5.      Hindarkan tindakan yang menyebabkan klien lelah atau kedinginan.
6.      Ramah dan sopan pada klien.























BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Perawatan rambut ini penting dilakukan terhadap klien supaya dapat memberikan kenyaman pada klien dan dapat mempercepat proses penyembuhan.

B.    Saran
Untuk yang akan melakukan proses mencuci rambut ini diharapkan mampu bekerja dengan teliti, berlaku sopan santun, dan memperhatikan keadaan klien sehinggga klien merasa nyaman.





















Daftar Pustaka
http://fadlillahbieber.blogspot.com/2013/03/makalah-personal-hygiene.html
http://skepalir2010.blogspot.com/2011/11/makalah-kdm.html
http://nindanurmalasari.blogspot.com/2012/02/mencuci-rambut.html
http://tarzz.wordpress.com/2012/06/04/prosedur-mencuci-dan-menyisir-rambut/
http://dibuang-jangan.blogspot.com/2012/09/mencuci-rambut-pasien.html

2/18/2015

lirik lagu Shake It Off - Taylor Swift | Terjemahan

Shake It Off - Taylor Swift | Terjemahan 


I stay up too late
Aku begadang hingga terlalu larut

Got nothing in my brain
Pikiranku kosong

That's what people say
Begitulah kata orang

That's what people say
Begitulah kata orang
I go on too many dates
Aku terlalu sering berkencan

But I can't make them stay
Tapi tak seorang pun bisa kupertahankan

At least that's what people say
Setidaknya begitulah kata orang

That's what people say
Begitulah kata orang

II
But I keep cruising

Can't stop, won't stop moving
Tak bisa berhenti, tak mau berhenti bergerak

It's like I got this music
Seolah-olah ada musik ini

In my mind, saying it's gonna be alright
Di benakku, yang berkata semua kan baik-baik saja

III
Cause the players gonna play, play, play
Karena para pemain kan bermain, bermain, bermain

And the haters gonna hate, hate, hate
Dan para pembenci kan membenci, membenci, membenci

Baby I'm just gonna shake, shake, shake
Kasih, kan kucuekin

  shake it off
cuekin saja
Heartbreakers gonna break, break, break
Mata keranjang kan patah hati, patah hati, patah hati

And I think it's gonna fake, fake, fake
Dan kurasa itu kan pura-pura

Baby I'm just gonna shake, shake, shake
Kasih kan kucuekin

Shake it off, Shake it off
cuekin saja

I never miss a beat
Tak pernah kulewatkan nada

I'm lighting up my feet
Kuringankan langkah kakiku

And that's what they don't see
Dan itulah yang tak mereka lihat

That's what they don't see
Itulah yang tak mereka lihat

I'm dancing on my own
Aku berdansa seorang diri

I make the moves as I go
Kubergoyang saat aku bergerak

And that's what they don't know
Dan itulah yang mereka tak tahu

That's what they don't know
Itulah yang mereka tak tahu

Back to II, III

Hey, hey, hey
Just think while you been getting down and out about the liars
Berpikirlah saat kau sudah tak berdaya dengan para pembohong

And the dirty dirty cheats of the world
Dan para penipu kotor di dunia

You could have been getting down to this sick beat
Nyanyikan saja lagu ini

My ex man brought his new girlfriend
Mantanku membawa kekasih barunya

She's like oh my god
Dia seperti oh Tuhan

But I'm just gonna shake
Dan kan kucuekin

And to the fella over there with the hella good hair
Dan bagi teman-teman di sana yang berambut bagus

Won't you come on over baby we could shake, shake
Tak maukah kau ke sini kasih, kitacuekin

Back to III

Shake it of
cuekin saja
Shake it off
cuekin saja
Shake it off
cuekin saja
Shake it off
cuekin saja

Blank Space - Taylor Swift | dan Terjemahan

  Blank Space - Taylor Swift | dan Terjemahan 
 
 

Nice to meet you
Senang sekali bertemu denganmu

Where you been?
Dari mana saja kau?

I could show you incredible things
Aku bisa menunjukkanmu banyak hal menakjubkan

Magic, madness, heaven, sins
Sihir, kegilaan, surga, maksiat

Saw you there and I thought oh my god
Saat kulihat kau di sana dan kupikir ya tuhan

Look at that face, you look like my next mistake
Lihatlah wajah itu, kau terlihat seperti kesalahanku berikutnya

Love's a game, wanna play?
Cinta itu sebuah permainan, mau bermain?

New money, suit and tie
Orang kaya baru, setelan jas dan dasi

I can read you like a magazine
Aku bisa membacamu layaknya sebuah majalah

Ain't it funny rumors fly
Alangkah lucunya, gosip beredar

And I know you've heard about me
Dan aku tahu kau telah mendengar hal-hal tentangku

So hey, let's be friends
Jadi hey, ayo kita berteman

I'm dying to see how this one ends
Aku tak sabar mengetahui bagaimana hal ini akan berakhir

Grab your passport and my hand
Ambillah pasportmu dan raih tanganku

I could make the bad guys good for a weekend
Aku bisa mengubah bocah tengil menjadi anak baik selama akhir pekan

III
So it's gonna be forever
Jadi ini kan abadi

Or it's gonna go down in flames
Atau kan sekejap saja

You can tell me when it's over
Kau boleh memberitahuku saat semuanya telah berakhir

If the high was worth the pain
Andai kesenangan ini senilai dengan penderitaan

Got a long list of ex-lovers
Aku memiliki daftar panjang mantan pacar

They'll tell you I'm insane
Mereka akan memberitahumu bahwa aku gila

Cause you know I love the players
Karena kau tahu aku menyukai para hidung belang

And you love the game
Dan kau menyukai permainan ini

IV
Cause we're young and we're reckless
Karena kita masih muda dan tidak bertanggung jawab

We'll take this way too far
Kita kan membawa ini jauh sekali

It'll leave you breathless
Ini akan membuatmu terkejut

Or with a nasty scar
Atau miliki luka yang menjijikkan

Got a long list of ex-lovers
Aku punya daftar panjang mantan pacar

They'll tell you I'm insane
Mereka akan memberitahumu aku gila

But I've got a blank space baby
Tapi aku masih punya ruang kosong sayang

(click) And I'll write your name
(klik) Dan akan kutulis namamu

Cherry lips
Bibir merah delima

Crystal skies
Langit yang cerah

I could show you incredible things
Aku bisa menunjukkanmu hal-hal menakjubkan

Stolen kisses, pretty lies
Ciuman kejutan, dusta menyenangkan

You're the king baby I'm your queen
Kaulah rajanya sayang aku ratumu

Find out what you want
Temukanlah apa yang kau inginkan

Be that girl for a month
Jadilah gadis itu selama sebulan

Wait the worst is yet to come
Tunggulah hal terburuk akan terjadi

Oh no
Oh tidak

Screaming, crying, perfect storms
Menjerit, menangis, badai sempurna

I could make all the tables turn
Aku bisa mengubah keadaan

Rose garden filled with thorns
Taman mawar penuh duri

Keep you second guessing like oh my god
Membuatmu terus menerka-nerka

Who is she? I get drunk on jealousy
Siapakah gerangan dia? Aku kepayang dengan rasa cemburu

But you'll come back each time you leave
Tapi kau kan kembali tiap kali kau pergi

Cause darling I'm a nightmare dressed like a daydream
Karena kasih, aku adalah mimpi buruk yang berdandan bak lamunan

Back to III, IV

(2x)
Boy's only want love
Cowok hanya inginkan cinta

If it's torture
Jika menyiksa

Don't say I didn't say I didn't warn you
Jangan bilang aku tak memperingatkanmu

Back to III, IV

2/17/2015

Hamster

HAMSTER
Hamster adalah binatang sejenis hewan pengerat, terdapat berbagai jenis di dunia dan hampir ada di tiap negara. Bentuknya yang mini membuat hamster mudah untuk dibawa ke mana-mana dan tidak memerlukan kandang yang terlalu besar untuk merawatnya. Hamster termasuk ke dalam subfamili cricetinae. Subfamili ini terbagi ke dalam sekitar 18 spesies, yang diklasifikasikan ke dalam enam atau tujuh genus.

Hamster peliharaanku Berjenis HAMSTER WINTER WHITE.



                       ini bareng miko miki, mike


    Awalnya aku ngak ada niat mau melihara si, tapi si adik mau, jadi dibeli dech ...

Baru tau aku, hamster itu imut lucu. Tapi baunya minta ampun kalo ngak di bersihin kandangnya.
Hamster tergolong hewan yang aktiv di malam hari dan. MALAS di siang hari, oh ia dulu aku ngebeli hamster itu 2 pasang. Ngak disangka” dari 4 ekor bisa jadi 15 ekor, sebenarnya lebih si... tapi ya gitu mati. Bagi kalian yang berminat harus tau dulu karakteristik hewan peliharaan ini, hewan ini super agresif lo, makanya banyak, dan KANIBAL. Ya hamster termasuk hewan kanibal, karena dia akan memakan anaknya sendiri... disaat” tertentu?

Buat kalian yang pemula http://alcmuthya.blogspot.com/2015/02/memelihara-hamster-untuk-pemula.html

Nah buat kalian yang punya hamster yang lagi hamil klik dan buat persiapan melahirkan dan merawat bayinya http://alcmuthya.blogspot.com/2015/02/cara-merawat-hamster-melahirkan-dan.html





cara merawat hamster melahirkan dan bayinya


Cara Merawat Hamster Melahirkan

 

  1. Pisahkan yang jantannya untuk menghindari perkawinan lagi saat menyusui agar kandungan betina tetap bagus.
  2. Biarkan betina dan anak-anaknya ( betina akan menyusui bayi2nya).
  3. Berikan serbuk kayu atau potongan kain kecil-kecil ke dalam kandang. jika diberi pasir maka akan berisiko pada bayi2nya nanti. tapi ada juga yang diberi tissue kering untuk menghangatkan bayi2nya.
  4. Jangan di liatin karena membuat hamster yang melahirkan panik dan bayi2nya akan di makan atau di injak2.
  5. Kandang jangan di bersihkan sampai usia bayi2nya 3 minggu.
  6. Beri makan dan minum yg cukup, diutamakan biji bunga matahari(Kwaci).
7. Stelah hamsternya melahirkan jangan sekali-kali pisah induk hamster dengan anaknya, karena pasti anak hamster akan mati semua. why?? karena nggak ada yang menyusui tho
8. Jangan sering dilihat apalagi dipegang-pegang selama dua minggu hingga bayinya sudah tumbuh bulu, kalau ngak ntar anaknya bisa dimakan. Ada beberapa faktor kenapa si induk menjadi kanibal, biasanya itu dikarenakan bau manusia ditubuh siBayi, induknya setress karna suasana disekitarnya terlalu ramai oleh manusia atau binatang pemangsanya jadi pikirkan sedikit setting kandangnya, siinduk kelaperan jadi jangan sampai suplay makanannya habis, sianak lemah biasanya dikarnakan saat induknya hamil kekurangan gizi hal itu juga bisa jadi sebab ke-kanibalan terhadap hamster. Bila memang terpaksa harus memegang induk dan bayinya disarankan menggunakan sarung tangan supaya siinduknya tidak mencium bau manusia (netral), atau bisa juga menggunakan sendok makan.
9. Setelah si bayi berumur 3 minggu sudah boleh dipisahkan dengan ibunya. berikan jeda waktu sekitar 1-2 minggu agar si induk betina bisa beristirahat memulihkan staminanya. Setelah itu boleh dicampur lagi dengan pejantan dan mainannya juga boleh dimasukkan kedalam kandangnya. Tapi ingat jangan sekali-kali mencampur bayi yang berumur 3 minggu tersebut dengan kedua induknya sebab sipejantan bisa saja membunuh anak-anaknya dan memakannya. Biasanya setelah sibetina dicampur lagi dengan pejantannya, dia bakal hamil lagi dalam kisaran 2 minggu berikutnya.

Selanjutnya, bagaimana cara merawat bayi hamster yang baru melahirkan? dan apa yang harus anda lakukan?

cara merawat bayi hamster
1. Letakkan bayi hamster di tempat yang aman dan jauh dari keramaian serta tutupi kandang supaya terlihat gelap layaknya di lorong tikus. Hal ini perlu karena induk dan bayi yang baru lahir. memerlukan rasa aman dari gangguan. Karena memang habitat asli hamster adalah di tempat gelap.

2. Untuk tempat tidur bayi hamster, berilah serbuk kayu secukupnya atau tisu yang sudah disobek-sobek kecil. Hal ini untuk menjaga kehangatan kandang hamster.

3. Bayi Hamster sebaiknya di letakan pada alas kandang yang tidak berlubang-lubang(datar). Anda bisa menggunakan akuarium, untuk menjaga si bayi tidakterjatuh dan terjepit.

4. Hal lain yang harus diperhatikan adalah tentang kebersihan kandang. Kandang yang bersih sangat baik bagi hamster, layaknya manusia yang suka dengan tempat tinggal yang bersih. Tapi di masa 1 sampai 2 minggu setelah melahirkan, tidak usah membersihkan kandang hamster. Biarkan saja. Tunggu sampai sang induk dan juga bayi-bayinya siap menghadapi Anda.

sumber:
https://sobatkelinci.wordpress.com/hamster/cara-merawat-hamster-melahirkan/
http://vinayudittia.blogspot.com/2013/09/tips-cara-merawat-hamster-yang-baru.html

Memelihara Hamster untuk Pemula

 

Makanan Hamster
________________________________________________________________________
1. Beri makanan yang sesuai dengan hamster anda minimal 2 kali sehari. dan jangan terlalu banyak. Untuk mendapatkan makanan yang sesuai, bisa anda cari di beberapa supermarket atau bisa juga anda dapatkan di petshop. Makanan hamster yang baik adalah makanan yang kering. Kenapa? Karena sistem pencernaan hamster memang tidak mampu mencerna makanan yang terlalu lembab seperti jagung, wortel, ataupun sayur. Dan jangan memberikan makanan yang sama setiap hari. Bisa diselang seling. Beberapa merk makanan hamster yang tersedia di Indonesia seperti Hagen, Ultra Blend, Hartz, Vitakraft, Nutriblocks, Minimal Goods, XtraVital, dan Hamsfood.

2. Siapa yang tidak tahu kalau Hamster sangat menyukai biji bunga matahari. Mereka menganggap ini sebagai jajanan atau camilan. Namun jangan pernah memberi hamster anda biji bunga matahari atau kuaci terlalu banyak. Pemberian yang terlalu berlebihan justru akan berakibat buruk untuk hamster anda. Hamster sangat menyukai bii bunga matahari, bahkan mereka bisa terus memakannya hingga mereka mengalami kegemukkan atau obesitas. Ini karena biji bungan matahari memang memiliki kandungan lemak yang banyak untuk seekor hamster. Ini juga akan mengakibatkan kelainan saat proses melahirkan nanti. Tidak hanya itu, biji bunga matahari tidak memiliki kandungan kalsium sehingga hamster bisa saja kekurangan kalsium untuk pertumbuhan tulangnya.

3. Berikan hamster susu setiap hari dengan susu khusus hamster. Kebiasaan orang tidak ingin mengeluarkan uang lebih untuk hamsternya dan memilih memberikan susu yang diformulasikan khusus untuk manusia kepada hamsternya. Ini justru akan membuat bulu hamster itu cepat rontok dan menjadi tipis

4. Berikan hamster snack kesukaannya seminggu sekali. Tapi jangan sampai anda memberikannya setiap hari. karena memakan snack yang berlebihan akan membuat asupan gizinya tidak seimbang. Snack yang anda berikan juga jangan terlalu lembab. Snack yang baik seperti sereal, roti, kacang-kacangan, biskuit dan sebagainya

5. Sebenarnya, hamster mengambil minuman dari sayur-sayuran yang mereka makan. Namun terkadang kita tidak sempat memberi hamster kesayangan kita sayuran. Oleh karena itu, sebagai solusinya berikanlah minuman didalam botol minuman yang bersih dan didesain khusus untuk hamster. Selain itu air yang diberikan juga harus dimasak terlebih dahulu agar kuman-kumannya mati.

Kebersihan Hamster

__________________________________________________________________________
1. Jangan pernah memandikan hamster, karena sebenarnya hamster ini hewan padang pasir. Kalau terpaksa memandikannya cukup dengan membasuh atau melap hamster itu dan jangan sampai tubuhnya basah. Lagipula, sebenarnya hamster itu seperti kucing, memiliki cara tersendiri untuk membersihkan tubuh mereka tanpa harus kita bersihkan.

2. Bersihkan kandang atau tempat tinggal mereka paling tidak seminggu sekali. Untuk membuatnya nyaman dan hangat anda bisa memberikan sobekkan kertas ataupun serbuk kayu dilantai kandangnya.



sumber : http://www.caramerawat.net 

http://hamsker.blogspot.com/2012/12/cara-merawat-hamster-dengan-baik-dan.html

10/22/2014

MAKALAH TENTANG SIKAP


PSIKOLOGI SOSIAL TENTANG SIKAP

                                    BAB I
                             PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang unik karena memilki perbedaan dengan individu lainnya. Sikap (attitude) merupakan konsep paling penting dalam psikologi sosial yang membahas unsur sikap baik sebagai individu maupun kelompok. Banyak kajian dilakukan untuk merumuskan pengertian  sikap, proses terbentuknya sikap, maupun perubahan. Banyak pula penelitian telah dilakukan terhadap sikap kaitannya denganefek dan perannya dalam pembentukan karakter dan sistem hubungan antarkelompok.
Banyak sosiolog dan psikolog memberi batasan bahwa sikap merupakan kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, posotitif atau negative terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya (Howard dan Kendler, 1974;Gerungan, 2000).
Oleh karena itu kami akan membahas lebih spesifik lagi mengenai sikap.  Untuk itu Dalam makalah ini penulis akan menguraikan mengenai pengertian sikap, proses dan komponen sikap, faktor – faktor yang mempengaruhi sikap, teori- teori tentang  sikapdan hubungan sikap dengan perilaku.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Pengertian Sikap
2.      Proses dan komponen Sikap
3.      Faktor- faktor yang mempengaruhi sikap
4.      Fungsi Sikap
5.      Hubungan sikap dengan Perilaku
6.      Persuasi dan Perubahan Sikap

1.3  Tujuan
2.      Mengetahui Pengertian Sikap
3.      Mengetahui Proses dan Komponen Sikap
4.      Mengetahui Faktor- faktor yang mempengaruhi sikap
5.      Mengetahui dan mengakaji teori tentang sikap
6.      Mengetahui korelasi sikap dengan perilaku.

                           BAB II
                     PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Sikap
Dibawah ini pengertian Sikap Menurut para Ahli:
1.      Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif  (ravorably) atau secara negatif (untavorably) terhadap obyek - obyek tertentu.
2.      D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999) berpendapat bahwa sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional , emosional, perseptual, dan kognitif mengenai aspek dunia individu.
3.      La Pierre (dalam Azwar, 2003) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku , tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan
4.      Soetarno (1994), sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.
5.      Sumber di www. wikipedia.org menjelaskan sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu.
6.      Menunit G.W Alport dalam (Tri Rusmi Widayatun, 1999 :218) sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak.
7.      Tri Rusmi Widayatun memberikan pengertian sikap adalah “keadaan mental dan syaraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya.
8.      Jalaluddin Rakhmat ( 1992 : 39 ) mengemukakan lima pengertian sikap, yaitu:
•         sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok.
•         sikap mempunyai daya penolong atau motivasi. Sikap bukan sekedar rekaman masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro atau kontra terhadap sesuatu; menentukan apa yang disukai, diharapkan, dan diinginkan,mengesampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari.
•         sikap lebih menetap. Berbagai studi menunjukkan sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami pembahan.
•         sikap mengandung aspek evaluatif: artinya mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan.
•         sikap timbul dari pengalaman: tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah.
9.      Sri Utami Rahayuningsih (2008) Sikap (Attitude) adalah:
1)      Berorientasi kepada respon : : sikap adalah suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (Unfavourable) pada suatu objek.
2)      Berorientasi kepada kesiapan respon : sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon suatu pola perilaku, tendenasi atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri dari situasi sosial yang telah terkondisikan
3)      Berorientasi kepada skema triadic : sikap merupakan konstelasi komponen-komponenkognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek di lingkungan sekitarnya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.

2.2  Proses dan Komponen Sikap
Terdapat tiga komponen sikap, tiga komponen sikap itu adalah komponen respons evaluative kognitif, komponen respons evaluative afektif, dan komponen respons evaluative perilaku. Ketiga komponen itu secara bersama merupakan penentu bagi jumlah keseluruhan sikap seseorang ( Manstead, 1996; Strickland, 2001)
a.      Komponen Respons evaluative kognitif
Gambaran tentang cara seseorang dalam mempersepsi objek, peristiwa atau situasi sebagai sasaran sikap. Komponen ini adalah pikiran, keyakinan atau ide seseorang tentang suatu objek. Dalam bentuk yang paling sederhana, komponen kognitif adalah kategori-kategori yang digunakan dalam berpikir.
Aspek sikap yang berkenaan dengan penilaian individu terhadap obyek atau subyek. Informasi yang masuk ke dalam otak manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia. Nilai – nilai baru yang diyakini benar, baik, indah, dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif dari sikap individu.
b.      Komponen Respons evaluative afektif
Adalah perasaan atau emosi yang dihubungkan dengan suatu objek sikap. Perasaan atau emosi meliputi kecemasan, kasihan, benci, marah, cemburu,atau suka. Dinegara Amerika Serikat, kemungkinan berpindahnya oaring kulit hitam ke daerah perumahan orang kulit putih dapat menimbulkan rasa cemas banyak warga kulit putih.
c.       Komponen Respons evaluative perilaku
Adalah tendensi untuk berperilaku pada cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Dalam hal ini, tekanan lebih pada tendensi untuk berperilaku dan bukan pada perilaku secara terbuka. Misalnya, orang melakukan tendensi untuk melakukan tindakan diskriminatif terhadap anggota dari sekelompok etnis tertentu, namun karena tindakan itu secara social dan legal dilarang, maka ia tidak melakukannya. Berkenaan dengan keinginan individu untuk melakukan perbuatan sesuai dengan keyakinandan keinginannya.
Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau negatif. Manifestasikan sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau subyek. Komponen sikap berkaitan satu dengan yang lainnya. Dari manapun kita memulai dalam analisis sikap, ketiga komponen tersebut tetap dalam ikatan satu sistem.
komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak merupakan suatu kesatuan sistem, sehingga tidak dapat dilepas satu dengan lainnya. Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap  dan Ketiga komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak secara bersama- sama membentuk sikap.

2.3  Fungsi Sikap
Katz (Luthans, 1955) menjelaskan empat fungsi sikap, keempat fungsi sikap itu adalah fungsi penyesuaian diri, fungsi pertahanan diri, fungsi ekspresi nilai, dan fungsi pengetahuan.
Fungsi penyesuaian diri berarti bahwa orang cenderung mengembangkan sikap yang akan membantu untuk mencapai tujuan secara maksimal. Sebagai contoh, seseorang cenderung menyukai partai politik yang mampu memenuhi dan mewakili aspirasi-aspirasinya. Di Negara Inggris dan Astralia, seorang pengangguran akan cenderung memilih partai buruh yang kemungkinan besar dapat membuka lapangan pekerjaan baru atau member tunjangan lebih besar.
Fungsi pertahanan diri mengacu pada pengertian bahwa sikap dapat melindungi seseorang dari keharusan untuk mengakui kenyataan tentang dirinya. Sebagai contoh fungsi ini adalah perilaku proyeksi. Proyeksi adalah atribusi cirri-ciri yang tidak diakui oleh diri seorang dalam dirinya kepada orang lain. Melalui proyeksi, ia seakan-akan tidak akan memiliki cirri-ciri itu.
Fungsi ekspresi nilai berarti bahwa sikap membantu ekspresi positive nilai-nilai dasar seseorang , memamerkan citra dirinya , dan aktualisasi diri. Si Fithra mungkin memiliki citra diri sebagai seorang “ Konsevative” yang hal itu akan mempengaruhi sikapnya tentang demikrasi atau sikapnya tentang perubahan social.
Fungsi pengetahuan berarti bahwa sikap membantu seseoarang menetapkan standar evaluasi terhadap sesuatu hal. Standar itu menggambarkan keteraturan, kejelasan, dan stabilitas kerangka acu pribadi seseoarang dalam menghadapi objek atau peristiwa disekelilingnya. Contoh fungsi pengetahuan sikap misalnya adalah pemilik sepeda motor akan mengubah sikap positif terhadap sepeda motor seiring dengan peningkatan status sosialnya. Ia sekarang emutuskan untuk membeli mobil karena ia yakin bahwa mobil lebih sesuai dengan status sosialnya yang baru, yaitu sebagai manager tingkat menengah sebuah perusahaan level menengah.

2.4  Proses Pembentukan dan Perubahan Sikap
Sikapa dapat terbetuk atau berubah melalui empat macam:
a)      Adopsi
Kejadian- kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap kedalam diri individu dan memengaruhi terbentuknya suatu sikap.
b)      Diferensiasi
Dengan berkem bangnya intelegensi, bertambahnya pengalaman, sejalan dengan bertambahnya usia, maka ada hal-hal yang tadinya dianggap sejenis, sekarang dipandang tersendiri lepas dari jenisnya. Terhadap objek tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri pula.
c)      Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tentu sehingga akhirnya terbentuk sikap menegenal hal tersebut.
d)     Trauma
Trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman –pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan terbentuknya sikap.

2.5  Faktor- Faktor yang mempengaruhi Sikap
 Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap
1) Faktor intern: yaitu manusia itu sendiri.
2) Faktor ekstern: yaitu faktor manusia.
Dalam hal ini Sherif mengemukakan bahwa sikap itu dapat diubah atau dibentuk apabila:
a. Terdapat hubungan timbal balik yang langsung antara manusia.
b. Adanya komunikasi (yaitu hubungan langsung) dan satu pihak.
a)      Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komoponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang dianggap penting, seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak, tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita akan mempengaruhi pembentkan sikap kita terhadap sesuatu. Contoh : Orang tua, teman sebaya, teman dekat, guru, istri, suami dan lain-lain.
b)      Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.
c)      Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
d)     Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam arti individu.
e)      Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang sesuatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

2.6  Hubungan sikap dengan perilaku
Sikap yang dilakukan oleh setiap individu sangatlah berpengaruh terhadap perilaku individu. Pengaruh tersebut terletak pada individu sendiri terhadap respon yang ditangkap ,kecenderungan individu untuk melakukan tindakan dipengaruhi oleh berbagai faktor bawaan dan lingkungan sehingga menimbulkan tingkah laku.
•         Pembentukan perilaku
     Pembentukan perilaku dengan konsidioning atau kebiasaan, Cara ini didasarkan atas teori belajar konsidioning yang dikemukakan oleh Pavlov, Thorndike dan Skinner. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akan terbentuklah perilaku tersebut.
Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight). Disamping pembentukan perilaku dengan kondisioning, pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian (insight). Cara ini berdasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu belajar yang disertai dengan adanya pengertian, seperti yang dikemukakan Kohler.
Pembentukan perilaku dengan menggunakan model atau contoh. Jadi, perilaku itu dibentuk dengan cara menggunakan model atau contoh yang kemudian perilaku dari model tersebut ditiru oleh individu. Hal ini didasarkan atas teori belajar sosial (sosial learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura

•         Konsistensi Sikap dan Perilaku
         Sikap dan perilaku sering dikatakan berkaitan erat, dan hasil penelitian juga memperlihatkan adanya hubungan yang kuat antara sikap dan perilaku. Salah satu teori yang bias menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen. Menurut mereka, antara sikap dan perilaku terdapat satu faktor psikologis yang harus ada agar keduanya konsisten, yaitu niat (intention). Worchel dan Cooper (1983) menyimpulkan sikap dan perilaku bias konsisten apabila ada kondisi sebagai berikut:
•         Spesifikasi sikap dan perilaku
•         Relevansi sikap terhadap perilaku
•          Tekanan normatif
•           Pengalaman

                           BAB III
                        PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.
Proses sikap terdiri dari 3 komponen yaitu komponen kognitif, afektif dan kecenderungan untuk bertindak, komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak merupakan suatu kesatuan sistem, sehingga tidak dapat dilepas satu dengan lainnya. Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap dan Ketiga komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak secara bersama- sama membentuk sikap.
Fungsi sikap diantaranya yaitu:
•         Fungsi penyesuaian diri
•         Fungsi pertahanan
•         Fungsi ekspresi
•         Fungsi pengatahuan
Adapun sikap dapat terbentuk atau berubah melalui empat macam cara yaitu:
•         Adopsi
•         Diferensiasi
•         Integrasi
•         Trauma
Sikap yang dilakukan oleh setiap individu sangatlah berpengaruh terhadap perilaku individu. Pengaruh tersebut terletak pada individu sendiri terhadap respon yang ditangkap ,kecenderungan individu untuk melakukan tindakan dipengaruhi oleh berbagai faktor bawaan dan lingkungan sehingga menimbulkan tingkah laku.

B.     SARAN
Semoga dengan adanya makalah ini yang membahas tentang sikap bisa lebih mengontrol sikap yang ada dalam diri kita sendiri dan lebih memahami karakter diri sendiri untuk menjadi diri yang lebih baik lagi dari sebelumnya.


                    DAFTAR PUSTAKA

 H. Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Anonim a. 2008. Faktor – Faktor yang mempengaruhi sikap ( Online ) http: // www. Sikap. Com,diakses 7 April 2010
Sri Utami Rahayuningsih . 2008. Sikap ( Attitude ) (Online ) http:// www. Atttitude,blogspot. Com, diakses 7 April 2010
Fitri. 2008. Pengertian Sikap (Online ) http:// Blog dunia Psikologi. Com, diakses 7 April  2010
Hanurawan Fattah. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Bandung :Rosada
Sarwono Sarlito. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta : Rajawali Pers